BALLERINA SECRET LOVE

BALLERINA SECRET LOVE
Part 117. Back to NYC


__ADS_3

Jadi sekarang yang kulakukan adalah menikmati dirawat oleh Franco. Dia manis, hampir memperlakukanku seperti anak kecil, memastikan aku bahagia di rumahnya.


"Kenapa kau manis sekali,..." Kali ini dia membawa terlalu banyak makanan, nampaknya aku akan kesulitan menurunkan berat badan nanti.


"Aku sedang bahagia karena kekasihku ada di rumahku." Dia memeluk dan menciumku, membuatku tersipu-sipu sendiri menangapinya. Sudah kubilang dia manis. "Apa kata dokter?"


"Dia bilang aku boleh belajar menggunakan berjalan besok. Aku akan ke rumah sakit bersama Matilda besok ke faselitas dokter rehabitasi." Rupanya di sini aku sudah dianjurkan berjalan setelah satu minggu, dokter bilang aku bisa pulih seperti sedia kala, itu membuatku bersemangat.


"Oh ya teman-teman mau menjenguk besok malam boleh bukan."


"Tentu saja. Anggap ini rumahmu sendiri."Anggap ini rumahmu sendiri? Masih terlalu dini untuk itu.


"Kenapa kau diam. Apa kau tak percaya kalimat itu?"


"Aku tak tahu." Dia menghela napas.


"Umurku 41, jika aku membawamu ke sini berarti kau boleh ke sini kapanpun kau mau. Tinggal di sini kapanpun kau ingin, boleh tidur di manapun kau suka." Aku tersenyum kecil.


"Baiklah." Tidur di manapun aku suka, selama aku di sini aku belum pernah ke kamarnya. Dia membiarkanku hidup damai di sini beberapa hari ini tanpa rayuan.

__ADS_1


"Sekarang kenapa kau tersenyum begitu."


"Dimana kamarmu?" Sekarang ganti dia yang tersenyum dan sekarang memeluk pinggangku.


"Kau ingin pindah? Boleh sekali, kamarku di lantai dua."


"Aku tak bisa naik ke sana."


\=\=\=\=\= 500


"Itu gampang." Tanpa kusangka dia tiba-tiba mengendongku.


"Membawamu ke atas, jangan ribut, kau mau Matilda bangun dan menemukan kita bermesraan dengan ribut, ini memalukan." Aku tertawa dan menyembunyikan wajahku di lehernya. Dadaku masih berdebar untuk momen manis seperti ini.


Setelah menaiki tangga, ami tiba di sebuah kamar, dia memapahku dan aku membuka pintunya.


"Terasa seperti pengantin baru bukan."


"Kau memang berpikir terlalu jauh." Aku bebas tertawa sekarang. Aku melihat kamarnya, sebuah kamar dengan dominasi abu-abu yang elegant dengan garis desain minimalis.

__ADS_1


Dia menurunkanku dan aku tak bisa menahan diri untuk membawanya jatuh bersamaku. Segera cium*an dan sentuhan yang kurindukan menguasaiku.


"Kenapa terlalu jauh. Bukankah itu akan terjadi nanti?" Jeda ciuman itu dimanfaatkannya untuk membuat pertanyaan romantis. "Kau merindukanku?"


"Ehmmm..." Kujawab dengan ciuman saja, aku menyukai berada dalam pelukannya.


"Jika aku menyakitimu katakan padaku." Aku menempel padanya miring berdampingan, sementara lengan dan kakiku masih sedikit sakit jika di gerakkan berlebihan. "Kau belum menjawab pertanyaanku, bukankah itu akan terjadi nanti?"


"Iya, banyak hal yang akan terjadi di depan tentu saja." Jika tidak pun tak apa. Aku sudah mendapatkan saat-saat yang luar biasa bersamanya. Tak ada yang perlu di sesali.


"Apa kau bahagia bersamaku?"


"Sangat... kau yang terbaik yang pernah terjadi untukku" Aku bersungguh-sungguh untuk bagian itu. Aku menatap matanya sesaat, saat ini aku yakin dengan jawabanku lebih dari apapun.


"Tetaplah bersamaku, hanya itu yang kuminta darimu."


Saat mata kami bertemu dan aku mendengar permintaannya, aku tahu dia juga bersungguh-sungguh.


Kupu-kupu selalu ingin terbang mengepakkan sayapnya tapi apa hujan tak akan turun menghancurkan sayapnya dan membuatnya mati. Mungkin hanya takdir yang punya jawabannya ...

__ADS_1


__ADS_2