BALLERINA SECRET LOVE

BALLERINA SECRET LOVE
Part 15. Can't Wait


__ADS_3

Aku dengan enggan memasuki ruangan latihan, kekecewaan membuatku merasa semua yang aku usahakan sia-sia, rasanya aku ingin berhenti saja. Untuk apa aku memperjuangkan hal yang jelas seperti mustahil tergapai.


Idealisme? Passion? Itu akan membuatku menyesal tak mengusahakan yang terbaik untuk Ibuku.


"Ada apa?" Nicholai melihatku dengan muka pucatku memasuki ruangan. Langkah pelanku mencerminkan hatiku yang remuk redam.


"Tak apa." Aku menghindarinya dan mulai dengan gerakan pemanasanku. Untuk saat ini bagaimanapun aku belum bisa mundur, masih ada hutang pementasan.


"Tak apa?" Dia datang ke depanku dengan wajah tak percaya.

__ADS_1


"Tak apa." Aku membalasnya dengan senyum datar. Aku berbalik dan tidak ingin membicarakannya.


"Tak apamu itu jelas kebohongan. Kau baik-baik saja? Apa sebenarnya yang terjadi. Bicara padaku? Apa ada sesuatu yang bisa kubantu." Dia menangkap lenganku, memutar dan menghadapkanku lagi padanya, aku sebenarnya tak perduli dengan pertanyaan Nicholai. Apa yang bisa dia lakukan, dia sudah berbuat baik padaku, ini adalah masalah aku yang tidak cukup beruntung, tak cukup baik, tak cukup cantik.


Saat ini aku benar patah semangat, aku jelas mempertanyakan jalan yang kupilih sekarang, apa aku harus tetap di sini atau memilih jalan lain, tapi aku belum bisa berpikir. Lagipula masih ada pementasan yang harus kulalui, jadi aku membiarkan diriku mati rasa begini.


"Mungkin akan ada kesempatan berikutnya." Dia mencoba menghiburku seperti Nicole. "Gagal sekarang bukan berarti mereka tak mempertimbangkanmu, buktinya kemarim saat aku memilihmu jadi pasangan tariku, Philippe bilang kau adalah salah satu first soloist terbaik yang mereka miliki. Jangan putus asa dulu."


"Iya, mungkin ada kesempatan lain di depan. Aku tak apa." Aku hanya mengiyakannya saja.

__ADS_1


Dalam dua minggu ke depan dia akan kembali ke Bolshoi, aku harus berterima kasih atas kesempatan yang dia berikan untuk tampil bersamanya, mungkin ini kali pertama dan terakhir aku bisa merasakan tampil dengan begitu banyak pasang mata yang menatapku.


"Jangan terlalu kecewa, ada kesempatan lain di depan." Dia masih berusaha meningkatkan semangatku. Aku tak menjawabnya hanya tersenyum. "Tak apa bukan menunggu dua atau tiga tahun sekalipun." Aku tertawa miris mendengar apa yang di ucapkan, semangkin merasa apa yang di ucapkan Ashley benar bahwa tak ada gunanya aku bertahan di sini.


"Iya baiklah, ayo kita latihan saja. Kau mau melatih variasi yang kau bilang, kita perlu bicara ke penata musik?" Aku tak menanggapinya, dia hanya orang luar yang tak tahu bagiamana kondisiku.


"Memangnya kenapa kalau menunggu? Kau sudah berjuang sejak umur 5 tahun apa 1x kekecewaan membuatmu sampai pesimis begini." Dia mengejarku tahu bahwa aku mengabaikan kata-katanya.


"Nicholai, jika aku punya dua, tiga, atau empat tahun aku akan menunggu. Tapi mungkin aku tak punya waktu. Ibuku sakit, setiap bulan aku mungkin tak punya sisa uang di tanganku. Jika aku tak punya kondisi ini mungkin aku bisa menunggu seperti katamu. Tapi tiga tahun, emoat tahun, entah apa yang akan terjadi jika aku menghadapi kondisi darurat tapi aku tak punya uang sama sekali, sekarang kau mengerti kenapa aku tak bisa menunggu."

__ADS_1


__ADS_2