
Nicholai melihatku seusai perundingan melelahkan itu berakhir. Sementara Francoise sedang mengatur sesuatu dengan orang CIA yang dikirim Thomas.
"Tak kusangka kau pintar sekali berakting." Aku meringis dengan komentarnya.
"Aku tak punya pilihan maafkan aku. Jika aku tak bekerja sama aku diancam lima tahun penjara minimal."
"Aku memang yang tak jeli. Kau yang menang bisa menipuku." Percakapan absurd yang membuatku tak tahu bagaimana harus menanggapinya, iya aku menipunya. Aku merasa bersalah jika harus ketahuan tentu saja, dia pernah menolongku di sàat sulit, tapi itu sudah terjadi aku tak bisa berdiri di dua sisi.
"Apa kau akan baik-baik saja?"
"Apa maksudmu aku akan baik-baik saja."
"Apa kau akan dibunuh karena gagal menjalankan tugas."
"Kau terlalu banyak menonton film Hollywood." Kata-katanya membuatku menghela napas lega. Aku tertawa mendengar kata-katanya. Yang penting nyawanya tidak terancam itu sudah cukup.
"Syukurlah. Aku takut kau akan dibunuh." Bagaimanapun kau memang sangat baik padaku. Jika kau akan dibunuh aku akan meminta suaka untukmu. Kau harus mengatakannya padaku. Aku akan memaksa boss dan Francoise bagaimanapun caranya, kau bisa menari di sini." Sekarang dia tertawa mendengar kata-kataku.
"Kau benar-benar naif heh. Ya baiklah, idemu boleh juga. Nanti jika aku perlu suaka aku akan menghubungimu." Dia bisa tersenyum padaku, aku merasa sedikit lega. "Kau bisa lolos dari hukuman spionase, yang meloloskanmu Francoise itu bukan."
__ADS_1
"Iya."
"Dia ternyata benar jatuh cinta padamu?"
"Tidak, dia hanya baik padaku karena kasihan pada Ibuku tidak ada yang merawat, tidak ada apa-apa diantara kami selain rekan kerja dan teman."
"Teman tidur." Semua orang akan mengatakan hal yang sama.
"Bukan, teman benar-benar hanya teman. Setelah tugas itu aku tidak tidur dengannya, dia menolongku seakan aku adik kesayangannya." Aku menjelaskannya seakan itu hal yang normal.
"Itu tidak normal. Kenapa ada orang yang begitu baik padamu. Kurasa kau benar mirip kekasihnya yang meninggal, hanya saja dia tidak mengatakannya padamu. Dia mulai membuat hipotesa sendiri.
"Tentu saja, jika tidak bagaimana aku akan memainkan sandiwara yang kalian minta. Penerbanganku ke sana dua jam lagi."
"Baiklah, jika ada kesulitan kau bisa menghubungi atau Francoise dia akan menyampaikannya ke atasan."
"Iya aku tahu. Kau bekerja di sini? Sudah menari pole dancer?"
"Iya, gajinya lebih bagus dari soloist. Banyak tip tiap malamnya, orang-orang kaya di NY dan LA loyal." Aku meringis lebar mulai bercerita seperti biasa dengannya.
__ADS_1
"Baguslah jika begitu. Semoga kau dapat lebih banyak lagi untuk Ibumu."
"Sara ayo pergi." Francoise selesai mengatur pengeluaran Nicholai dari imigrasi, sebenarnya orang Thomas yang melakukannya.
"Aku pergi. Jaga dirimu oke." Setelah ini selesai kami mungkin bisa bersahabat lagi seperti dulu.
"Kau juga. Jaga dirimu." Aku melambai padanya.
"Ingat, kau masih punya yang harus dilakukan." Francoise memperingatkannya lagi.
"Aku tahu aku akan melapor padamu nanti."
Kami pergi kemudian.
"Apa yang dikatakannya padamu."Francoise langsung panasaran.
"Tidak hanya saling bertanya kabar saja."
"Hanya itu?"
__ADS_1
"Aku bilang aku akan mengusahakan suaka untuknya jika dia merasa terancam di Rusia. Bagaimana jika seperti di film-film karena gagal menjalankan tugasnya dia dibunuh."