BALLERINA SECRET LOVE

BALLERINA SECRET LOVE
Part 8. Patreon 2


__ADS_3

Dia menatapku kembali saat selesai bicara dengan Nicholai.


"Apa Nona Sara principal baru? Saya mengenal semua principal NYC?"


"Ah bukan, dia first soloist, kali ini kami memang memberi kesempatan kepada first soloist, untuk berpartisipasi." Director kami menjelaskan padanya. Sementara aku merasakan pandangan tajam orang ini menyapu kulitku. Dan mulai berpikir apa dia benar-benar punya fetish rok tutu, benarkah semua pacarnya adalah balerina.



Dia sepertinya bangsat yang memanfaatkan wanita. Tapi dia punya uang banyak. Tak heran bintang-bintang principal itu menyerah padanya. Rasanya aku merasakan ketidakadilan dunia. Para principal balerina itu menjadikannya "donatur pribadi", aku tak pernah ingin menaruh harga diriku begitu rendah di hadapan pria, dengan orang seperti itu, mereka hanya melihat kami sebagai objek. Jika pria seperti itu menikah, mungkin dengan wanita yang punya asset yang sebanding juga dengannya.


Bukan dengan seseorang yang terlalu mudah ...


"Pantas saja aku merasa belum pernah berkenalan denganmu."


"Saya mendapat keberuntungan untuk bekerja sama dengan Tuan Nicholai di produksi ini. Kehormatan bertemu dengan Anda Tuan Francois." Dunia ini tunduk kepada kapitalis, aku tetap harus bersikap ramah kepada donatur walau dia tak punya hati seputih sayap malaikat.


"Selamat untuk perannya. Kau sekolah dimana sebelumnya?"


"Aku di SAB." Dia mengangguk mendengar jawabanku, sosoknya yang nampaknya diliputi dengan aura berbahaya yang membuatku merasa tidak nyaman. Kenapa orang punya aura seperti itu, entah, mungkin hanya perasaanku.


*SAB (School of American Ballet)

__ADS_1


"SAB, dulu aku juga alumni di sana."


"Anda seorang penari Sir?" Sekarang dia membuatku terkejut. Dia juga punya latar belakang penari.


"Hanya sebentar, aku tak bisa menari lagi sebelum lulus. Jika tidak mungkin aku sudah jadi penari sekarang."


"Pantas saja Anda jadi donatur, Anda tahu perjuangan penari seperti kami." Aku tersenyum padanya sekarang, pikiranku dia punya fetish rok tutu sedikit terhapus. Dia tahu apa itu dunia penari, jadi mungkin dia hanya semacam mengerti kami yang bekerja di sini tidak seglamor kelihatannya.


Mungkin dia kencan dengan penari simple karena dia menyukai mereka.


"Aku tahu tentu saja." Dia sedikit tersenyum, ekspresi seriusnya sedikit terhapus. "Kalau begitu, selamat berlatih, aku akan datang ke penampilan perdanamu."


Sosok itu pergi setelah perkenalan singkat itu. Nicholai menatap punggungnya dengan intens, seakan dia membencinya.


"Kenapa kau?"


"Orang kaya." Dia mendengus.


"Kau punya keluhan soal orang kaya. Rusia sudah kapitalis bukan sosialis lagi bukan." Aku meringis padanya.


"Hmm... tidak." Wajahnya kelihatan tidak suka sama sekali ke sosok yang menghilang di balik pintu itu. "Nampaknya dia menyukaimu."

__ADS_1


"Dia menyukaiku? Benarkah?" Aku tertawa.


"Pria seperti itu tahu bagaimana memanfaatkan uangnya dengan baik." Dia membuatku tertawa.


"Ya mungkin. Tapi bukan urusanku, karena aku tak tertarik terlibat dan jadi salah satu selirnya." Dia melihatku dengan skeptis.


"Kau tak ingin jadi kekasihnya? Bukankah wanita suka dengan semua kenyamanan."


"Iya, tapi jelas tak usah merendahkan diri seperti itu." Ganti dia yang tertawa.


"Bagaimana jika dia merayumu?"


"Kalau begitu dia harus berusaha keras, merayuku jelas tak akan mudah." Nicholai tertawa dengan kata-kataku yang penuh tekad.


"Wow ada yang jual mahal."


"Aku memang bukan barang murahan."


"Bagus...bagus, aku suka prinsipmu."


Ibu membesarkanku seorang diri, di duniaku tidak ada cerita Cinderela. Jelas Francois bukan pangeran berkuda putih. Lebih terlihat sebagai tentara perampok yang akan memporakporandakan hati.

__ADS_1


__ADS_2