BALLERINA SECRET LOVE

BALLERINA SECRET LOVE
Part 86. Sara Thought


__ADS_3

POV Sara.


"Phillipe tiba-tiba memintaku ikut tour audisi di bagian tengah. Aku berangkat Senin pagi, kita nampaknya tidak bisa bertemu." Matthew mengabarkan ke Sara bahwa dia akan pergi.


"Oh berapa lama?"


"Sekitar dua minggu. Aku tak bisa membantah tentu saja, dia sudah memberikan banyak bantuan pada karierku."


"Ahh iya, tak apa, aku dua minggu lagi, akan ke Antiqu, kita bisa makan malam setelah kau kembali."


"Iya aku berharap begitu, sudah lama kita tidak melewatkan waktu berdua." Aku tersenyum begitu mendengar kata-katanya.


"Iya, aku akan menunggu kau kembali." Matthew memang baik, kenyataan dia mendekatiku kembali saat dia sudah mencapai posisi principal membuatku tersanjung, doa bisa mencapai siapapun tapi dia mencariku.


"Kalau begitu nanti aku akan menelepommu lagi oke. Aku harus melatih trainee yang baru masuk sekarang."

__ADS_1


"Iya baiklah. Nanti teleponlah lagi jika kau sudah lowong."


"Iya baiklah."


Tak jadi berkencan dengan Matthew, itu agak mengecewakan padahal aku menantikannya. Kenapa mendadak sekali. Padahal biasanya Philippe untuk audisi seperti ini memilih dari principal senior dan pelatih kenapa malah Matthew yang ditunjuk.


Ya sudahlah seperti kata Matthew, Philippe sudah banyak membantunya, jadi dia menuruti perintahnya tanpa pertanyaan. Si bangsat Francoise itu pasti senang mendengar ini.


Tunggu dulu apa dia yang mengatur ini?! Tidak mungkin bukan, aku sudah menganti hari makan malam kami ke Selasa. Dia tak mungkin mengatur jadwal Matthew ke bukan?


Tapi dia tidak berusaha meneleponku lagi.


Tapi tidak ada tanda kalau dia tahu Matthew harus ke luar kota. Kurasa dia tidak terlibat bukan, aku menunggu sampai Senin siang dia tidak juga mencoba mengajakku makan malam, bahkan membataĺkan janji hari Selasa. Aku tidak jadi mencurigainya, nampaknya bukan dia alasan Philippe menariknya ke tour audisi


'Ķau mau makan malam? Matthew membatalkan makan malam kami.' Akhirnya aku menawarinya jadwal makan malam kami yang biasa. Mungkin dia tidak mau, tak apa pikirku.

__ADS_1


"Oh baiklah, aku bertemu denganmu di mana?' Ternyata dia mau kupikir dia tak mau. Dia tak tersinggung rupanya.


"Di tempat biasa. Restoran italia yang biasa.'


'Baiklah. Kalau begitu, kita bertemu di sana seperti biasa.' Dan dia setuju menganti hari pertemuan di saat terakhir saag aku memintanya.


Kami bertemu kemudian.


"Sayang sekali kencanmu dibatalkan?" Dia tersenyum kecil padaku. Aku tak menjawabnya lama, meneliti ekspresinya.


"Kenapa memangnya apa kau senang kencanku dibatalkan?" Dia diam. Tak menjawabku lama sehingga aku penasaran. "Kenapa kau tak menjawab?" Aku bertopang dagu melihatnya."


"Aku tak tahu bagaimana menjawab pertanyaanmu, jadi saat ini aku tak akan menjawabnya dulu. Kita makan saja bagaimana." Jawaban yang aneh, jadi dia memang tersinggung aku membatalkan kencan kami.


"Hmm kau harusnya bahagia aku punya kencan, jangan tersinggung aku memindahkan hari makan malamnya, bukankah kau temanku, aku bahadia kau juga harusnya bahagia. Kenapa kau tak pergi melihat Maureen."

__ADS_1


"Aku tak punya hubungan lagi dengan dia." Ternyata dja sudah mencoret Maureen dari list teman baik.


"Oh, kau sudah bosan dengannya?"


__ADS_2