
"Kenapa memangnya?"
"Profesiku sekarang adalah pole dancer, dan kau Direktur perusahaan kontraktor militer, kita sama? Kita di dunia yang berbeda, aku di kerak bumi kau di langit." Aku mengatakannya dengan tertawa, itu kenyataan yang sudah aku terima dengan baik.
"Aku tidak memandangnya begitu."
"Kau memang baik padaku. Aku tahu kau tidak pernah merendahkan profesiku tapi bagi orang lain itu perbandingannya." Siapa lagi yang bisa mendapatkan kencan tak normal dengan dengan direktur ini seminggu sekali. Bahkan teman baiknyapun tak punya keistimewaan sepertiku. Aku memang beruntung. Tapi tetap saja di luar semua kelakuan baik hatinya kami hanya teman.
"Jika orang lain memandang begitu, itu terserah mereka tapi aku tidak begitu." Dia menegaskan posisi teman kami yang unik lagi, aku rasa ini akan hanya sampai dia punya kekasih yang benar-benar cocok dengannya.
"Iya aku tahu kau tidak begitu tenang saja. Makanan kita sudah datang ayo makan."
"Jadi kau dan Nicholai benar-benar tak tidur bersama?" Dia minta kejelasan lagi, astaga berapa kali harus kukatakan padanya.
__ADS_1
"Astaga, Francoise berapa kali aku harus mengatakan padamu kami hanya partner tari, saat di NYC Ballet satu-satunya yang punya hubungan begitu denganku hanya Matthew."
"Siapa Matthew?" Wajah terganggunya mulai diperlihatkannya lagi. Tapi dia sering menceritakan wanita-wanitanya padaku, harusnya aku boleh menceritakan teman baikku juga bukan.
"Dia sahabatku, teman mesraku. Hanya bedanya kami sahabat, bukan kau yang hanya teman di saat-saat baik."
"Sampai sekarang?" Nampaknya dia merasa perlu tahu secara detail semua ceritanya.
"Tentu saja tidak, aku sudah tidak disana lagi. Lagipula tahun-tahun belakangan dia sudah punya pacar, jadi kami tak lagi punya hubungan mesra seperti itu. Tapi entahlah aku belum mendengar dia menikah, siapa tahu dia masih mengharapkanku."
"Francoise, ahh kau di sini kebetulan sekali." Suara wanita yang mendayu membuatku menoleh. Seorang wanita cantik berambut coklat gelap yang sempurna, wanita latin yang cantik dengan bibir filler yang sempurna, dada penuh, pinggang ramping, penampilan yang mahal.
Salah satu teman baiknya. Entah siapa namanya, mungkin seperti katanya banyak yang bersedia kencan dengannya.
__ADS_1
"Carmella, kau di sini juga." Dia mengenalinya tampaknya mereka punya hubungan yang masih baik. Mungkin wanita ini kesini karena ingin mengajaknya kencan.
"Lama kita tidak makan malam bersama."
"Iya sudah lama sekali. Bagaimana kabarmu."
"Aku baik seperti yang kau lihat, siapa ini? Kekasihmu?" Dia menatapku dari atas ke bawah penampilanku saat itu bahkan hanya dengan blouse kebesaran berwarna biru dan celana jeans, aku seperti baru kembali dari belanja groceries di supermarket. Jelas saja bukan tandingannya. Aku bisa membaca sorot mata meremehkan dari gadis cantik ini.
"Ohh bukan aku kolega kerja Tuan Francoise , kami tak punya hubungan romantis seperti yang kau duga." Aku langsung menyangkal untuk memberi mereka ruang.
"Begitukah, kupikir kalian kekasih."
"Bukan sama sekali." Sihlakan ambil kekasihmu aku hanya temanmya aku tak akan berebut denganmu.
__ADS_1
"Franco, makan malam denganku besok." Aku pura-pura tak melihat sibuk dengan ponselku saat dia duduk di kursi di samping Franco.