
"Aku masih tak mengerti kenapa kau berubah pikiran. Kemarin kau sangat menjaga sikapmu, tapi malam ini kau terlalu berani." Pertanyaannya diajukan sambil tangan kami menyentuh satu sama lain.
"Aku hanya sedang butuh kencan menantang, sedih karena aku tak bisa mencapai principal. Please Franco, lakukan saja. Anggap saja aku berterima kasih padamu."
Dia mendorongku ke bawahnya.
"Jangan mengharapkan apapun padaku setelah ini. Kita hanya akan jadi teman..."
"Aku tahu." Aku memeluk tengkuknya membuatnya lebih mendekat padaku. Sementara dirinya yang lain mencari jalan ke inti diriku.
"Ehm..." Tubu*hku melengkung nik*mat dan lengguhanku membuatnya menghujamkan dirinya lebih cepat.
Dan aku membiarkan semuanya terjadi dan menikmatinya. Menjadi bagian dari permainan yang menyenangkan itu. Tak heran wanita-wanita itu tak keberatan untuk bersamanya walau tanpa status, dia pecinta ulung yang membuatmu menikmati setiap detiknya.
Tapi yang jelas aku memang tak berharap apapun selain 40,000 dollar bersamaku.
"Kau hebat,..." Setelah membuatku kelelah*an dalam dua ronde yang pan*as nampaknya dia lelah juga. Aku memujinya dengan terang-terangan. Dia menatapku dengan pandangan lembut.
"Kenapa kau menatapku begitu? Ada yang salah?"
"Tidak. Hanya tadi rasanya luar biasa, ..." Aku tersenyum, mungkin karena obat yang diberikan Nicholai itu, rasanya memang luar biasa.
"Mau bertemu denganku lagi nanti?" Aku tertawa.
"Tidak."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Nanti aku akan menginginkanmu untuk diri sendiri. Aku tak mau patah hati denganmu. Sekali mudah untuk dilupakan, berkali-kali aku akan terbiasa mengharapkanmu."
"Apa seperti itu? Selalu seperti itu bukan, makanya kau tidak pernah punya hubungan lama. Apa satu wanita membosankan untukmu?"
"Kurasa aku lebih suka perasaan tak terikat, pekerjaanku kadang menyita banyak waktu, dan aku hanya sanggup berteman untuk saat ini. Bukan aku tak pernah mencoba, hanya aku mengacaukannya karena menjadi tak peka dan cuek. Mereka meminta perhatian tak salah, hanya aku yang tak baik kepada mereka."
"Lalu katakan padaku kenapa kau baik denganku, mungkin cinta pertamamu mirip denganku?" Dia tersenyum kecil lalu menjawabku
"Aku baik padamu karena aku tahu posisimu, Philippe cerita latar belakangmu yang hanya punya Ibu mendukungmu, aku juga hanya punya Ibu, Ibuku penari ballet, tapi mungkin aku harus bersyukur diberi kacelakaan yang mengharuskanku berhenti dari ballet . Aku juga punya cerita yang sama denganmu. Hanya punya Ibu yang mendukungku. Kau seharusnya tak usah melakukan ini."
"Aku melakukan karena aku ingin. Tapi terima kasih sudah memikirkanku, kau orang baik."
"Kau akan mundur dari NYC Ballet bukan?"
"Apa yang akan kulakukan tidak akan jadi masalahmu."
"Kapan kau akan pergi? Kemana kau akan pergi?" Dia tiba-tiba bertanya.
"10,000 itu tak usah kau kembalikan. Anggap saja aku membantumu melewati transisi pekerjaanmu."
"Aku tak mau berhutang."
"Aku tidak menganggapnya sebagai hutang."
"Kau memang baik hati." Aku memberikannya senyumku dengan mata hampir terpejam.
"Lalu kenapa kau tak menerimanya." Dia merengkuhku dalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku gadis sombong yang tak mau dikasihani..." Sekarang pelukan ini terasa menyenangkan. Aku tertawa kecil đalam pelukannya.
"Tak ada gunanya kau menjadi sombong."
"Dimana Ayahmu?"
"Sudah menikah lagi, aku tak beruntung jadi prioritasnya."
"Tapi kita jadi prioritas Ibu kita."
"Kau benar..."
"Kau benar-benar tak usah mengembalikan uangku."
Aku tersenyum, tak menjawabnya, karena aku tak bisa. Karena walaupun dia baik, aku bersalah padanya. Tapi kami tak akan bertemu lagi, aku tak ingin merasa bersalah padanya.
"Karena aku tak ingin."
"Kau memerlukannya..."
"Aku bisa mengusahakannya di depan."
"Kau akan pergi kemana?"
"Suatu tempat di mana aku bisa bekerja lebih baik. Tidurlah, besok kau dan aku akan berpisah, tidak akan bertemu lagi. Aku tak akan jadi bebanmu..."
"Kenapa aku mengantuk sekali." Karena bibirku beracun, tidurlah biar aku bisa membereskan pekerjaanku.
__ADS_1
"Karena kau bekerja keras, dan ini sudah tengah malam.." dia tertawan
Aku melihat tadi ponselnya yang di letakkannya nakas samping tempat tidur, harusnya dalam waktu sejam lagi aku akan bisa melakukan tugasku.