
Beberapa saat aku bisa duduk mengamati dengan degub jantung sedikit lega, sampai aku melihat sesuatu! Sesuatu yang membuat harapan hidupku tambah tipis.
"Thomas! Perimeter ditembus dari samping kanan! Empat orang..." Dari kananku rimbunan batang ganja terkuak dan tiga orang mengendap dari garis belakang. "Mereka menuju ke sini..." Bukan tiga tapi kemudian enam orang yang keluar dari arah itu. Rasa dingin mencengkram punggungku dengan kuat.
"Fu*ck! Tetap sembunyi." Umpatan Thomas membuatku membuka pengaman senjataku. Aku tak tahu dimana Thomas, dia mungkin ratusan meter di depan sana, entah bisa mundur atau tidak dengan pertempuran seintens itu, tapi aku harus bersiap jika mereka menuju ke sini. Semoga mereka tidak kesini.
Sayangnya harapanku tinggal harapan kosong. Jelas mereka kesini, bukan empat melainkan enam! Tujuh! Sial! Sial! Mereka rupanya mengambil rute memutar lebih jauh, target mereka jelas sandera.
"Thomas, tujuh orang mereka menuju ke sini." Mataku mengawasi mereka dari balik lubang diantara tumpukan kayu. Mereka berpisah, yang lainnya bergerak ke daerah lain di garis belakang itu.
__ADS_1
"Thomas cepatlah, mereka berpencar, tiga ke rumah utama, dia lagi ke gudang, lainnya ke kami." Di mana Thomas aku benar-benar butuh bantuan.
"Aku sedang mundur. Dimana mereka?" Dia pasti membawa penembak jitu bukan? Aku berharap dia segera melenyapkan mereka segera.
"Sebelah kanan dekat pohon mangga kurasa...." Aku menceritakan kemana orang-orang itu bergerak. Aku yang baru melihat pohon mangga mengenali buahnya yang masih bergantung di pohonnya.
Mereka bergerak lambat menyusuri lapangan terbuka, berusaha melihat ke berbagai sudut. Sialnya mereka berpencar dua bergerak ke arah belakang, mereka benar datang mengincar gudang yang belakang tempat Nora.
"Aku masih kesulitan mundur, tak ada perlindungan untuk menyeberang ke tempatmu, tunggu." Dan berita lebih buruk muncul, dia tak bisa ke sini tanpa membahayakan nyawanya.
__ADS_1
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, mungkin mereka 20 meter lagi di depanku. Kepala Kate menyembul dari tumpukan kayu. Tanganku dengan cepat menyuruhnya tidak mengintip. Jika dia ketahuan ada di sana aku yang akan tamat!
Aku mengintip dari sela-sela kayu. Mereka maju ke depan, aku tak akan menembak, jika mereka melewatiku aku baru akan menembak, nampaknya yang mereka incar untuk diperiksa adalah gudang kayu dibelakangku itu. Mereka tahu sandera belum bisa di selamatkan.
Degup jantungku semangkin gila saat salah satu orang semangkin mendekat, aku mengenggam pistolku dengan erat, aku bahkan tak pernah menembak seumur hidupku.
Yang kutahu hanya seperti kata Thomas. Arahkan ke musuh, letuskan pelurunya. Satu orang benar-benar berjalan ke arah gudang.
Aku mengambil keputusan, aku akan menembak begitu dia melewati gadis pandangan di depanku, dan bersembunyi ke arah belakang tumpukan kayu, aku bahkan tak tahu menembak yang benar, ini hanya keberuntungan. Aku mengangkat tanganku, merunduk karena tumpukan kayu hanya setinggi mungkin 1.5 meter itu tidak bisa menyembunyikan tinggi keseluruhan
__ADS_1
Empat meter, tiga meter, dua...satu...
Dia muncul di pandangan mataku. Aku menarik pelatukku sambil berdiri tegak menirukan cara menembak dengan satu kaki maju ke depan yang kulihat di televisi.