
"Nanti aku akan datang akhir pekan jika bisa." Akhirnya aku berpikir untuk datang dan melihat seperti apa lingkungan kerjanya. Mungkin apa yang kupikirkan memang salah selama ini.
"Nicholai bilang sebelum dia kembali dia mau bicara dengan kita."
"Dia meneleponmu?" Nama itu lagi. Aku akan menelepon bangsat Nicholai itu dan mengatakan padanya untuk bicara denganku sendiri. Dia selalu berusaha memanfaatkan Sara. Sara terlalu baik pada mata-mata Rusia itu.
"Iya." Dia menjawabku tapi perhatiannya tak kepadaku tapi ke ponsel di tangannya. Wajahnya mengulaskan senyum tipis melihat layar ponselnya.
"Nampaknya ada yang sedang senang sekarang?"
"Tidak, Matthew dan Nicole bilang mereka mengajakku makan malam. Sudah lama kami tidak bertemu." Matthew, dimana aku pernah mendengar nama itu. Oh, aku ingat sekarang, partner tari dan sekaligus 'teman baik' nya. Jika mereka bertemu apa mereka akan jadi 'teman baik' lagi? Entah kenapa aku tak ingin mereka bertemu.
Sekarang Sara sepertinya akan bekerja di NY lagi, apakah hubungan mereka akan berlanjut? Apa Matthew sudah punya kekasihnya sendiri sekarang, berbagai pertanyaan sudah terpancing begitu saja dari pikiranku.
__ADS_1
Kenapa aku perduli, ini bukan urusanku. Kami selama ini hanya teman? Lalu aku membantah diriku sendiri.
"Matthew itu apa dia mengejarmu?" Aku tergelitik ingin mengetahuinya.
"Entahlah kurasa tidak. Tapi dia baik, dia sudah bersamaku sejak kami masih di Corps de Ballet, dia akan selalu jadi sahabat yang baik." Dia menjawabku asal-asalan dengan senyuman yang masih melihat percakapan di ponselnya. Sudah bersamanya sejak dia masih di Corps de Ballet jadi mungkin sudah hampir 10 tahun, hal yang tidak bisa aku saingi.
"Mereka iri saat aku bilang aku akan ke Antigua." Dia tertawa dengan renyah. Antigua pulau cantik Karibia itu memang sasaran liburan kelas atas. "Kau pernah pergi kesana, aku mencari fotonya, bagus sekali. Cuma empat jam perjalanan ternyata."
"Pernah, memang bagus."
"Kenapa memangnya."
"Biasanya kau dengan semangat menceritakannya."
__ADS_1
Bukan salahnya dia tak tertarik padaku. Bahkan aku menceritakan wanita-wanita yang dekat denganku. Tak heran dia menganggapku buruk.
"Kau tahu katanya Maureen mengatakan kau adalah kekasihnya, dia akan tampil di program musim gugur Aurora, kau tak mendapat undangan darinya?"
"Iya, aku mendapatkannya."
"Kau akan pergi?"
"Aku tak tahu."
"Jika kau tak pergi kau akan diputuskan dari hubungan teman baik. Kau harus pergi." Dia bicara dengan bersemangat sambil menghabiskan spagettinya.
Belakangan aku sadar sesuatu, entah kenapa aku tidak ingin dia punya teman yang lain. Aku tahu ini tak adil, status teman kami hanya teman. Tapi bahkan aku merasa ini lebih berharga dari hubungan singkatku dengan wanita-wanita yang lain.
__ADS_1
Ini tidak adil baginya, jelas. Kami hanya teman. Aku tak berhak mengontrol kehidupan pribadinya. Ini tidak adil baginya. Tapi rasa ingin dia tak memperdulikan pria lain membuatku merasa heran pada diri sendiri.
Dulu bahkan aku tak pernah peduli jika wanita-wanita teman wanitaku punya yang lain dan tak menghubungiku karena kami memang hanya teman bersenang-senang tapi dengan Sara berbeda.