
Aku tak menunggu untuk menelepon Ashley keesokan harinya. Sudah tak perlu menunggu, tekadku sudah bulat. Aku tak bisa menunggu dua tahun, tiga tahun, atau tahun-tahun berikutnya.
"Asley, aku mau memgikutimu." Sekarang aku duduk di bangku taman rumah sakit meneleponnya langsung dan berharap dia bisa mengatur pelatihanku nanti setelah aku selesai pementasan Don Quixote.
"Kau mau ikut aku ke LA?! Kau serius meninggalkan ballet? Kenapa? Padahal aku sudah lelah membujukmu sebelumnya?" Jelas hal ini membuatnya heran, bukan sekali dia mengajakku tapi aku tak mengindahkannya.
"Mom sedang masuk rumah sakit Ashley,...." Kuceritakan dimana aku sekarang, apa yang terjadi dengan posisi principal yang kuincar sebelumnya.
"Astaga benarkah aku baru saja bertemu dengannya kemarim. Kau butuh uang Sara, aku bisa meminjamkannya dulu." Dia langsung mengerti aku membutuhkan uang sekarang.
"Tidak, Nicholai sudah meminjamkannya padaku, dia bilang tak usah terburu mengembalikannya, tunggu aku punya gaji dari pekerjaan baru. Dia bilang pegang saja."
"Siapa Nicholai?" Kuceritakan sedikit partner baik hatiku dari Rusia itu.
__ADS_1
"Baiklah jadi kau akan segera ke LA bukan. Bagaimana jika kucarikan kau tempat tinggal dulu."
"Iya. Segera setelah aku menyelesaikan pentas Don Quixote aku akan mengajukan pengunduran diri akhir minggu depan adalah pentas terakhirku. Mungkin dalam waktu satu bulan aku akan berusaa pindah. Aku hanya butuh apartment studio sederhana Ashley, jika bisa share room aku juga mau." Aku tak akan menunggu lagi, semangkin cepat aku bisa bergabung semangkin baik.
"Aku akan mencarikannya jangan khawatir aku tahu kau ingin berhemat, tapi tak akan lama sampai kau bisa mendapatkan gajimu sendiri aku berjanji." Dia diam sebentar, lalu bertanya lagi padaku. "Sara, apa Ibumu setuju."
"Mungkin tidak, tapi aku tak perduli karena bukan seni yang kupikirkan sekarang, kau benar aku terlalu idealis. Apa gunanya mengejar satu yang tak pasti...Dia tak akan setuju, tapi aku akan bohong bahwa aku pindah ke company lain."
"Kau yakin, kau tak sedih tak bisa menari ballet lagi. Aku takut kau akan menyesal." Aku tertawa miris.
"Ohh Sara, aku merasa berdosa padamu."
"Jujur, memikirkan aku tak akan tampil di panggung lagi sudah membuat mataku berkabut sekarang." Tapi tekadku sudah bulat tak ada yang bisa mengubahnya lagi.
__ADS_1
"Hmm baiklah jika kau sudah bertekad begitu, kabari aku oke. Sesampainya di LA, aku akan membuatmu berlatih dengan keras."
"Kapan aku takut dengan latihan keras, kau jangan membuatku tertawa."
"Baik-baik, aku tahu kau bisa berlatih lebih keras dari siapapun, tapi jangan memaksakan diri oke, yang namanya latihan itu agar kau terbiasa, jika ada cedera akan sulit nantinya."
"Aku akan berusaha yang terbaik Ashley, aku tak akan mengecewakanmu jangan khawatir."
Aku menjadi lega setelah bicara dengan Ashley. Rasanya masa depan bisa kuperjuangkan lebih mudah. Aku kembali ke ruangan Ibu dengan senyum lega.
Aku tak akan memberitahu yang sebenarnya kepada Mom tentu saja, akan kubilang aku mendapatkan kontrak baru principal di company ballet di LA. Dia mungkin tak akan setuju dengan keputusan yang kuambil tapi apa yang kupilih sudah kupertimbangkan dengan baik.
Aku tak akan menyesal. Itu yang kutahu dengan pasti.
__ADS_1
Sekarang ponselku berbunyi. Pesan dari seseorang, ... Tuan Donatur?
"Aku dengar Ibumu sakit, bisa aku menjenguknya."