BALLERINA SECRET LOVE

BALLERINA SECRET LOVE
Part 58. Good Technique


__ADS_3

"Karena aku tahu motivasimu bukan untuk dirimu sendiri. Kau terbuka kau punya masalah keuangan untuk Ibumu, aku mengerti posisimu, kau satu-satunya yang kulabeli teman. Bukan teman 'baik' saja." Dia menquote tanda baik dan menbuatku meringis, 'baik' artinya teman untuk saat-saat baik saja alias tengah bersenang-senang saja, sungguh istilah yang sangat seenaknya.


"Baiklah, terserah padamu." Yang kutahu aku punya hutang besar padanya, lagipula untuk saat ini aku belum bebas dari kontrak dengan agen lepas ini. Aku masih memerlukan bantuannya untuk berunding dengan temannya yang menguasai agensi pemerintah, entah apapun agensi ini.


Seminggu setelah aku bertanya Thomas memberitahuku, mereka akan melepasku setelah tiga tahun, aku setuju. Itu lebih ringan dari tuntutan yang akan kuterima jika mengkhianati negara selama lima tahun.


Dan selama minggu-minggu berikutnya aku dengan senang hati menemaninya makan malam setiap senin malam. Aku punya aturan yang kusebutkan langsung padanya.


"Aku tidak ingin makan malam di tempat yang mengharuskanku berdandan Franco." Dan aku terbiasa memanggilnya nama setelah makan malam kedua ini.


Alias aku tak ingin berupaya harus berdandan, memikirkan busana apa yang kukenakan.


Dia meringis tapi dia mengangguk, "Setuju." Jadi aku makan malam dengannya dengan celana jeans, t-shirt casual, tak pernah memakai gaun karena aku memang tak mau dan aku berdandan casual seadaanya, tìdak memerlukan banyak foundation, atau sampai blush on dan bulu mata. Aku tidak berusaha menggodanya.

__ADS_1


Walaupun kadang aku juga punya perasaan terlalu biasa berada di sampingnya, mati-matian menekan perasaan suka dan kagumku di depannya. Selalu berpikir kami tidak punya kesempatan, dia bahkan tidak punya masalah membicarakan beberapa wanita teman cantiknya padaku.


Aku merasa rendah diri jika dibandingkan dengan ceritanya, beberapa diantaranya adalah model, yang lain mungkin anak orang penting di pemerintahan, yang lain mungkin adalah principal seperti Maureen, dia tak kekurangan wanita luar biasa yang mengejarnya.


"Kenapa kau terus menghindar dari wanita-wanita ini. Mereka tak buruk sama sekali, kenapa kau punya banyak sekali persyaratan tak jelas." Satu kali aku mencercanya karena terlalu pemilih. Apa kelainan yang dimilikinya, kenapa semua wanita tak ada yang dianggapnya baik, itu sangat berlebihan menurutku.


"Jika tak cocok kenapa dipaksakan. Kenapa aku harus pura-pura menerima apa yang tidak bisa kuterima.


"Tapi kau tidur dengannya. Berkali-kali! Itu tak bermoral dan memanfaatkan kesempatan." Aku menudingnya terang-terangan.


Yang ini mungkin benar setengahnya, aku harus setuju. Kepercayaan dirinya mungkin tidak salah. Tekniknya memang bagus.


"Dasar playboy ban*gsat." Dia tertawa ngakak mendengar umpatanku seakan itu adalah hal yang menyenangkan untuk di dengar.

__ADS_1


Dan bagaimana dia menceritakan petualangannya itu cukup menyebalkan. Seakan aku teman laki-lakinya.


"Berhentilah menceritakan detailnya, aku bukan teman laki-lakimu. Aku muak mendengarnya." Satu kali aku merasa dia menyebalkan karena menceritakan seorang wanita yang dirasanya bersuara terlalu berlebihan saat mereka berc*inta.


"Kenapa kau cemburu?"


"Siapa yang cemburu padamu." Langsung kubantah perkataaanya.


"Carilah pacar kalau begitu."


"Aku punya?"


"Siapa?" Dia malah penasaran.

__ADS_1


"Bukan urusanmu."


"Kau berbohong, kau hanya iri padaku."


__ADS_2