
Nicholai diam mendengar perkataanku. Tapi nampaknya dia mengerti apa yang kukatakan. Dia ikut duduk diam di sampingku akhirnya.
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?"
"Aku tak tahu, aku belum bisa memikirkannya, aku perlu waktu untuk berpikir. Sekarang ayo kita latihan saja, menari bisa menaikkan mood." Aku mengangkat bahu dan menghela napas panjang. Berusaha menawarkan kekecewaanku yang begitu pahit. Dan melanjutkan latihan.
Charles, penata tari kami melihat perubahan moodku.
"Ada apa? Kau kelihatan banyak tak fokus hari ini, kau sakit." Dia melihatku melakukan banyak kesalahan ketika kami melatih variasi baru.
"Tidak. Maaf, akan kucoba lagi..." Aku hanya kehilangan motivasi, ingin kujawab seperti itu tapi aku tak berani.
"Apa kau mendengar tentang Katya?" Dia juga tahu, berarti berita itu benar. Aku memang sudah tak punya harapan.
"Tak apa. Aku baik-baik saja, hanya mungkin kecewa, itu normal bukan Sir."
"Memang kau termasuk yang dipertimbangkan, tapi Katya juga didukung oleh lebih banyak suara. Jangan berkecil hati, kau pasti akan mendapat giliran, kami semua melihat kerja kerasmu dari awal." Aku mencoba tersenyum dengan kata-kata penghiburannya.
"Terima kasih Sir."
__ADS_1
Itu hanya kata-kata penyemangat yang serupa janji manis kosong, siapapun bisa mengatakan itu. Aku tak ingin mendengarnya sekali, aku tak ingin mendengar kata penghiburan apapun sekarang.
Kami sudah sampai jam terakhir latihan, dan yang kulakukan hanyalah ingin pulang cepat dan tidur.
Aku sudah duduk di pojok studio sore itu, latihan kami sudah hampir selesai, rasanya melelahkan sekali, saat itu tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku tak mengenal nomornya tapi tetap kuangkat.
"Hallo?"
"Sara? Ini Sara bukan?"
"Ya ini aku..."
"Apa terjadi sesuatu dengan Mom, Bibi?!" Aku langsung dengan tebakan terburuk yang bisa kupikirkan.
"Sebenarnya aku mengantarnya ke UGD karena mungkin dia stroke, bicaranya cadel dan dia merasa salah satu sisi tubuhnya lemas, aku tak tahu kondisinya dokter sedang memeriksanya, tapi mungkin kau perlu tahu. Jika kau bisa ke sini akan lebih baik."
"Aku akan ke sana segera! Dimana rumah sakitnya?"
Sesuatu yang kutakukan telah terjadi, untungnya tidak separah yang kupikirkan. Dokter sudah lama memperingatkan jika penderita diabetes seperti Mom perlu berhati-hati terhadap gejala stroke.
__ADS_1
"Ada apa?" Nicholai langsung melihat kekhawatiranku.
"Ibuku masuk rumah sakit karena gejala stroke. Tapi nampaknya belum parah, dia masih bisa diantar ke rumah sakit, aku harus melihatnya, lusa kita baru ada show, kemungkinan aku besok tak masuk dulu."
"Kutemani kau."
"Tak usah?"
"Aku punya faselitas mobil, kau tinggal bilang kita mau ke mana." Nicholai berkeras untuk mengantarku. "Ayo, bereskan barangmu, mandilah dulu, aku tunggu kau di lobby oke."
"Tapi, kau tidak usah...:Aku masih ingin menolak, tak ingin menganggunya dengan urusanku.
"Sara, aku tak terganggu oke. Ayo, lebih cepat lebih baik. Kutunggu kau di lobby." Dia mengacuhkan keberatanku dan menyuruhku segera bersiap.
Akhirnya setelah bersiap-siap dan meminta izin ke penata tari kami aku menemui Nicholai di lobby yang akan mengantarku.
"Rumah sakit mana?"
"Richmond University, aku akan memandu jalannya." Dia mengetikkan navigasinya sendiri. "Oke tak terlalu jauh hanya sekitar sejam lebih sedikit, semoga kita tidak bertemu traffic jam di depan."
__ADS_1