
POV Sara
Aku kembali ke rumah Francoise seperti biasa, aku melihat ada undangan untuk gala Dinner dinner besok. Jadi ternyata ini yang dikatakan oleh Allison dia mengirimnya ke sini.
Semoga undangan yang kami dapat ini bisa merubah sikap Ibu Francoise padaku, setidaknya aku punya andil mendapatkan undangan ini.
"Hilda, Tuan belum kembali?" di rumah ini aku selalu pulang malam, biasanya diatas jam 12 dia baru sampai tapi hari ini dia tidak punya pertunjukan jadi dia jam enam sudah sampai.
"Belum Nona, biasanya sebentar lagi jika tidak ada makan malam sebentar lagi."
"Oh baiklah." Senang bisa makan malam bersama lagi, belakangan kami terlalu sibuk untuk sekedar makan malam bersama. Sebenarnya karena jadwal kami yang kacau. Dia berkerja dari pagi hingga malam, aku bekerja dari siang hingga lewat tengah malam. Bagaimana kami bisa punya waktu bersama. Tambahan kadang akhir pekan aku harus bekerja, dan libur di hari kerja. Jadwal kami tak pernah bertemu dengan baik.
Tak lama dia kembali, aku yang beristirahat di kamar senang dia kembali tak begitu malam. Kami bisa makan malam bersama sekarang.
"Kau jauh lebih cepat sampai. Bahkan sudah wa*ngi sab*un ma*ndi." Dia meme*lukku dan menci*umku singkat. Aku tersenyum senang mendapatkan perlakuan roma*ntisnya.
"Kau tak mau makan malam di luar?"
"Tidak di sini saja."
"Kenapa..." Dia tersenyum kecil.
"Hmm ...aku mau meme*lukmu saja lebih cepat."
"Sekarang juga bisa." Dia tersenyum dan menciu*mku dengan gem*as.
"Sana mandilah, aku lapar. Kita makan malam.. " Aku mendorongnya, aku kelaparan tidak berniat berm*esraan sekarang. Dia tertawa tapi pergi juga tidak mengangguku.
Makan malam berjalan dengan cepat dan aku kembali ke peluk*annya dengan segera setelahnya. Aku merindukan pelu*kan ini.
"Merin*dukanku sayang, kau sibuk sekali belakangan."
__ADS_1
"Aku merind*ukanmu." Sebuah ciu*m*an berbalas menjadikan suasana dengan cepat mema*nas. Kami sudah lapar mencicipi satu sama lain. Satu sent*uhan kecil saja adalah persetujuan untuk meneruskan penak*lukan. "Aku mau kau..." Duduk di pangk*uannya adalah cara tercepat menguasai ciu*m*an*nya dan segalanya.
"Kau tak sabar sekali." Dia protes ketika tanganku menjadi nak*al.
"Kau sama tak sabarnya." Er*ang*anku membuat dia tak sabar juga. Jemarinya menggod*aku dengan na*kal.
"Ini tak cukup bukan, kau sudah ...sangat bas*ah..." Aku menggeleng. Kim*ono dan ka*us atas*an kami bahkan tak perlu dibuka saat kami menyat*ukan diri kami di bawah sana dan memu*askan satu sama lain.
Saat itu berakhir dengan cepat, seperti masih ada yang belum selesai. Aku masih lapar. Dan dia masih melihatku penuh arti. Waktu kami begitu singkat, besok pagi kami harus berkerja lagi dengan jadwal yang padat.
"Kapan pemilihan presiden ini berakhir? Aku ingin pergi liburan bersamamu. Kita kekurangan waktu bersama."
"Tiga bulan lagi. Presiden perlu diurus, politisi di atas sana penuh dengan drama. Mereka perlu memainkan permainan begitu rumit untuk menang." Aku tahu karena masih terikat pekerjaan dengan biro aku harus siap di masa ini. Tak ada ja*tah cuti bagi siapapun sekarang . Kami harus siap membantu dan mencari informasi.
"Tiga bulan lagi, setelah itu kau ajukan cuti ke Thomas, kita perlu waktu untuk berdua. Setuju."
"Setuju, kita ke Perancis." °Aku sudah membayangkan kota Paris yang indah, tak ada yang bisa menolak berlibur ke kota cinta yang penuh cahaya itu.
"Iya, aku juga sudah memberitahu Ibuku undangannya sudah datang." Ternyata sudah.
"Bagaimana tanggapannya?" Aku sangat panasaran bagaimana dengan tanggapannya. Apa dia menerimanya, atau mungkin dia akan melemparnya ke lantai karena aku yang mendapatkan buatnya.
"Dia kaget tentu saja, tak menyangka bahwa dia akan mendapatkan undangan dari gala dinner." Untungnya dia tidak menolak.
"Tapi dia menerimanya bukan?" Aku takut kami sudah bersusah payah tapi dia tak mau menerimanya. Itu sama saja dengan semua usaha kami sia-sia."
"Tentu saja dia menerimanya." Aku menghela napas lega.
"Baguslah, aku takut ada kejadian rumit dia tak menerimanya. Mungkin masih ingin Maureen menjadi menantunya. Akan rumit menghadapinya." Mungkin tindakan kriminal dapat dibenarkan olehnya.
"Yang tak rumit hanya kita berdua." Dia merapikan ram*butku yang sedikit ku*sut karena terlalu bersemangat tadi.
__ADS_1
"Benarkah, kita juga rumit kurasa." Dia melihatku sesaat, sebelum mengatakan hal yang tidak kuduga.
"Tadi ibu bilang terima kasih buat undangannya." Aku mendengarnya dengan tak percaya.
"Ibumu bilang terima kasih? Kepadaku? Dia bilang terima kasih." Sebelumnya dia mencercaku habis-habisan. Sekarang rupanya tiket gala dinner itu benar-benar menjadi jalan untukku.
"Iya. Dia bilang terima kasih untuk undangannya. Mungkin nanti jika dia ke sini minggu depan, kau bisa bicara dengannya." Aku perlu memproses informasi ini, otakku agak lambat sekarang.
"Dia bilang terima kasih... Maksudmu dia sudah tidak marah kepadaku lagi?" Benarkah apa akhirnya kami di setujui. "Benarkah dia mau bicara denganku? Jangan-jangan aku ditam*par lagi." Aku masih sedikit trauma dengan kejadian yang terjadi terakhir kali.
"Bagaimana dia marah kepada orang yang sudah membuatnya bisa menjadi calon menteri. Kerja kerasmu dan siapa kau diakui." Aku ingin melompat gembira sekarang tapi aku akhirnya hanya tersenyum lebar. Akhirnya ada juga harapan untuk kami.
"Akhirnya kita bisa bersama bukan?" Benarkah aku sudah diterima. Aku sangat lega sekarang. Aku ingin segera mengatakannya pada Mom. Dia akan ikut bergembira karena ini.
"Akhirnya kita bisa bersama. Maaf kau harus melewati semua ini untuk sampai ke sini." Aku menggeleng, bukan aku saja, Francoise juga melewati banyak hal untuk mendapatkan persetujuan Ibunya.
"Kau membantuku di banyak hal, aku bisa begini juga karena kau. Kita bersama sampai di sini. Akhirnya Ibumu membuka hatinya, kau juga melakukan bagianmu."
"Kita bisa tenang sekarang, Mom sudah mengakui kita. Semoga pemilihan president ini cepat selesai jadi aku bisa mengajakmu ke Marseilles."
"Aku juga meri*ndukan liburan."
"Untuk sekarang kita liburan di kam*ar dulu." Aku tertawa, aku juga merindukannya.
"Kita memang terlalu sibuk belakangan, walaupun serumah kita jarang punya waktu panjang untuk mengobrol."
"Kau benar dan yang tadi belum cukup." Dia mengangkatku begitu saja ke be*dnya. Men"ciu*mku dengan cepat dan membuatku kembali dalam kekuasaannya. Aku dengan pasr*ah menerima ger*akan kepe*milikannya atas tubu*hku.
"Kita punya waktu semalaman, malam masih panjang. Besok kau libur bukan." Aku tertawa ketika dia melep*as kim*ono tid*urku dengan tak sabaran.
Kami akan punya banyak waktu nanti. Tak perlu terlalu terburu-buru.
__ADS_1