BALLERINA SECRET LOVE

BALLERINA SECRET LOVE
Part 74. Suspected Already 4


__ADS_3

Ternyata memang dia segampang itu untuk dapat kencan. Teknik yang bagus dan jabatan yang mentereng. Itu perpaduan yang sempurna untuk mendapatkan kencan dengan wanita yang sempurna. Bangsat yang beruntung ini memang banyak yang mengejar.


Aku melihat mereka seakan melihat pertunjukan theather. Yang wanita duduk dengan cara yang provokatif, sementara yang pria bersikap dia adalah pemegang kekuasaan. Ini memang drama cinta yang terjadi antara dua anak manusia.


"Tidak bisa aku ada pekerjaan. Nanti jika bisa aku akan menelepon. Aku tak bisa berjanji apapun padamu."


"Kau pasti tak menelepon seperti biasa." Ternyata yang ini sudah sering diabaikan oleh Francoise.


"Jika aku bisa." Harpan palsu. Aku meringis saja, apa wanita ini masih merendahkan dirinya untuk berharap.


"Kau pasti bohong." Baguslah wanita itu pintar, orang di depanku pasti membohongimu. Harusnya kau lebih menghargai dirimu sendiri.


Setelah bertukar kata hanya beberapa saat wanita itu pergi nampaknya dia sudah tahu tak ada gunanya mengharapkan pria ini. Itu bagus dia tahu bagaimana dia harus bersikap.


"Aku mengakui kau popular. Aku percaya bualanmu sekarang, kau memang luar biasa." Aku memujinya terang-terangan, Francoise Civil memang seperti yang dia katakan untuk urusan mendapatkan wanita.


Tapi dia dia saja dengan pujianku. Entah kenapa dia kali ini tak membanggakan dirinya, biasanya dia akan langsung menjawabku dengan penuh kebanggaan.


"Makanlah." Dia menjawabku pendek. Aku makan dengan pikiran masih bertanya.

__ADS_1


"Ada apa denganmu?"


"Apa?"


"Kau tanpak aneh, biasanya kau akan bercerita berapa banyak wanita yang kau sudah taklukkan."


"Benarkah aku aneh."


"Benar. Sekarang kenapa kau diam saja? Kau sakit? Atau kau bosan dengan yang sudah ada. Kau bisa mendapatkan yang lain dengan mudah bukan " Aku tersenyum lebar sekarang. Menebak-nebak dia nampaknya perlu tantangan baru.


"Kau memang menganggapku buruk."


"Sudahlah." Malah dia tak melanjutkan bicara, ada apa dengannya hari ini.


"Apa masalah dengan Nicholai sudah selesai?"


"Untuk sementara ini sudah, tinggal menunggu laporannya nanti."


"Hmm baguslah, aku jadi bisa bekerja dengan tenang."

__ADS_1


"Aku yang akan menyelesaikan masalah dengan Nicholai kau tak usah meneleponnya."


"Begitu? Baiklah. Kenapa memang kalau aku yang meneleponnya."


"Aku saja, banyak hal yang perlu dibicarakan." Dia bersikap aneh ketika aku menyebut Nicholai sebenarnya kenapa dia. Tidak mungkin dia cemburu ke Nicholai bukan? Bagaimanapun kami hanya teman. Teman tidak cemburu satu sama lain.


Tidak mungkin dia cemburu.


Aku mengenyahkan kemungkinan itu. Dia tidak pernah menganggapku terlalu menarik di banding wanita-wanitanya yang lain, jika dipikir-pikir bahkan aku perlu obat peran*gsang untuk mendapatkannya waktu itu.


Dan terakhir waktu aku ke apartmentnya bahkan dia tidak berusaha menyentuhku sama sekali. Tak mungkin dia cemburu hal semacam itu tak ada di hubungan teman kami, dia sendiri yang bilang hubungan kami tak sampai saling menyentuh.


"Sampai jumpa. Terima kasih sudah mengantarku."


"Iya, jaga dirimu. Kita bertemu hari Senin malam minggu depan seperti biasa?"


"Iya baiklah." Senin malam waktu kami makan malam.


Kurasa dia butuh orang untuk bicara saja. Seperti biasa playboy bangsat itu selalu bisa bercerita apapun saat makan malam kami.

__ADS_1


Dia hanya butuh tempat cerita. Itu kesimpulanku untuk saat ini soal hubungan platonis kami yang aneh ini.


__ADS_2