
Dia bicara pada Ibu dengan ramah, dia bisa membawa pembicaraan dengan baik, dan dia bisa bahkan meĺibatkan Nicholai dan Nicole ke dalam pembicaraaan. Sementara aku masih berpikir kenapa dia harus ke sini mengunjungiku padahal aku tak pernah menanggapi obrolannya.
Berlawanan dengan aura dinginnya, dia adalah pembicara yang hangat. Suasana jadi semarak malam ini dengan kedatangannya.
"Kalau begitu saya pergi dulu, semoga Anda cepat pulih Nyonya." Hampir setengah jam dia beramah tamah dia akhirnya pamit pulang.
"Terima kasih sekali lagi Tuan Francoise, putri saya beruntung dia bisa punya support orang seperti Anda." Ibu berterima kasih padanya atas kunjungannya.
"Bukan masalah besar Nyonya, kami selalu mendukung bakat yang baik."
Aku mengantarnya keluar sekarang dengan tatapan penasaran Nicole dan Nicholai, mereka nampaknya tak percaya jika kubilang aku tidak terlibat dengan donatur tampan ini.
"Terima kasih Tuan Francoise."
"Aku ingin memberika ini padamu." Dia mengambil sesuatu dari saku bajunya dan menyerahkannya padaku. "Ambillah, kau pasti membutuhkan ini." Satu amplop coklat ada di tanganku sekarang.
"Apa ini?" Aku membukanya dan menemukan sebuah cek USD 10.000 di dalamnya. "Ini....Aku tak bisa menerima ini." Bagaimana mungkin aku menerima uang yang terlalu baik hati ini, aku tak tahu apa yang harus kubayar jika menerima ini setelahnya.
__ADS_1
"Ibumu pasti butuh biaya."
"Iya, Ibu saya butuh biaya tapi daya tidak bisa menerima ini." Aku tak bisa menerima pemberian pribadi seperti ini. Kukembalikan amplop itu padanya.
"Ini untuk Ibumu bukan kau, aku juga tahu kau membutuhkan biaya."
"Aku punya tabungan, ini terlalu banyak. Ini benar tak perlu, terima kasih Tuan Francoise." Aku mengembalikan cek itu padanya. Aku mau keluar sebulan lagi, bagaimana aku bisa menerima hal seperti ini.
"Kau yakin? Penyakit diabetes tidak berakhir di sini, kau perlu biaya kontrol bulanan dan segala macam di depan."
"Saya tahu, saya sudah menjalaninya dari beberapa tahun yang lalu. Terima kasih, Anda terlalu baik." Penolakanku membuatnya menghela napas.
"Bukan saya hanya tidak bisa menerimanya."
"Kalau begitu, kau bisa menjadikannya pinjaman. Peganglah jika dalam jangka setahun kau tak membutuhkannya kau bisa mengembalikannya " Dia mendorong cek itu kembali ke depanku. Dia memaksa aku tak bisa menolaknya secara langsung, akan kukembalikan saat aku mengundurkan diri nanti.
"Kalau begitu aku hanya bisa mengucapkan terima kasih. Aku akan memegangnya sebagai pinjaman." Dia sekarang tersenyum.
__ADS_1
"Itu lebih baik, tak perlu buru-buru mengembalikannya." Aku membalas senyumnya. Yah bagi orang sepertinya, meminjamkan 10.000 tak ada artinya. Bagiku itu jumlah yang besar. "Aku pergi dulu, sukses untuk pentasmu hari ini."
"Terima kasih Tuan Francoise."
"Bukan hal yang besar. Tak usah mengantarku ke lobby sampai di sini saja." Dia melangkah pergi tanpa meminta apapun lagi saat kami mencapai depan lobby lift.
Aku menghela napas. Aku tak menyangka dia melakukan itu. Padahal kami tak pernah punya hubungan. Kenapa? Apa yang menyebabkan dia begitu baik.
Aku kembali ke ruangan Ibu. Nicholai menungguku di luar ruangan Ibu.
"Donatur itu ke sini, kau punya hubungan dengannya?" Nicholai langsung penasaran dan menginterogasiku.
"Tidak tentu saja."
"Benarkah, bahkan Phillips atau Victor (penata tari kami) pun tak ke sini tapi donatur itu kesini untukmu, kau punya sesuatu yang membuatnya berhutang padamu." Aku mengangkat bahu.
"Bahkan dia memberiku pinjaman." Kuperlihatkan cwk dari Francoise.
__ADS_1
"Dia memberimu pinjaman?" Alis Nicholai langsung naik.
"Hmm, kenapa dia sebaik itu." Aku malah bertanya kenapa dia baik padaku.