BALLERINA SECRET LOVE

BALLERINA SECRET LOVE
Part 59. Good Technique 2


__ADS_3

"Siapa yang iri padamu playboy. Jika aku punya pacar, aku tidak akan menemanimu makan malam lagi." Aku harus menemukan pacar untuk menghindarinya, seharusnya aku mencoba menemukan seseorang dari Tinder saja.


"Tidak boleh, kita harus tetap makan malam. Untuk menceritakan pengalaman kita."


"Aku tak sudi mendengarkan pengalamanmu." Dia membuatku ingin menyumpal mulutnya.


"Kenapa kau tidak punya pacar?"


"Belum ada yang kusuka alasannya sederhana."


"Pria-pria di tempatmu, mereka penari bukan. Pasti mereka banyak mendapatkan job bayaran untuk pelanggan mereka. Mereka mendapat kencan sekaligus dibayar. Jangan berkencan dengan mereka, mereka sudah terbiasa dengan uang mudah."


"Aku tahu." Memang benar apa yang dikatakannya, penari pria ditempat kami rata-rata punya kencan berbayar. Bukan hal yang mengherankan karena wanita terpesona dengan penampilan atletis mereka.


"Ayo kuantar pulang. Ini sudah malam."


"Kau mau mengantarku ke rumah?"


"Iya seperti biasa."


"Baik hati sekali, padahal itu cukup jauh."


"Aku yang mengajakmu makan malam aku harus mengantarmu pulang. Sehari-hari kau akan tinggal di Queens?" Dia sekarang berlaku bahwa yang dia lakukan adalah kewajiban. Aku tak mengerti apa yang ada di pikirannya.

__ADS_1


"Apa kau selalu mengantarkan teman kencanmu pulang?" Sekarang aku penasaran.


"Tidak."


"Kenapa malah terbalik." Bagaimana mungkin dia tidak mengantarnya. Sedangkan dia dengan rela mengantarku. Aku tak mengerti logika yang dia pakai sekarang.


"Kau masih teman jangka panjang, tapi mereka hanya teman baik saja. Aku mungkin bertemu mereka minggu ini tapi minggu lain tidak." Logika teman baiknya ini sangat kejam.


"Aku sangat tersanjung " Aku mengangkat ujung bibirku untuk mengatakan dia tidak normal.


"Sarkasme mu itu sangat kejam."


"Aku tak mengerti jalan pikiranmu."


"Seperti yang kubilang, hanya kau yang lolos dari masalah trust issueku, lagipula jika aku terus berkencan dengan mereka mereka akan punya banyak tuntutan."


"Ya, mereka akan menuntut status dan tunjangan bulanan tentu saja.Padahal tidak ada yang menyuruh mereka meneleponku dan mengajakku kencan."


"Jadi yang kencan denganmu itu semunya menelepon duluan. Kau pikir aku percaya pada kata-katamu."


"Tidak masalah kau tak percaya, memang itu yang terjadi."


"Apa kau memang sepopuler itu?"

__ADS_1


"Tak diragukan lagi."


"Dimana kau berkenalan dengan wanita?" Sekarang aku mau mengorek ilmu berkencannya.


"Paling mudah di acara amal. Entah kenapa banyak wanita yang mengajakku kenalan, tinggal memberikan meraka nomor telepon, mereka yang menelepon duluan, mengajak makan malam, membawakan mereka bunga, aku membayar bill tentu saja, dan mereka menawariku tinggal, aku tinggal memastikan mereka puas, mereka pasti menelepon lagi." Aku menaikkan alis.


"Begitu saja. Tanpa usaha apapun lagi?" Apa semua wanita ini begitu terpesona pada posisinya dan ketampanannya.


"Iya?"


"Aku tak percaya. Kau tidak pernah mengejar wanita-wanita itu?"


"Tidak. Modalku cuma makan malam, bunga dan pembicaraan basa-basi yang biasanya lebih banyak mereka yang bicara." Benarkah begitu mudah baginya untuk mendapatkan kèncan.


"Apa kau begitu bagus."


"Kau juga menawariku kencan duluan." Aku meringis.


"Itu karena hal lain." Motivasiku berbeda dengan wanita-wanita itu. Dia sumber penghasilan bagiku.


"Ya, benar juga, tapi kurang lebih semua wanita yang menawarkanku kencan duluan bukan aku yang mengejar mereka."


"Kau memang bangs*at yang beruntung."

__ADS_1


"Kau benar. Aku bangsat yang beruntung." Dia malah tertawa.


Aku sudah selesai mengoreknya, kurasa satu-satunya yang menyebabkan wanita menyukainya hanya tekniknya yang bagus.


__ADS_2