
Allison memang harus melapor pada Ayahnya. Tapi Sara adalah seorang agen, dia bekerja di bawah Ayahnya, dia punya perasaaan jika Ayahnya sudah tahu masalah ini.
"Kau sudah melapor kepada Ayahku bukan?" Pertanyaan tiba-tiba Allison mengejutkan Sara.
Sekarang Sara diam. Mati kutu. Dia tak tahu gadis itu benar-benar punya intuisi tajam. Mau tak mau dia harus berkata sejujurnya kepada Allison.
"Harga enam foto itu dua ratus dollar dan temanku menghinaku mengatakan ponsel yang kupakai murahan."
"Apa?!" Allison tidak mengharapkan kalimat yang di dengarnya itu dan dia tertawa terbahak-bahak sekarang. Sara melihatnya dengan meringis ... Dasar orang kaya, mereka tidak mengerti rasanya harus menyisihkan uang. Tentu saja dia sayang menghabiskan uang ke ponsel mahal seperti temannya itu.
"Kau memang tega menertawakanku." Allison masih menyembur tertawa. Dia berusaha menahannya tapi melihat wajah sedih Sara dia tertawa lagi. Sementara Sara bersyukur Allison tidak marah padanya karena menyinggung urusan pribadinya.
__ADS_1
"Baik-baiklah, foto itu mahal. Aku mengerti."
"Kau bekerja sebahai agen belilah ponsel yang bagus. Kau ini perhitungan sekali." Allison membuat komentarnya sendiri. Mereka sama-sama tertawa kemudian.
"Aku perlu uangku untuk cadangan jika Ibuku sakit. Aku tak berani membeli ponsel mahal seperti kalian."
"Ya akibatnya kau diremehkan temanmu." Allison tertawa.
"Tidak apa. Aku mengerti apa pertimbanganmu. Yah baiklah, sepertinya aku tak bisa berharap ke Alton Mason ini juga, dia ternyata memang terlibat politik juga.... Haaah, tadinya aku berpikir dia orang profesional yang bergantung pada bakatnya, tidak perlu memakai cara kotor. Ternyata aku salah lagi." Sekarang dia agai bersedih dengan keadaaannya. Orang yang dia percaya malah sangat mengecewakan dan membuatnya marah. Dia seperti ditipu didepan hidungnya.
Allison menghela napas panjang. Sara jadi kasihan melihatnya. Dia pasti patah hati, tidak sepenuhnya kebal dengan perasaan melankolis itu.
__ADS_1
"Kau akan menemukan yang baik di depan pasti ada. Jangan merasa sedih untuk orang yang berusaha memanfaatkanmu. Kau tidak layak meneteskan air mata untuknya ." Sara berusaha memberikan sudut pandangnya ke Allison. Setidaknya itu akan menghibur untuk orang yang bisa berpikir logis seperti Allison.
"Kau benar tak ada gunanya merasa sedih untuk orang-orang yang memanfaatkan kita. Terima kasih sudah membuka mataku." Allison merangkul Sara, menganggapnya teman yang memang bersikap selayaknya sebagai teman, mereka saling membela satu sama lain.
"Ehhh, mengenai ponselmu aku punya beberapa ponsel bagus hadiah yang tidak pernah kupakai, kau mau. Ponselmu itu memang jelek,..." Allison sekarang tertawa.
"Tidak...tidak. Tak usah, aku bisa beli sendiri."
"Ini benar-benar hadiah yang tak kupakai. Aku banyak menerima hadiah produk terbaru seperti itu. Ini bukan sesuatu yang besar, biasanya aku pak lagi sebagai kado entah ke siapa. Aku akan marah kalau kau tidak menerimanya. Oke." Allison mengancamnya dengan wajah serius sehingga membuat Sara mau tak mau tertawa.
"Baiklah, aku menerimanya. Terima kasih."
__ADS_1
"Itu bukan apa-apa. Apa Francoise pelit itu tak memberimu sesuatu, akan kumarahi dia. Kau bisa minta padanya, bersikaplah sedikit manja..." Allison tiba-tiba tertarik soal hubungan kami.