
Thomas telah memberitahuku cerita tentang Nicholai dan misi barunya yang kemungkinan akan terlibat dengan pemilihan umum enam bulan lagi.
"Aku harus bicara dengannya sendiri? Kau tidak bisa terlihat? Kau yakin aku bisa?" Dengan posisi mata-mata itu aku tak yakim aku bisa adu bicara dengannya. Aku perlu seseorang yang lebih pintar bicara.
"Tidak nanti ada yang akan membantumu tentu saja, mana mungkin ķami membiarkanmu sendiri?
"Siapa yang akan membantuku?"
"Tuan Francoise Civil, Boss memintanya langsung, jadi dia akan jadi partnermu. Dia punya jabatan dan dia juga adalah korban kalian, jadi dia punya kapasitas untuk membelamu." Aku cukup lega dia yang ditunjuk membelaku.
__ADS_1
"Apa kalian akan mengamankan Katarina dan Shasha terlebih dahulu."
"Iya, begitu pesawatnya berangkat kami akan menangkap dua orang wanita itu. Itu akan memberikan tekanan bagi mereka saat kalian bicara, kami juga akan membeberkan jaringan mata-mata mereka di Rusia, jika mereka tak mau kerjasama kami akan menangkap semuanya. Nanti akan ada 4 orang bersama dua wanita itu yang kami akan tangkap untuk menjamin mereka mau bekerja sama. Aku mengirimkan padamu dan Francoise poin-poin kesepakatan yang kami inginkan. Nanti kami akan membantu kalian bicara."
Thomas menimbuniku dengan perintah yang harus kulakukan, aku tak yakin bisa melakukannya tapi untungnya aku punya back up, Francoise. Dia pasti bisa diandalkan untuk membuat kesepakatan seperti ini.
"Franco, kau sudah mendapat telepon dari Thomas bukan?" Hari ini kami makan malam di sebuah restoran Spanyol di Quuens, ini hari biasa di mana kami bertemu dan saling mengobrol, dua hari lagi aku akan ke bandara dan menghadapi Nicholai. SQ
"Apa menurutmu ini akan mudah?"
__ADS_1
"Kurasa dengan jaminan di tangan kita boss Nicholai tidak akan punya pilihan selain menuruti kita. Tenang saja ada aku di sampingmu, kau hanya harus menyapa Nicholai dengan baik-baik. Kita tidak memulai perundingan dengan tensi tinggi." Dia sudah tahu bagaimana menghadapinya. Aku tinggal percaya pada arahannya saja sekarang.
Mendengar dia bicara cukup tenang aku terbawa perasaan tenang juga. Harusnya tak ada insiden yang menegangkan bukan. Kami hanya dikirim untuk bicara bukan dikirim untuk operasi militer.
"Tidak akan ada yang mengeluarkan senjata di sini bukan." Francoise langsung tersenyum, di pikiranku ada skenario dia tidak puas aku telah mengkhianatinya lalu dia menodongkan senjata lalu terjadilah sesuatu yang mengerikan.
"Tidak, jangan khawatir kita akan mengajaknya bicara dengan baik-baik, jika dia melakukan itu dia mengkompromikan nasib semua rekannya yang sudah kita pegang namanya di sini, kau sudah lihat poin pembicaraan yang dikirim Thomas bukan. Nanti kita akan buat simulasi latihan."
"Iya aku sudah lihat, aku memang ingin mengajakmu latihan sambil membicarakannya." Jadi malam itu kami duduk berdampingan, beebicara pelan, karena yang kami bicarakan adalah hal keamanan negara sambil menulis apa yang akan kami bicarakan dan dia membantuku bagaimana aku seharusnya bicara pada Nicholai awalnya.
__ADS_1
Dia lebih terlatih untuk melewati ini tentu saja, karena dia direktur perusahaan, dia sudah melewati banyak pertemuan, negosiasi dan meeting yang tak terhitung. Sementara aku di bidang seni hanya tahu bagaimana membuat orang kagum dengan tarianku.
Tapi walaupun begitu dia dengan sabar mengajariku.