
Jikapun terjadi sesuatu nanti, aku dan dia hanya teman baik. Aku tak akan membiarkan diriku berpikir dia bisa menjadi milikku. Tak boleh ada pikiran seperti itu.
"Boleh aku memegang lenganmu?" Aku berbisik padanya, hati-hati meminta persetujuanya untuk tindakanku.
"Iya. Tentu saja, kita harus terlihat mesra bukan." Menyelipkan tanganku pada lengannya dan mengikutinya berjalan. Ada pengawal yang nampaknya membukakan pintu untuknya.
"Dean, aku membawa mobil sendiri. Kembali ke apartment."
"Mengerti Sir." Pengawal itu memberikan kunci mobil pada Franco, ada mobil lain siap di belakangnya.
Kemudian dia bahkan membukakan pintu untukku, membuatku tersenyum berterima kasih. Mungkin dia memang semanis itu ke setiap 'teman baiknya'.
"Kau tidak punya jadwal pertunjukan besok."
"Ada."
"Pertunjukanmu pasti menarik." Aku meringis. Pria mereka tak bisa tidak memikirkan hal yang menarik di pikiran mereka bukan.
"Datanglah jika kau ingin melihatnya, jadwalku di 1Oak besok. Tapi aku bukan penari utama, ada satu seniorku yang memegang spot itu, bagaimanapun aku baru berlatih selama 3 bulan, temanku tahu aku perlu pekerjaan ini makanya dia memberikan jadwal cepat untukku."
"Hmm...mungkin jika aku punya waktu nanti. Kau tak merindukan ballet." Aku berpikir mungkin dia tidak berselera pada pertunjukan panas semacam itu, yang menjadi fe*tishnya adalah penari ballet. Dia menyukai pertunjukan klasik, mungkin pole dancing terdengar sangat modern dan tidak sesuai dengan seleranya.
"Setiap hari aku merindukannya."
"Mungkin kau bisa menjadi guru ballet."
"Tidak dalam waktu dekat yang pasti."
__ADS_1
"Kau benar juga."
Dia bicara tentang sedikit ceritanya di balet, dia masih menjadi calon penari profesional sampai umur 14 tahun, sebelum sebuah cedera mengubah jalannya.
Nampaknya dia menghargai tahun-tahunnya di dunia ballet.
"Kau menari sekarang."
"Sedikit, belakangan aku belajar waltz, tarian klasik, aku menyukainya."
"Waltz, menarik." Sudah kuduga dia menyukai seni klasik bukan kontemporer.
"Kau nampaknya pedansa yang hebat tuan Direktur."
"Apa kau tidak punya kesulitan berubah dari ballet ke pole dancer?" Aku meringis dengan pertanyaannya.
"Jika boleh jujur rasanya di banting dari panggung terang penuh cahaya ke panggung gelap penuh dengan asap, tapi aku tak bisa bertahan untuk menjadi idealis sekarang. Idealismeku tak akan menjadi dukungan untuk Ibuku. Jadi aku mengabaikan bagaimana rasanya. Dan hanya berupaya menjadi yang terbaik yang aku bisa. Akhir cerita, aku tak mau mengeluh apapun di depanmu Tuan Direktur. Aku sudah dapat puluhan ribu, cukup untuk dana cadangan Mom, aku bisa memberikannya uang belanja lebih juga, itu sangat menyenangkan, aku tak akan mengeluh. Lagipula itu tak seburuk yang kau pikirkan."
"Aku tak bermaksud memgatakan itu buruk, aku hanya ingin tahu bagaimana kau bisa menjalani pergantian semacam itu."
"Aku bisa. Kau tak usah khawatir, ini pilihanku sendiri."
Tak punya pilihan karena keadaan ekonomi jelas tak pernah terjadi padanya, walaupun dia di besarkan oleh single mother seperti Ibuku jelas keluarga Ibunya jauh lebih mapan dari Ibuku.
"Aku tak berniat membuatmu marah, maafkan aku."
"Aku tak marah." Aku tersenyum singkat, dan menghela napas, menawarkan perasaan tertekan karena diingatkan harus meninggalkan ballet.
__ADS_1
Aku membuang pandanganku ke jalanan. Sejenak tak ingin bicara lagi.
Kami memasuki Riverside Boulevard, ternyata dia tinggal di Rushmore, sewa di sini mungkin bisa 50x lipat sewa apartment kecilku di LA. Itu bukan unit apartment, ini kondominium. Aku harus mengingatkan lagi kami di dunia yang berbeda.
"Maaf aku menggangumu malam ini." Aku yang tak pernah punya kemewahan seperti ini merasa seperti tak layak di sini. Ini hanya perasaan, ya mungkin benar.
"Tidak ada yang bilang kau menganggu. Ayo masuk." Aku mengekor, mungkin nanti setelah aku selesai dengan ponselnya aku bisa pulang, walaupun dengan pengaturan yang sekarang itu mungkin jam dua atau tiga.
Aku memasuki unit kondominium itu, segera pemandangan Hudson River dan aerial Manhattan yang mengagumkan memanjakan mata. Aku sesaat berdiri di samping jendela dan mengaguminya.
"Kondominiummu pemandangannya bagus sekali." Tentu saja bagus, harganya juga luar biasa. Ya, itu sesuai dengan jabatannya tentu saja.
"Terima kasih." Dia hanya tersenyum dan membiarkanku mengaguminya
"Tuan selamat datang, kamar Anda dan Nona sudah siap." Seorang housekeeper menyambut kami.
"Aku bisa kembali ke rumah, tak usah menginap di sini, aku hanya harus menunggu sekitar mungkin dua jam untuk memasukkan alatnya."
"Terima kasih Marian, kau boleh pergi." Housekeeper itu pergi hanya tinggal kami di sini, mataku masih melihat ke pemandangan di depanku.
"Kau marah? Aku minta maaf, bukan maksudku merendahkan apa yang kau lakukan sekarang." Dia berdiri di sampingku.
"Aku tak marah Tuan Direktur." Aku tak menangapi kata-katanya dengan serius, aku tak melihatnya, lagipula apa aku berhak marah. Aku berhutang terlalu banyak padanya.
"Jika kau tak marah kenapa kau menolak melihatku." Kata-katanya membuatku menoleh padanya.
__ADS_1
"Aku tak marah." Aku melihatnya dan tersenyum. Buat apa dia minta maaf padaku.
\=\=\=/