
POV Author
"Kau memang tak mau bicara padaku lagi?" Mary Aides menelepon anak laki-lakinya yang sudah tak mau bicara dengannya dari sejak dia menampar kakasihnya.
"Apa yang kau inginkan Mom."
"Jadi kau lebih membela wanita itu daripada Ibumu sendiri?"
"Kau akan membahas ini lagi sampai kau puas Mom? Apa kau ingin aku menuruti apapun yang kau inginkan, tidak akan terjadi lagi." Francoise sudah lelah dengan desakan Ibunya, dia tak akan mendengarkan apapun lagi.
"Setidaknya kau tidak mengencani penari striptease. Kenapa kau bodoh sekali. Maureen ribuan kali lebih baik darinya." Mary Aides masih menganggap Sara adalah penari striptease sebagian karena provokasi Maureen.
Tapi sekarang Francoise punya berita bagus untuknya soal Maureen Markson.
"Maureen sudah masuk ke penjara Mom jika kau ingin tahu." Ibunya kemungkinan besar tak tahu kalau semalam Maureen masuk ke penjara karena menculik Sara.
Dia sendiri heran kenapa Sara pulang hampir jam tiga pagi, walaupun dia sudah bilang kalau dia punya tugas dari biro. Tapi ternyata sesuatu yang luar biasa terjadi, sebuah cerita penculikan. Dia pikir dia mendengar cerita film action, tapi itu benar-benar terjadi, Maureen Markson sudah mendekam di penjara pagi itu.
Dia bersyukur saat itu sangat kebetulan sekali Sara selesai menyelesaikan tugasnya. Dan itu seperti cerita seseorang penjahat berbuat onar di kantor polisi dan gadis yang dibanggakan Ibunya itu ternyata seorang kriminal.
"Kenapa dia bisa masuk penjara?!" Mary Aides langsung kaget mendengar itu
"Karena dia menculik Sara dan ingin mencelakai Ibunya juga. Setidaknya itu akan berakhir dengan beberapa tahun penjara. Menantu yang kau banggakan itu memang psikopat kriminal. Ternyata seleramu sangat bagus Mom. Setelah ini Maureen sialan itu akan mendekam lama di penjara." Francoise menceritakan lengkapnya bagaimana Sara diculik dan temannya yang melihat melapor ke polisi. Itu cerita untuk menjelaskan bagaimana cara Sara begitu cepat ditemukan untuk orang luar, karena indentitas Sara sebagai agen tak bisa dibocorkan.
Mary Aides tak bisa bicara sekarang, dia sama tak percayanya mendengar berita yang mengejutkan itu sekarang.
"Maksudmu dia menculik Sara sendiri atau menyuruh orang menculiknya? Apa itu asumsi saja?" Astaga dia masih tak percaya.
__ADS_1
Sekarang Francoise menceritakan lebih lengkap ceritanya kepada Ibunya minus dia adalah agen karena itu memang tak boleh diceritakan. Ibunya menghela napas.
"Tetap saja dia adalah striptease, apa yang kau banggakan dari itu." Francoise menghela napas panjang dengan kata-kata Ibunya.
"Aku sudah bilang dia bukan penari striptease, yang sebenarnya dia bahkan bekerja dengan Lyold Austin." Bekerja dengan Tuan Lyold Austin, tidak secara langsung mengatakan Sara adalah agen, jadi Francoise merasa tak apa mengatakan seperti itu.
"Dia bekerja untuk Lyold Austin? Kau bercanda?"
"Memang iya, kau boleh tanya ke Tuan Lyold apa dia mengenal Sara Adams." Mary Aides tetap berpikir anaknya berkata omong kosong, karena dia berpikir Francoise memperhitungkan dia tidak mungkin bertanya ke Tuan Lyold Austin hal yang tidak jelas seperti itu, lagipula kapan Mary Aides bisa bertemu Lyold Austin, bahkan dia tidak akrab dengan menteri tingkat tinggi itu.
Apa yang mereka urus tidak ada hubungannya. Jadi bagaimana dia punya keberanian menanyakannya. Dia bekerja pada Lyold Austin sebagai apa? Pegawai rendahan, bagaimana Tuan Lyold Austin tak menertawakannya jika dia bertanya soal pegawai rendahannya. Bagiamana dia bisa mengenal Sara, jadi Ibunya langsung mengesampingkan apa yang dia dengar.
"Kau memang pintar berkata-kata?"
"Aku pintar berkata-kata? Sudah kubilang jika kau tak percaya kau bisa menanyakannya sendiri Tuan Lyold, dia mengenal Sara, bahkan Allison putri Tuan Austin pun mengenal Sara."
Dia menutup teleponnya, tak habis pikir bagaimana anaknya yang sudah disekolahkannya dengan tinggi, pergaulannya pun baik, bisa mencintai wanita itu. Apa yang dilihatnya dari Sara.
Sementara Francoise putus asa kenapa Ibunya tidak percaya apa yang dikatakannya.
"Aku sudah mengatakan kau bekerja dengan Tuan Austin dia tetap tak percaya padaku." Sara yang melihat apa yang dilakukan oleh Francoise hanya tersenyum mengerti. Sampai sekarang Ibunya masih belum bisa menerima kehadiran Sara.
"Hmm...mungkin dia berpikir jika bekerja dengan Tuan Austinpun aku adalah level pesuruh yang tak penting." Persis itu memang itu memang yang dipikirkan oleh Mary Aides.
"Setidaknya dia tidak bisa lagi menyebut soal Maureen. Psychopat itu sudah masuk penjara. Kriminal sekali berani menculik orang lain." Francoise sangat memandang rendah gadis itu sekarang.
"Aku tak menyangka dia akan menculikku. Dia memang putri yang tak suka dilukai perasaannya."
__ADS_1
"Aku tak perduli Ibuku mau setuju atau tidak dengan hubungan kita. Bagaimana jika kita ke Marseilles, ke tempat Ayahku. Aku sudah setahun ini belum kesana mengunjunginya. Lebih baik mengenalkanmu ke Ayahku.
"Ohh Ayahmu?" Marseilles kedengarannya itu tempat yang indah buat Sara. Dia selalu ingin pergi ke Perancis.
"Dia sudah punya cucu bahkan, ayahku dia punya bengkel mobil yang sukses di Marseilles, dia hidup bahagia di Perancis."
"Terdengar bagus. Menikmati hidup dengan baik memang merupakan seni yang baik." Sara setuju seseorang memang harus menikmati hidupnya.
"Ya begitulah. Dia orang yang menjalani kehidupannya dengan santai, tidak seperti Ibuku yang punya target dan ambisi tinggi. Tapi keberuntungannya bagus... Bengkelnya berjalan dengan baik. Kupikir karena dia memperlakukan pelanggannya serupa dengan teman, dia menyapa semua orang. Dia tipe Paman baik hati, teman populer, orang yang mudah tersenyum dan mendengarkan, hal-hal yang membuat orang mengingatnya sebagai teman."
"Terdengar sangat bagus. Dia nampaknya orang yang memang menyenangkan."
"Kau akan menyukainya. Oh ya kau tak pernah cerita tentang Ayahmu? Dimana dia tinggal." Pertanyaan itu membuat Sara berhenti sebentar.
"Dia seorang chef yang bekerja di kapal pesiar. Tapi sekarang dia sudah punya restoran sendiri di San Francisco."
"Ohh begitu. Apa hubungan kalian baik?"
"Ehm, aku jarang menghubunginya. Tapi kata Mom dia bertanggung jawab mengirimkan biaya sekolahku. Tapi kami tak dekat."
"Oh begitu."
"Jika kita ke Perancis, mungkin baru bisa dilakukan setelah pemilihan selesai. Aku pasti diperlukan Thomas. Sekarang aku tak bisa banyak pergi, masih ada urusan dengan polisi soal Maureen juga."
"Baiklah."
"Dan jika ke Perancis aku ingin mengajak Mom. Dia selalu ingin ke Paris, keuangan kami terlalu pas-pasan untuk liburan yang jauh. Boleh bukan?"
__ADS_1
"Tentu saja, Ibumu juga pasti akan senang kita mengajaknya berjalan-jalan."