
"Oh ya, dia bilang padaku dia ingin mengunjungi Mom. Tadinya dia ingin bertemu denganku, tapi rehearsalku padat sekali sehingga aku tak bisa bertemu dengannya." Ashley bilang dia hanya beberapa hari di NYC karena pembukaan sebuah klub baru yang memerlukan kehadirannya.
"Apa pekerjaannya sekarang? Kau tahu dia terlihat, makmur." Aku tersenyum, Ashley memang makmur, dia sudah berkali-kali mengatakan aku harus ikut dengannya.
"Dia sekarang pole dancer sukses."
"Pole dancer? Wow..." Itu memang profesi yang 'wow', tapi dia benar hanya penari walaupun dia bekerja di lingkungan seperti itu, dia tak pernah merendahkan dirinya, seperti menjual dirinya sendiri.
"Iya pole dancer." Temanku itu menari juga, aku kenal dengannya saat kami sama-sama masuk group ballet anak-anak di LA, tapi dia tidak idealis sepertiku yang tetap di jalur balet klasik walau gajinya kecil dan punya jam kerja yang meyiksa.
Dia di jalur kontemporer bahkan di jalur yang jarang diambil orang lain. Gaji dan tipnya besar, jauh lebih besar dariku berkali-kali lipat, dia bilang aku bodoh bertahan di sana, gaji principal tak ada apa-apa dibanding dengan gaji dan tipnya.
Aku sebenarnya mempertimbangkan tawarannya, tapi aku menunggu kesempatan promosi menjadi principal, bagaimanapun aku sudah bernapas di seni ini selama hampir seluruh hidupku, meninggalkannya bukan pilihan yang mudah. Seperti musik-musik klasik itu sudah meresap di kepalaku dan membuatku harus mendengarnya setiap hari seperti candu.
__ADS_1
"Pole dancer, nampaknya itu menantang. Tapi terdengar sedikit beresiko, itu pekerjaan di klub malam bukan. Nampaknya banyak orang-orang tak baik di sana." Aku meringis mendengar kata-kata Ibu.
"Mom orang jahat selalu ada di mana saja, itu tergantung kita mau terlibat dengannya atau tidak." Terlibat dengan donatur yang hanya menganggapmu teman itu juga salah satu contoh hal tak baik.
"Tetap saja rasanya itu tidak benar." Aku jadi urung mengatakan padanya jika aku tak bisa mendapatkan jabatan principal aku akan mempertimbangkan untuk menerima tawaran Ashley. Jika aku melakukannya aku akan bilang aku pindah ke ballet company yang lain saja.
"Itu sah-sah saja ketika kita tak merasa itu jadi beban. Buktinya Asley menyukainya."
"Hmm ya kau benar cuma Mom tak menyukai tempatnya mungkin. Sudahlah, Mom ingin lihat foto-foto pentasmu, kau sudah punya bukan. Makanlah dulu dan ini kuemu." Kami menyudahi pembicaraan soal Ashley.
"Bagaimana hari liburmu." Dia tahu kami libur di hari Senin rupanya. Aku melihat pesan itu muncul di notifikasi dan tidak berniat membalasnya dengan cepat.
Dia sedang butuh teman baru, aku tak berniat menanggapinya. Dalam dua jam kemudian baru kubalas.
__ADS_1
"Sir Francoise, iya aku sedang di rumah Ibuku."
"Nampaknya kau sangat dekat dengan Ibumu." Dia langsung membalasnya.
"Iya, dia orang tua satu-satunya. Jelas aku dekat dengannya."
"Begitu rupanya, Ayahmu sudah meninggal?"
"Ibuku bercerai." Aku hanya menjawab singkat.
"Pasti berat buatmu."
"Sudah terbiasa kukira."
__ADS_1
Tidak, aku tidak mengatakan laki-laki semuanya buruk, hanya mungkin Mom dan Dad tidak cocok, Ayah punya prioritas yang lain, aku telah lama belajar bahwa meskipun Ayahku tidak menganggapku sebagai prioritas tapi Mom menempatkanku di atas segalanya, aku beruntung punya Mom terbaik, walau tak beruntung dengan Ayah.
Anggap saja itu adalah kehidupan yang tak selalu sempurna.