
Seminggu ini aku khawatir bagaimana Ibu Francoise akan menerima kami, walaupun Francoise bilang aku tak usah mengkhawatirkannya tetap saja aku khawatir. Bagaimana nanti saat kami bertemu apa dia akan mencercaku di depan umum. Lebih baik kami tak bertemu begitu saja di pesta mungkin kami bisa bertemu di rumah dulu. Jika dia ingin memarahiku dan meluapkan emosinya lakukanlah di rumah dulu.
"Mom bilang dia punya pekerjaan, dia tak bisa menemui kita di rumah. Dia akan terbang di sore hari dan langsung bertemu kita di St. Regis. Dia akan menginap sebentar malam tapi paginya dia harus pergi lagi." Tapi harapanku ternyata tak bisa jadi kenyataan, kami akan langsung bertemu lagi di St. Regis langsung di hadapan banyak orang. Sekarang aku sedikit khawatir.
"Ohh begitu..." Jadi pertama kalinya kami bertemu lagi setelah acara tampar menampar itu adalah besok. Aku khawatir sekarang. Apa yang akan terjadi di sana.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Dia tak akan memarahimu lagi."
"Kuharap begitu. Jika di pesta dia memarahiku, mau ditaruh di mana mukaku di depan Allison."
"Tidak, itu tidak akan terjadi, tenanglah." Francoise menenangkan pikiranku. Tapi aku tak bisa tenang pikiranku sudah terlanjur dipenuhi hal buruk.
__ADS_1
Semoga benar dia bersikap begitu padaku, tidak usah terlalu ramah tak apa yang penting tidak membuatku malu di depan orang banyak. Walaupun mungkin kekhawatiran tidak beralasan karena tak mungkin juga dia berbuat hal seperti itu di acara yang dihadiri calon president.
Sementara orang tua Maureen sudah memberikan lampu hijau bahwa mereka sudah membicarakan nama Ibu sebagai salah satu kandidat Secretary of Energy dan menggalang dukungan untuknya. Aku tinggal menunggu hasilnya.
"Bagaimana calon mertuamu itu setelah kukirimkan undangannya kepadamu." Sekarang Allison yang bertanya kepadaku dengan penasaran.
"Entahlah kata Francoise dia berterima kasih, tapi harusnya dia tidak marah lagi padaku bukan, aku sudah mengusahakan banyak hal untuknya. Tak mungkin bukan dia menarahiku di depqn banyak orang seperti saat dia melabrakku di tenpat latihan?."
"Sayangnya tidak pernah."
"Hmm...mungkin dia gengsi minta maaf duluan." Allison tertawa.
__ADS_1
"Ya mungkin sekali begitu." Aku tak mempermasalahkan dia tak minta maaf, yang penting dia menyetujui hubungan kami. Mungkin aku yang harus minta maaf duluan tak apa, dan setelah itu semoga hubungan kami baik-baik saja.
"Nanti saat pesta aku yang akan mengenalkanmu ke Ayah. Dan setelah itu kau yang mengenalkan calon Ibu mertuamu itu ke Ayahku. Mungkin mereka sudah pernah bertemu sebelumnya. Tapi supaya dia tahu dia tak boleh meremehkanmu karena kau yang mengenalkannya."
"Iya baiklah, aku menerima pengaturanmu saja."
"Kau tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Lagipula walaupun Ibunya tak setuju kukira Francoise tetap memilih bersamamu bukan."
"Itu yang dia katakan tapi aku tak ingin kami berjalan tanpa persetujuan Ibunya. Seperti aku disuruh melawan Ibuku sendiri. Kau mengerti bukan maksudku."
"Yah aku mengerti maksudmu, tenang saja. Kali ini kau akan berhasil."
__ADS_1
"Kuharap begitu." Aku juga berharap ini akan berhasil.