BALLERINA SECRET LOVE

BALLERINA SECRET LOVE
Part 27. Party 4


__ADS_3

"Ini sudah tengah malam..." Dia melihat ke jam di kamar kami dan menguap. 


"Iya?" 


"Kau tak akan pergi saat aku tidur bukan?" Aku tertawa sekarang.


"Kupikir kau yang melalukan itu.Tentu saja tidak, kita bisa sarapan bersama besok jika kau ingin." 


"Besok akhir pekan, kau tak ada pertunjukan?" 


"Ada, tapi tak ada reharsal." 


"Kau akan pindah perusahaan? Katakan padaku apa yang akan kau lakukan. Kemana kau akan pindah?" Jika aku tak punya kesalahan padanya mungkin aku akan mengatakan kemana aku pergi, tapi yang sekarang kuinginkan adalah tak usah bertemu dengannya lagi.z


"Franco, kita tidak akan bertemu lagi, kau tak usah tahu apa yang akan kulakukan. Tapi baiklah aku akan pindah kota." 


"Kemana?" 

__ADS_1


"Rahasia." Dia tertawa. 


"Jika aku mau aku bisa menemukanmu." Sebuah debaran keras di dadaku, dia bisa mencariku jika dia ingin menemukanku? Siapa dia? Nocholai menargetkan ponselnya.


"Kau bekerja di mana? Kenapa kau bisa menemukanku jika kau ingin.


"Rahasia?" Aku cemberut.


"Kau detektif polisi?"


"Bukan."


"Bukan." Aku cukup lega dia tidak bekerja dengan CIA dan FBI. Dia bukan bekerja di badan negara kenapa kalau dia mau dia bisa menemukanku.


"Jadi dimana kau bekerja? Detektif swasta."


"Aku tak bisa memberitahumu sweetheart." Dia tersenyum padaku tapi kemudian matanya mulai terpejam. Obat tidur itu sudah bekerja.

__ADS_1


"Sok misterius. Kau menyebalkan." Dia tersenyum. Membalik badannya menghadap kepadaku, memeluk pinggangku dan menciumi leh*erku.


"Kau sudah melihat semuanya, apalagi yang misterius." Aku tersenyum, itulah perbedaannya kami di tingkat yang berbeda, perasaan kami di dunia yang berbeda itu menjatuhkanmu ke kenyataan pahit.


"Francoise yang bermulut manis, tidurlah. Jika kau tak ingin memberitahuku aku juga tak akan memberitahumu." Dia tertawa kecil, melepasku dan mulai memejamkan mata.


Aku melihatnya mengintip di balik selimut yang menyelimutiku, mencoba memejamkan mata bernapas sepelan mungkin. Melihat perlahan napasnya menjadi pelan dan stabil. Aku menunggu hampir satu jam dalam diam dan bergerak pelan.


Jantungku sekarang berdebar-debar keras. Berusaha membuat suara sekecil mungkin, sambil aku menggapai tasku. Sebuah alat berbentuk kotak sederhana yang di sembunyikan di pouch cushion foundation kuambil dari tasku dengan pelan.


"Tik." Suara kecil penutupan case pouch itu saat aku menutupnya membuatku hampir mengumpat, aku melihat ke belakang tapi dia tetap tidur dengan tenang. Jantungku kembali ke kondisi waspada.


Aku bergerak ke sisi lain tempat tidur, tiap langkah yang tak bersuara itu membuat jantungku yang berderak terlalu keras, aku menggapai ponselnya, menhubungkan alat itu ke colokan usbnya dan ponsel itu seperti menyala, ketika lampu indikator itu menyala aku harus menunggu 15 menit sampai lampu itu menjadi hijau.


Aku mengawasi napasnya kembali, napasnya masih tenang dan berdiri menunggu dengan serba salah dan ini adalah lima belas menit terlama dalam hidupku, rasanya hampir sepanjang malam.


Tadinya hampir tidak mau melakukan ini tadinya setelah berpikir ulang. Aku takut mereka akan menghubungkan ini langsung denganku.

__ADS_1


"Bagaimana jika dia tahu aku memasukkan sesuatu ke ponselnya."


"Tidak akan, jika mereka menscannya, kemungkinan yang mereka ketahui hanya rentang waktunya, misal dia scan seminggu sekali, maka yang ditemukan hanya dia telah mengakses sesuatu yang salah dalam minggu itu. Aku juga tak mau dihubungkan denganmu." Nicholai langsung membuat bantahan.


__ADS_2