
POV Author
Pembicaraan dengan Sara membuat Francoise ragu. Gadis itu sama sekali tidak perduli dengan dirinya, dia jelas-jelas mengatakan dia menyukai Matthew, apa dia kalah begitu telak dari Matthew padahal selama berbulan-bulan ini mereka bersama.
Dia tahu dia tidak mengatakan apapun, tapi bahkan tidak satupun teman baiknya punya hubungan seperti mereka. Walau dia tidak menyentuhnya harusnya Sara tahu itu adalah penghargaannya atas gadis itu.
Mungkin saat dia menyusulnya di Antigua dia bisa bicara dengan lebih jelas tentang hubungan mereka. Apa Sara punya kekhawatiran bahwa dia mungkin strata sosial mereka berbeda sehingga hubungan mereka tak mungkin.
Diam-diam Francoise memutuskan mengikuti kata hatinya sekarang. Dia tak ingin kejadian Beatrice terulang lagi. Jika dia tidak mendapatkan persetujuan Ibunya dia akan maju terus tanpa perduli apa perkataan Ibunya.
Francoise sekarang mengikuti undangan Ibunya makan malam ke rumah senator John McCain. Dia tak ingin lagi terlibat ini, ini kali terakhir dia pergi ke acara seperti ini.
__ADS_1
"Bersikaplah pantas."
"Aku tahu." Senator McCain, dia tidak pernah mengenalnya. "Ada kepentingan apa Senator ini mengundangmu makan malam Mom?"
"Ada pengusaha yang ingin bicara insentif riset teknologi mobil listrik, dia ikut makan malam di rumah Senator McCain nanti. Tuan Anthony Markson, nanti dia juga akan bergabung dengan keluarganya." Markson, Francoise merasa pernah mendengar nama Markson. Dimana dia mendengarnya. Dia berusaha mengingatnya tapi dia tak dapat mengingatnya.
"Begitu. Baiklah."
"Ini putriku Maureen Markson, kudengar dia dan putramu mengenal satu sama lain Ny. Aides." Anthony Markson yang mengenalkan Maureen ke Ibu Francoise langsung di sambut oleh Maureen dengan senyum lebar.
"Bibi, aku dan Francoise memang sangat mengenal dengan baik, kami teman baik, sangat senang bisa bertemu Bibi." Gadis cantik itu langsung membuat Ny. Aides tersenyum. Akhirnya ada seorang gadis yang terlihat pantas untuk putranya.
__ADS_1
Dan saat gadis itu langsung melingkarkan tangannya dengan akrab di lengan Francoise, mata kedua pihak orang tua memancarkan persetujuan sementara Francoise mati rasa. Sekarang dia mendapat tulah dari mencoba meninggalkan banyak gadis-gadis dengan plat 'teman baik'.
Dia hanya berkencan dengan gadis ini dua kali, dan itupun dia merasa bukan dia yang memulai tapi Maureen memang yang mulai menemuinya, tapi kemudian Philippe mengatakan sesuatu padanya yang membuat dia menjauhi gadis itu.
"Ahh ternyata kalian teman baik. Bibi senang dia punya teman baik sepertimu. Bibi sedikit mengkhawatirkannya dia tidak menemukan seseorang yang baik untuknya ternyata dia menemukan seseorang sepertimu, sungguh sebuah keberuntungan bisa mengenal putri Tuan Markson." Tentu saja dia tahu siapa Tuan Markson, berapa portofolionya, dia tak akan keberatan jika Francoise punya pasangan seperti Maureen Markson.
"Nyonya Aides, aku ingat sekarang putriku pernah liburan bersama seseorang dan dia tidak bilang siapa, rupanya putra Anda." Ini akan menjadi besar. Kali ini dia tidak bisa membantah, Maureen benar-benar tahu bagaimana menguncinya kembali.
"Rupanya begitu. Mereka terlihat cocok Ny. Markson, yang bisa kita lakuan hanya mendukung mereka sekarang." Ibunya menambah kayu bakar di atas tungku.
"Aku sangat setuju." Tuan Markson menambahkan. Sementara Maureen melekat sempurna di lengannya sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Francoise sekarang dalam masalah besar.