BALLERINA SECRET LOVE

BALLERINA SECRET LOVE
Part 150. Intimidation 4


__ADS_3

Tak lama kemudian Francoise datang dan menemuiku. Dia pasti khawatir padahal sudah kukatakan tak usah ke sini.


"Kau baik-baik saja. Apa ada yang sakit. Apa yang dilakukannya padamu. Maureen sialan itu, tunggu saja sampai aku membuat perhitungan dengannya." Dia memegang pipiku dengan khawatir dan wajahnya yang ketakutan membuatku mau tak mau tersenyum. Aku harusnya mengatakan padanya tak usah datang ke sìni. Padahal dia sedang di kantor, sedang bekerja.


"Kenapa kau kesini? Aku baik-baik saja." Ya dia pasti khawatir, khawatir aku tak bisa menerima kejadian ini dan berakhir meninggalkannya seperti kekasihnya yang sebelumnya. Itu mungkin ketakutan terbesarnya.


"Ibuku menamparmu, dia memang keterlaluan. Aku minta maaf kau harus melewati ini semua.


"Sudahlah tak apa. Aku baik-baik saja, hanya sebuah tamparan. Hanya sedikit kaget dia tadi langsung datang dan menamparku, nampaknya kemarahannya sudah di ubun-ubun."


"Kau marah? Kau berhak marah. Kau bisa mengatakannya padaku."

__ADS_1


"Tidak, dia mungkin sedang kesal karena dihasut oleh Maureen. Sudahlah... Kau juga jangan terlalu bertengkar dengannya, bagaimanapun dia Ibumu." Maureen sampai datang ke sini untuk sengaja menyaksikan aku dicaci maki oleh Ibu Francoise, dia pasti sangat puas hari ini.


Aku kesal dengan Maureen bukan dengan Ibunya.


"Apa yang harus kulakukan untuk minta maaf padamu." Aku mau tak mau tersenyum, saat dia memegang tanganku seakan dua bersalah besar padaku.


"Bukan kau yang salah. Aku tak apa. Ibumu memang sulit, apa yang bisa kuperbuat soal itu."


"Kau tak akan tiba-tiba menghilang bukan." Rupanya dia benar-benar takut aku marah dan meninggalkannya.


"Bagaimana jika kita pergi berlibur saja, kita belum pernah berlibur bersama. Aku bisa mengatur cuti sekitar dua hari." Dia sampai mengajakku berlibur, aku meringis lebar. Aku tak bisa berlibur jauh, aku harus melatih stamina dan kekuatanku untuk kembali bekerja normal segera, dan untuk itu aku tak bisa bolong latihan dan bersenang-senang.

__ADS_1


"Tak apa kau tak usah khawatir, aku tak apa. Lagipula aku tak akan biarkan Maureen melihat aku kalah dengan cara liciknya itu. Kau tenang saja." Aku teringat percakapan tadi nampaknya mereka mendatangi Mom. "Nampaknya mereka mengunjungi Mom dan mencacinya juga. Apa Mom baik-baik saja? Aku harus segera meneleponnya.


"Kemarin, Ibumu meneleponku saat kejadian itu. Ibuku sendiri yang bicara pada Ibumu, Maureen tidak ikut dan berakhir dengan Ibuku kesal karena dinasehati Ibumu."


"Oh benarkah?"


"Iya memang begitu kejadiannya. Kau bisa meneleponnya, kemarin dia menceritakannya padaku, dia bilang tak usah ceritakan padamu."


"Jika Ibuku kenapa-kenapa Maureen sialan itu yang akan membayarnya. Tapi satu saat aku akan membuat perhitungan sendiri dengannya."


Francoise melihatku dengan tatapan aneh.

__ADS_1


"Apa? Ada yang salah?"


"Kupikir aku akan kehilangan kau saat ini, kau selalu mengatakan dirimu tak punya kelas berdiri di sampingku. Tapi nampaknya semua kekhawatiranku sekarang terlalu berlebihan? Aku berpikir terlalu banyak?" Aku tersenyum menanggapi kata-katanya.


__ADS_2