
Hari ini Mom menelepon, tak biasanya dia menelepon agak malam.
"Say*ang, seseorang datang ke Mom hari ini. Kau pasti kaget." Aku mempunyai tebakan siapa yang datang.
"Oh ya, siapa."
"Ibunya Francoise, dia minta maaf ke Mom."
"Benarkah?"
"Iya. Mom sendiri kaget dia datang dan bicara dengan baik ke Mom."
Beberapa hari yang lalu memang Ibu Francoise ke NYC, aku dan Franc sempat makan malam sebentar dengannya. Tapi dia tidak pernah bilang akan menemui Ibu. Kejutan yang menyenangkan ternyata dia bertemu dengan Ibu.
"Kau apa sudah berbaikan sepenuhnya dengan Ibu Francoise?"
"Nampaknya sudah, dia tidak mempermasalahkan lagi kedekatan kami, seperti kuceritakan ke Mom beberapa minggu lalu saat dengan bantuan temanku aku mengenalkannya ke Lyold Austin dan membantu pencalonannya sebagai Secretary of Energy dia bersikap lunak padaku."
"Begitu rupanya. Temanmu itu baik sekali."
"Iya dia tahu cerita aku yang tak disetujui dia membantuku. Aku beruntung Mom."
"Mom turut senang mendengarnya." Mom diam sebentar. "Tapi kenapa dia bilang kau bekerja sebagai pole dancer, bukankah selama ini kau bergabung ke perusahaan ballet yang lain?" Akhirnya terbongkar juga.
"Ahh itu, Mom tak usah pikirkan. Aku bekerja di sana karena gajinya memang jauh lebih besar, sehingga cukup untuk menopang kita. Karena pekerjaan ini aku berkenalan dengan teman-teman yang sekarang dan bisa memperoleh persetujuan Ibu Francoise jadi Mom tak usah pikirkan aku. Mom jangan marah oke, bukan aku tak memikirkan uang yang telah Mom keluarkan untuk sekolah baletku." Mom menghela napas sekarang.
"Bagaimana mungkin Mom marah, kau sudah meninggalkan dunia yang kau suka karena harus menopang Mom. Mana mungkin Mom marah kepadamu." Aku lega dia tidak marah.
"Pole dancer bukan stri*ptea*se Mom. Itu lebih seperti akrobat, aku tak melakukan hal yang memalukan."
"Iya Mom tahu. Mom awalnya kaget waktu Ibu Francoise cerita, karena Mom tak tahu, ternyata Ibu Francoise menjelaskan itu bukan seperti yang Mom pikirkan."
"Jadi Ibunya Francoise tahu jika Mom tidak tahu?" Aku sedikit tertawa, karena memikirkan bagaimana Mom akan menyangkal habis-habisan.
"Iya Mom tadinya menyangkal habis-habisan, tapi dia bilang kau anak yang baik, memikirkan Mom yang khawatir kau berganti pekerjaan karena ingin bisa memikirkan pengeluaran medis."
"Tak apa Mom. Aku mendapat bantuan dari teman, Mom tak usah kuatir apapun soal pekerjaanku."
"Ya baiklah, bagaimana Mom mau mengkhawatirkanmu, kau tak membiarkan Mom tahu apapun."
"Memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Yah walaupun aku pernah tertembak sekali. Itu sepertinya tak apa.
"Tapi Mom rasa jika kalian sudah menikah kau harus mencari pekerjaan lain bukan, yang lebih ramah terhadap citra suamimu."
"Iya, aku tahu maksud Mom." Lagipula memang aku tak bisa seterusnya di sana, pekerjaan itu membutuhkan stami(na dan kondisi yang prima. Jika entah bagaimana kami punya anak nanti aku harus keluar dari sana.
"Mom senang kalian sudah punya jalan untuk hubungan kalian. Akhirnya semua bisa diatasi."
Aku juga senang, kami semua senang semua orang menyepakati awal yang baru.
\=\=\=\=\=
Beberapa bulan kemudian walaupun kami sibuk hal-hal berjalan dengan baik. Kami memperoleh kemenangan di pemilihan presiden, yang membuat semua orang gembira. Dan bagi Mom itu berarti selangkah lagi dia lebih dekat ke jabatan impiannya.
Tapi yang terpenting adalah kami bisa bersama dengan damai.
"Sayang aku sudah pesan tiket kita ke Marseilles bulan depan, tanggal 20-26, pas di event ada libur panjang di akhir pekan, jadi kosongkan jadwalmu."
"Ohh baiklah, kita boleh mengajak Mom juga bukan?"
"Iya tentu saja."
Aku senang tentu saja, aku bisa mengajak Mom jalan-jalan, dan kami bisa berlibur, bisa bertemu dengan keluarganya yang lain. Aku senang kami bisa sampai ke titik ini. Titik dimana semuanya berada di alur yang tenang.
"Marseille benarkah, ..." Mom suprise mendengar kami akan ke Paris.
"Iya, mungkin kita bisa nonton pertunjukan ballet di Palais Garnier Mom. Aku akan bertanya ke Francois bagaimana jadwalnya nanti. Mungkin kita bisa memesan tiket yang cocok. Dia juga menyukai ballet."
"Boleh, Mom juga sudah lama tidak menonton sebuah pertunjukan." Dan aku merindukan menari ballet lagi. Kadang aku begitu ingin bisa kembali ke tempat pelatihan dan bergabung dengan mereka.
Tapi siapa yang bisa menerima hal itu.
"Sayang, aku boleh menonton pertunjukan ballet di Paris, apa kita akan ke Paris?"
"Iya boleh, kita tiga hari tèrakhir di Paris, empat hari di Marseilles. Kita mendarat di Paris dengan penerbangan 7 jam lalu naik bullet train langsung ke Marseilles, tiga jam, aku sudah menperhitungkan semuanya. Tiket perjalanannya sudah kubeli semua. Nanti di Marseilles kita menyewa mobil saja."
"Baiklah, Tuan Civil. Aku menurut saja pada yang punya negara. Apa kau fasih bahasa Perancis?"
"Tidak, aku hanya tahu sedikit. Tapi Ayah dan istrinya paham Inggris, kita tak akan kesulitan berkomunikasi."
"Itu bagus."
"Sayang, kau tak ingin kembali ke ballet? Dengan pencapaianmu di NYC Ballet Company kau bisa mengajar dengan gaji yang bagus di kelas intermediate, walau mungkin tak sebesar sekarang. Ada aku bersamamu jadi jangan mengkhawatirkan segala sesuatunya sendiri." Ternyata ini sudah dibicarakan sekarang, kalau dulu semuanya masih belum jelas karena Ibunya belum setuju, tapi sekarang aku merasa tak apa menerima bantuan secara langsung darinya.
__ADS_1
"Iya aku ingin mengatakan itu, tapi di saat yang sama aku masih punya kontrak dengan Thomas, aku harus membicarakan ini dengannya."
"Iya kau masih punya kontrak, jika kau membatalkannya di tengah jalan dengan Tuan Lyold Austin yang sudah membantu Mom akan terlihat tidak menghargainya. Tapi baiklah, setelah semuanya selesai kau harus kembali ke ballet. Kau mencintai ballet, kau harus kembali ke duniamu."
"Terima kasih sudah memikirkannya sampai jauh begini." Aku menggengam tangannya merasa beruntung punya seseorang yang begitu baik padaku.
"Kau juga sudah bertahan untukku walaupun sangat sulit untukmu. Di depan sana kita harus ingat kita sudah berjuang sampai di sini."
"Aku bahkan harus jadi agen FBI gadungan untuk ini, jelas aku tak akan melupakannya. Tapi nanti mungkin akan jadi cerita yang seru untuk anak cucu kita."
"Anak cucu, sayang kau sudah memikirkan sampai cucu." Franc tertawa dengan kata-kataku.
"Apa tak boleh..."
"Boleh, katakan kapan kau ingin membuat keturunan pertama." Dia m*emeluk dan menciu*mku setelah kata-kata itu. Membuat aku merasakan kebutuhannya dan mengurungku di bawahnya.
"Kenapa kau langsung bersiap begini..." Aku tertawa ketika merasakan dia meneka*nku dengan ekspresi ingin menyelesaikan tugas membuat bayi dengan segera.
"Ini siap membuat bayi, kau membuatku tak sabar..." Kim*ono tid*ur itu terlalu longgar untuk menghalangi tangannya menggod*aku dan sesaat kemudian sesuatu menyu*sup ke dalam tubu*hku, siap mengirimkan bagian kecil dari dirinya.
"Franc..." Aku menge*rang saat dia mengigi*t pelan lehe*rku.
"Kau mau sekarang Sara sa*yang." Menek*an dirinya ke bagian terdal*am hampir membuatku sampai ke akhirnya.
"Jangan berhenti Papa." Era*n"gan pu"asku membuatnya tak bisa bertahan. Sesuatu yang hangat mengalir di sela hent*akan dan den*gusan nafa*snya.
"Apa kau serius?" Dia bertanya karena sepertinya aku membiarkan semuanya terjadi. Aku menangkup wajahnya.
"Nanti Papa, setelah tugas sebagai agen selesai. Sekarang bukan saatnya." Alias aku tak berada dalam masa sub*urku, jadi aku membiarkannya melakukannya.
"Ohh, kau sedang tidak berada dalam periode ovul*asi." Aku mengangguk, dia terlihat sedikit kecewa.
"Tak apa bukan, ada saat terbaik. Jika entah bagaimana aku terlibat tugas rumit dalam setahun ini akan berbahaya. Kau jangan kecewa..."
"Iya aku mengerti maksudmu. Tak apa tanggung jawab menjadi orang tua itu berat, kita berdua saja dulu. Hanya kadang aku membayangkan semuanya terjadi."
"Akan terjadi tapi nanti."
"Iya satu saat pasti akan terjadi." Dia mengecup keningku dengan manis
"Aku mencintaimu ..." Kukatakan itu sebagai balasan kecup*an manis itu.
"Aku juga mencintaimu."
\=\=\=\=\=\=\=
Kami sudah berasa di Marseille, kota ini adalah sebuah kota kedua terbesar di Perancis yang terletak pelabuhan di Selatan Perancis, dengan nama Provence Alpes-cote d' Azur, Kota ini terlihat seperti kota Mediterranean daripada kota di Perancis, kota multikultural, mungkin karena banyaknya pendatang dari Afrika terutama pendatang dari Maroko dan Algeria yang dulunyq adalah wilayah koloni Perancis di Afrika dan karena ini terletak di ujung selatan yang berhubungan langsung dengan gerbang masuk koloni daerah ini adalah kota pelabuhan yang ramai.
Lavender fields of Valensole and Moustiers-Sainte-Marie
Luberon
Avignon
Saint Tropez
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Seafood adalah yang terbaik di sini. Kami mengunjungi tempat terbaik dimana ikan dan kerang datang tiap hari di pasar Quai des Belges.
Di antara pantai paling terkenal bagi penduduk setempat adalah Plage des Catalans, Plage Prado, dan Plage du Prophète. Mereka pasti akan sibuk selama musim panas, dan bahkan seringkali selama musim dingin ketika penduduk setempat akan menggunakan pantai untuk berjalan-jalan.
Marseille juga tidak jauh dari Cassis, kota kecil yang terkenal di seluruh dunia karena pantai, pelabuhan, tebing, dan teluknya. Ini adalah salah satu tujuan wisata paling populer di Prancis Selatan dan Eropa, dan populasinya yang kecil membengkak selama musim panas. Sebagai bagian paling barat dari Côte d'Azur (French Riviera), ini adalah tempat yang sempurna untuk dijelajahi dan ramai sepanjang musim panas oleh wisatawan dari seluruh dunia.
Aku melihat gambar yang ditunjukkan Francoise dengan iri, kami hanya punya empat hari di Marseille dan sebagian adalah hari untuk bertemu keluarga.
"Tak bisakah kita ke Velensole, melihat ladang lavender." Terlihat sangat indah, aku membayangkan berfoto diantara bunga-bunga ungu itu.
"Nanti kita akan kembali ke sini. Dan kita akan berkeliling lebih jauh." Mungkin seminggu juga tak akan cukup mendatangi semua yang hanya kulihat gambarnya ini.
Wisata tetaplah wisata, itu bisa menunggu nanti. Tujuan kami ke sini adalah dia ingin mengenalkanku kepada Ayahnya. Aku bertemu pria tua dengan senyum menawan itu di sebuah makan siang yang hangat yang di siapkan untuk menyambut kami.
"Ini Ayahku, Gerald Civil, istrinya Shopie Denauve." Aku menyalami dua orang tua yang seumur dengan Ibuku itu. Mereka tampak sehat, rumah mereka penuh dengan gambar anak dan cucu mereka. Rumah nenek dan kakek yang hangat yang akan menyambut cucu mereka dengan tangan terbuka.
__ADS_1
"Senang bertemu denganmu Sara." Pelukan hangat mereka membuatku merasa diterima.
"Sayang sekali kalian hanya empat hari di sini. Itu singkat sekali. Lain kali datanglah lebih lama berlibur ke sini. Rumah kami selalu terbuka untuk kalian." Istrinya yang ramah menyambut kami dengan hangat, menyapa Ibu dan mengobrol seperti teman lama yang sudah lama tak bertemu.
"Terima kasih Bibi, aku ingin sekali ke ladang lavender di Valensole, tapi seperti yang kau bilang kami cuma beberapa hari di sini jadi tak cukup waktu untuk ke sana."
"Iya, Perancis hanya 7 hari memang tak memuaskan. Karena dua hari sebenarnya habis untuk perjalanan jadi hanya lima hari dari tujuh hari itu kami benar menapaki Perancis."
Kami di sambut dengan hangat, melewatkan waktu bersama mereka, merasakan matahari Mediterranean yang hangat. Sungguh saat yang sangat berarti, Mom terlihat gembira, aku senang bisa membawanya kemari.
"Lihatlah foto-foto ini, ini kenangan yang indah." Francois melihat foto-foto anak-anak Ayahnya. Rumah mereka dipenuhi foto-foto kenangan. Ternyata ada juga fotonya waktu ikut berlibur ke sini.
"Nanti kita akan menambahkannya dengan foto anak-anak kita." Dia merangkulku dan tersenyum.
"Kita akan membuat galeri foto seperti ini juga."
"Aku setuju."
"Mungkin aku akan sampai melihat cucu juga." Aku tertawa.
"Jangan terlalu pesimis, itu sangat mungkin." Dia tersenyum.
"Ya kau benar, seharusnya aku tak boleh terlalu pesimis."
"Itu baru semangat."
Perjalanan singkat ke Marseilles berakhir, kami menghabiskan 2 hari satu malam terakhir di Paris kota penuh cinta. Paris.
"Sayang kita akan makan malam ke sebuah restoran istimewa hari ini, hanya kita berdua. berdandanlah yang cantik." Dia memang bilang kami akan punya malam dinner romantis. Aku hanya membawa gaun putih yang merupakan gaun yang pernah kupakai saat memikatnya pertama kali. Gaun yang diberikan oleh Nicholai untuk misi dan membuat kisah kami berlanjut sampai sekarang.
"Gaun ini ..." Dia melihatku dengan gaun putih itu.
"Gaun ini, banyak yang terjadi setelah itu."
"Kau mahluk putih tercantik yang pernah kutemui." Aku tertawa, tersipu kemudian karena dia memujiku begitu cantik.
"Terima kasih."
"Ayo, kita candle light dinner di kota Paris."
Kami memesan taxi dan tiba di sebuah restoran cantik, pelayan membawa kami ke sebuah ruangan pribadi.
"Apa kita perlu ruangan pribadi."
"Ini makan malam spesial. Kau sudah begini cantik" Dia tersenyum dengan ringan dan aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi malam ini.
Pintu dibuka dan ternyata sudah ada orang di ruangan, Ayah Francoise serta istrinya, Ibu Francoise dan Mom. Ruangan itu bahkan di hias dengan buket mawar aneka warna. Aku melihatnya dengan takjub.
"Kalian di sini semua, ..." Aku melihat mereka yang tersenyum padaku.
"Ini makan malam spesial untuk semua orang, terutama untuk kalian." Ibu Francoise sengaja terbang ke Paris? Ini ada apa. "Francoise Civil, bukankah ada yang ingin kau katakan sebelumnya." Aku berbalik ke belakang dan menemukan seseorang berlutut di depanku.
Jadi ini, ....
"Sara, aku tak punya banyak kata-kata yang bisa kukatakan padamu. Aku jatuh cinta padamu setiap hari, dan aku mau kau ada di hidupku selamanya sampai akhir nanti. Maukah kau menikah denganku." Dan sebuah cincin pertunangan diangsurkan.
Mataku memanas untuk lamaran indah ini. Kedua orang Ibu kami, berada di sampingku. Ibuku menyeka air matanya karena terharu dan Ibu Francoise tersenyum padaku.
"Sebaiknya kau katakan ya. Kalau tidak, dia sudah berjanji kepadaku dia tidak akan menikahi siapapun. Aku terpaksa harus mengantarnya ke biara." Aku tertawa dengan perkataan Ibu Francoise, semua orang tertawa, dia memberikan persetujuannya dengan menyediakan waktu terbang ke sini secara pribadi.
"Iya aku akan menikah denganmu." Dia bangkit dan dengan senyum lebar memasangkan cincinku diiringi tepuk tangan semua orang yang hadir.
"Akhirnya aku akan menikah juga." Yang kain tertawa dengan komentar mengasihani diri sendiri itu.
Makan malam berjalan dengan penuh canda tawa. Seorang staff restoran dengan baik hati bersedia menjadi dokumentator sehingga kami punya kenangan atas peristiwa indah itu.
Malam yang penuh cahaya di kota Paris yang tak akan kulupakan selama hidupku.
"Lamarannya sangat indah, terima kasih sudah membiarkan orang tua kita bergabung."
"Aku tahu kau pasti ingin Ibumu melihat putrinya dilamar. Aku sudah memberitahunya sebelum kita ke sini. Ibu juga tinggal di hotel yang sama mereka pergi bersama tadi."
"Senang melihat mereka bisa akur."
"Ibu bilang dia sudah minta maaf kepada Ibumu."
"Iya Ibuku juga bilang begitu."
"Apa kau suka cincinnya."
"Ini indah sekali, terima kasih." Aku mengagumi cincin tunanganku. "Setelah ini kita akan merencanakan pesta pernikahan. Ada banyak hal yang harus kita lakukan." Aku sudah membayangkan gaun pengantin cantik yang akan kukenakan.
"Banyak hal di depan. Tapi yang penting ada kau saat aku pulang ke rumah."
"Aku akan ada selalu."
Wahai kota cahaya, semoga cinta kami abadi seabadi cahayamu yang tak pernah berakhir
__ADS_1
Terima kasih yaaa sudah menemani mak nyelesaiin cerita ini. Sampai jumpa di novel baru yaaaa besok.