
"Kau Sara bukan?" Dua orang pria kulit hitam dengan penampilan jas dan kemeja kancing terbuka menyapaku. Kalung besarnya menjadi pameran kekayaan untuknya. Dan yang lain berpenampilan seperti rapper kaya.
"Iya, ada apa?" Perasaanku langsung tidak enak, padahal aku hanya ingin pulang dan istirahat sekarang kenapa dua cecunguk ini mengangguku. Aku melihat ke sekelilingnya, sialnya tempat ini sangat sepi, aku tak bisa melihat seorangpun di lorong basement ini.
Tempat yang kutuju ada di ujung sana. Thomas pasti menunggu di mobil dia kemungkinan tak akan tahu aku dalam bahaya di sini. Sekarang apa yang harus kulakukan.
"Ah, aku hanya terpesona dengan penampilanmu di atas panggung tadi, kupikir aku bisa mengajakmu minum malam ini?" Alarm berdentang di kepalaku.
Dia menyusulku sampai basement aku jadi waspada. Kakiku mundur selangkah. Ini benar-benar gawat, benar mereka sudah mengikutiku kemari.
"Aku tidak bisa, aku harus pulang. Terima kasih untuk tawarannya." Jantungku sudah bekerja keras memompa adrenalin ke seluruh tubuhku. Aku akan mengambil langkah seribu segera.
"Sayangnya kami tak suka ditolak Nona?"
"Maksudmu apa..." Alarm bahaya yang berdentang di kepalaku menyuruh lari sekarang juga. Aku mundur selangkah lagi.
__ADS_1
"Cantik ayo ikut kami." Dia meraihku, tapi aku langsung berbalik pergi, sayangnya di belakang ternyata satu orang lagi memotong jalanku. Si*al dan si*al!
"Mau kemana kau, kau pikir kau bisa lari dari kami?" Oranh ke tiga ini lebih besar posturnya seakan sengaja dipasang sebagai benteng penghalang untuk menghalangi jalanku.
Bahaya! Aku langsung ke samping kananku berlari mencari celah, aku berlari diantara barisan mobil tapi seseorang dari mereka berhasil mengapai rambutku dan menariknya. Aku berteriak kesakitan
"Kemana kau hah?!" Tak disangka dia langsung mengunci tubuhku dan mamakainya lengannya untuk mencekikku.
"Bang*sat...lepas!" Aku berteriak dan meronta .Sialnya aku tak bisa melepaskan diri sama sekali, sebuah lakban langsung membuat suara teriakanku teredam.
"Aarghhh." Teriakan kesakitan itu melemahkan kunciannya aku lepas. Tapi di depan ku ada dua orang lagi, sebuah lengan terulur mencekik leherku. Aku langsung megap-megap tak bisa bernapas. Cekikan orang ini sangat kuat perlawananku sirna seketika.
"Bit*ch, jika kau berani macam-macam kau mati di sini."
Aku tak bisa melawan lagi. S*ial! Dua orang mengikat tanganku dan kakiku dengan lakban yang sama yang menempel di mulutku, aku merasa seperti paket yang dibungkus dan diikat.
__ADS_1
Aku melawan melepaskan diri , tapi sebuah tamparan keras seketika membuatku kepalaku pusing dan rontaanku berakhir.
"Diamlah! Melawan lagi akan ku hajar kau." Mereka meringkusku dengan cepat.
"Cari ponselnya, buang bersama tas yang dibawanya saja." Mereka menarik lepas tasku dan membuangnya ke tong sampah di dekatku. Thomas tak bisa melacakku lewat ponsel lagi, tapi aku punya gelang GPS yang hanya kupakai saat bertugas, jika Thomas tahu gelang dan ponselku berada di tempat yang berjauhan dia akan langsung tahu aku dalam bahaya
Aku tak bisa melawan lagi ketika mereka memasukkanku ke bagasi mobil.
"Ayo pergi, kita sudah di tunggu." Siapa yang meminta mereka menculikku. Yang kuharapkan Thomas sekarang mencariku secepatnya. Dia pasti heran kenapa aku tak sampai ke mobilnya.
Thomas bangsat-bangsat ini menculikku!
Siapa yang menyuruh mereka?! Aku hanya biss membayangkan satu orang. Maureen Markson ?! Apa yang akan dilakukannya padaku? Aku menamparnya? apa yang ingin dilakukannya padaku?
Siapapun itu mereka akan dapat kesulitan besar karena ini.
__ADS_1