
Katya Perova, balerina Rusia itu masuk ke NYC Ballet melalui jalur undangan, bukan audisi. Bisa dibilang peluangku kurang dari setengahnya ketika menghadapi Katya.
Perasaan pesimis ini akan membunuhku rasanya. Aku merasa tak punya tenaga ketika tiba di tempat latihan. Padahal Nicholai sudah dengan baik hati memilihku, jika dia tahu aku jadi pesimis begini akan tak baik. Untungnya hari ini aku belum latihan dengannya, baru dengan penata tari kami. Baru sehabis makan siang dia bergabung.
Siang ini beberapa orang berkerumun di dekat pintu yang menghubungkan lobby ke kantor Director, aku mengenal mereka. Mereka kebanyakan adalah corps de ballet.
"Kalian, kenapa berkumpul begitu? Apa ada wartawan atau produser?" Mungkin kami punya produser yang mencari talent untuk pemeran pembantu.
"Ada donatur tampan di ruang Philippe (Direktur Artistic)." Satu orang bernama Maria menjawabku.
"Ohh setampan apa? Kupikir ada apa, ternyata ada orang kaya yang tampan."
"Kalian mengharapkan apa dengan orang kaya itu? Menjadi istrinya?"
__ADS_1
"Hei dia pernah kencan dengan salah satu principal kita, Laura, walau sekarang mereka putus. Pernah juga kencan dengan salah satu bintang terkenal Bolshoi, Katarina Kozlov. Kurasa dia penggemar ballet betulan." Mereka tertawa bersama sekarang.
"Hmm ...sering kencan dengan ballerina?" Mungkin dia punya fetish rok tutu (rok balerina) pikiranku membuat alasannya sendiri.
"Dia tampan dan kaya. Mungkin dia melihat kita dan mau menjadi donatur pribadi kita."
Ya mungkin aku memang harus mencoba ide itu juga. Ballet membuatku hanya bertemu dengan lingkungan sosial yang sama setiap hari. Tapi jika yang dia pilih sekelas Laura dan Katarina, jelas aku tak punya kesempatan.
"Hei, kau sudah siap." Nicholai dengan senyum manisnya menyapaku. Siapa yang bisa lebih tampan dari Nicholai ini. Ini adalah hiburan, punya pasangan tari setampan ini.
"Aku siap tentu saja."
__ADS_1
Kami mulai berlatih dengan suasana hati yang lebih baik walaupun aku masih merasa putus asa. Jika aku tidak bisa mendapatkan principal aku akan mengajak donatur tampan itu makan malam. Pikiran itu melintas di benakku, sementara aku harus menset mood karakter Kitri dalam benakku.
Kitri tidak seputus asa ini, dia wanita yang penuh kebanggaan. Well, aku akan menemukan donatur baik hati di depan, mungkin pria tua yang loyal. Dengan pikiran kacau itu aku berhasil tersenyum lagi dan memulai latihanku.
"Ini mereka, kami akan mementaskan Don Quixote, Bolshoi mengirimkan Nicholai Manturov ke sini dan kami memilih Nona Sara Adams untuk menemaninya sebagai Kitri. Nicholai dan Sara kemarilah...." Aku melihat orang yang dibawa oleh Director kami, aku tak mengenal siapa itu. Tapi tadi dia sedang bicara dengan orang yang disebut donatur tampan, menilai dari apa yang kulihat sekarang dia memang tampan, walau wajahnya memang sedikit tua.
"Ini Francoise Civil, donatur utama kita."
"Sir, senang bertemu dengan Anda." Aku tentu saja harus bersikap sopan dan manis jika sudah diperkenalkan seperti ini. Aku mengambil curtsey singkat dengan menyilangkan kakiku.
"Nona Adams, senang bertemu dengan Anda juga." Dia menjabat tanganku dengan mantap, suara baritonnya membuatku bertanya kenapa figur seperti dia bisa menjadi donatur kami.
__ADS_1
"Tuan Nicholai, saya senang bisa bertemu talenta berbakat seperti Anda." Dia menyapa Nicholai tanpa kecuali.