
"Kau tak punya hak melakukan itu. Aku bisa melawanmu secara hukum." Sekarang Jack tak takut lagi bicara padanya. Dia pasti bicara bahwa Cohen McCarthy tak punya hak mengambil uang yang sudah menjadi miliknya itu.
"Aku hukumnya apa kau tak mengerti itu!" Dasar pengacara sombong.
"Omong kosong." Jack langsung membalasnya dengan umpatan. Dia tak boleh terpancing membicarakan rencana kami sebelum berita itu keluar apa dia tahu itu. Kalau tidak akan bahaya untuknya, seseorang bisa membunuhnya.
"Kau tak lihat kondisimu siapa yang kau hadapi, pool boy rendahan?!" Cohen mulai mengintimidasi Jack sambil menunjuknya, mungkin dia ingin melihat kenapa Jack jadi punya nyali melawannya. Aku membaca itu.
"Aku bisa membuat kau yang dalam masalah ..."
"Jack!" Aku harus menghentikan dia bicara terlalu banyak, kalau dia terpancing emosi selesailah sudah. Jack dan Cohen McCarthy sama-sama menoleh ke arahku.
"Siapa kau?" Cohen langsung memicingkan mata padaku. Aku tidak memperdulikannya dan langsung menarik Jack menjauh. "Hei, aku belum selesai bicara padamu."
__ADS_1
Sang pengacara marah tapi aku tak memperdulikannya. Aku harus bicara pada Jàck sekarang juga aku takut kerja kerasku selama sebulan ini melaanh tak berarti marena dia tisak tahu dia diarahkan oleh pengacara licik ini.
"Jangan terpancing bicara apapun jika dia tahu rencanamu, Dawkins bisa menyuruh orang membunuhmu. Tunggu beritanya keluar dan kau bebas bicara apa saja karena mereka tak bisa menyentuhmu lagi." Aku berbisik dan mengingatkan dengan sungguh-sungguh, jika dia mengatakan sesuatu yang mencurigakan akan berantakan akibatnya.
"Jadi aku harus mengabaikannya, jika dia datang sengaja mengancam begitu." Jack masih terbawa emosi nampaknya. Aku juga tak menyalahkannya, pengacara itu memang mulutnya berbisa.
"Abaikan saja, malah lebih bagus kau pura-pura berdamai dengan mereka. Sehingga tiba-tiba satu pagi kau menjatuhkan bom tanpa mereka sadari. Ingat kau mempertaruhkan uangmu." Wajah Jack langsung berubah ketika aku mengarahkannya begitu.
"Kau yang marah-marah pada temanku, kau juga tak punya sopan santun." Aku sekarang yang menjawabnya sebagai ganti agar Jack tidak terpancing.
"Kau siapa berani ikut campur urusan orang lain?"
"Tuan pengacara yang terhormat, aku hanya membela temanku. Kau datang ke sini mengancam orang seperti kau raja." Dengan berani aku juga membalik kata-katanya.
__ADS_1
"Bagaimana kau tahu aku pengacara?" Aku terdiam sesaat, benar juga bagaimana aku tahu dia pengacara.
"Jelas saja orang dengan potongan sepertimu pengacara, lagipula aku merasa pernah melihatmu di televisi, apa lagi profesimu, preman tukang pukul? Kau nampaknya lebih pintar dari itu." Untungnya aku bisa mengarang alasan dengan tepat waktu. Semoga dia tidak menyadarinya.
Dia melihatku dengan tatapan tak percaya. Sial! Kenapa aku tak sadar tadi menyebutnya pengacara.
"Ayo kita pergi saja." Lebih baik aku menghindar saja.
"Tunggu dulu aku belum selesai kata siapa kau boleh pergi."
"Bangsat, kau pikir kau bisa semudah itu pergi. Ini peringatan terakhir untukmu, jika kau tak ingin sesuatu terjadi, lakukan apa yang diminta Ny.Dawkins. "
"Aku sudah bilang aku tak akan menurutinya lagi, aku ingin punya hidupku sendiri, kau kenapa membela mereka, kau tak tahu betapa absurdnya kasus ini. Semua orang di sana tak ada yang benar."
__ADS_1