
"Aku tidak tidur dengannya!" Sekarang nadaku meninggi karena kesal. "Kenapa kau berkeras sekali menudingku." Apa-apaan ini, tiba-tiba dia menuduhku tidur dengan Nicholai.
"Lalu kenapa kau perduli sekali dengan mata-mata Rusia itu." Dia tetap mengejarku.
"Kau tidak tahu ceritaku dengannya. Dia yang menolongku dari awal. Bisakah kau berhenti mendesakku. Aku mau pulang sendiri." Aku berlalu pergi dari sampingnya, malas mendengarkan dia bertanya lagi soal hubunganku dengan Nicholai.
"Aku akan mengantarmu. Ini sudah malam." Dia menyusul dan memegang tanganku.
Menyebalkan, tadi memarahiku tanpa alasan yang jelas, sekarang mau mengantarku pulang. Apa sebenarnya maunya.
Dia tak meneruskan perdebatan lagi. Pengawalnya yang membawa mobil sekarang, kami duduk di belakang tapi aku masih malas bicara dengannya. Dia juga diam, aku tak tahu apa yang ada di pikirannya, tapi selama perjalanan kami tak bicara. Baru kali ini kami bertengkar.
Dan itu karena aku kasihan dengan Nicholai, dia menuduhku tidur dengannya. Jika iyapun aku tidur dengan Nicholai perlu memarahiku begitu.
"Sorry,..."Tiba-tiba dia bersuara disampingku. Aku melihatnya.
"Apa?"
__ADS_1
"Harusnya aku tak bicara seperti itu padamu." Baru dia sadar dia sudah bicara seperti itu. Aku melihatnya.
"Dimaafkan." Aku tak ingin memperpanjang pertengkaran lagi. Kami berdiam lagi di sepanjang jalam.
"Makan malam?" Tiba-tiba dia ingin mendinginkan keadaan dengan mengajakku makan malam.
"Hmm boleh." Sudah jam 7 kami keluar dari bandara. Memang sudah waktunya makan malam.
"Makan apa?"
"Terserah padamu."
"Italian." Aku tersenyum dengan restoran yang kami datangi ini, aku suka masakan Italian yang penuh keju dan herbs ini tentu saja.
"Suka? Jika tidak di sebelahnya ada restoran Perancis, pilih yang mana?"
"Ini saja." Dia sudah kembali ke normalnya, tidak memarahiku lagi kukira. Aku juga tidak akan membicarakan Nicholai lagi di depannya, nampaknya dia tak menyukainya.
__ADS_1
"Namamu kau orang Perancis bukan, Francoise itu nama Perancis." Bagaimana kisah hidup orang Perancis ini kenapa dia bisa terdampar di sini. Ayahnya seharusnya adalah orang Perancis tapi kudengar dia hanya punya Ibu saja.
"Iya, Ayahku orang Perancis, tapi Ayah dan Ibu bercerai sudah lama. Sejak aku berumur 5 tahun jadi aku tak tahu banyak tentangnya. Aku hanya tahu dia tinggal di Marseille."
"Ternyata cerita kita hampir sama." Kami sama-sama punya Ayah yang tidak menjadikan kami prioritas dalam hidupnya, tapi kami dibela habis-habisan oleh Ibu kami. Kami dihubungkan oleh kesamaan nasib.
"Ya cerita kita hampir sama."
"Kau tak pernah menemuinya?"
"Jarang sekali, dia sudah punya prioritas yang lain seperti yang kau bilang."
"Ayahmu pasti hebat, anaknya sehebat ini."
"Dia pemilik jaringan bengkel mobil yang cukup besar di sana. Yang menjadikanku memilih jalan karier ini adalah Ibuku, dia orang MIT yang bekerja di GreyLock Martin. Aku merintis karierku sejak awal di sana."
"Kau memang punya kapasitas otak besar nampaknya."
__ADS_1
"Aku hanya beruntung, ya setengahnya adalah memperoleh kesempatan dan kerja keras. Sama sepertimu, kita semua bekerja keras."
"Aku? Kau jangan bercanda Franco." Aku tertawa, dianggap sama sepertinya adalah hal yang menggelikan. Dia membuatku tertawa, sudah kubilang dari angsa putih yang terbang tinggi diaqan aku telah jatuh dan menancapkan tongkatku ke bumi.