
"Sara, itu berbahaya, kali ini hanya tiga peluru. Mungkin lain kali nyawamu. Bagaimana kau bisa memikirkan menerima tugas lain."
Di satu titik aku berpikir, jika aku tak bisa kembali menari lagi. Mungkin aku bisa menaruh semua taruhan untuk menjadi agen. Setidaknya aku akan dibayar baik. Thomas akan membantuku karena dia tahu ceritaku.
Dia pasti bisa mencarikanku pekerjaan. Entah apa, aku akan memikirkannya lagi nanti. Tapi aku jelas mengharapkan semoga aku bisa kembali, aku harus punya rencana cadangan.
"Aku ingin merasa berguna daripada hanya sebagai penari. Aku ingin istirahat Franc... Bisa kita bicara nanti saja." Akhirnya aku menggunakan kartu as-ku, meminta dia berhenti mendesakku karena aku sakit.
"Lihat bukan, kau sampai terluka begini, aku tak tahu jelasnya. Tapi tiga peluru, apa kau pikir lain kali kau punya nyawa cadangan." Aku tak bisa menjawabnya jadi aku hanya diam.
"Makan dulu oke. Aku ambilkan makanan." Untungnya dia mundur, tidak berusaha membahas masalah ini kami lagi.
"Iya. Terima kasih."
Dia kembali dengan nampan makanan. Aku tersenyum melihatnya membawa begitu banyak.
"Ayo makan."
__ADS_1
"Banyak sekali. Apa aku perlu makanan sebanyak ini?"
"Aku menghubungi dokterku untuk minta rekomendasi makanan yang baik untukmu. Matilda akan memastikan kau makan dengan baik." Aku merasa dia mengurusku seperti anak kecil. Aku yang bukan siapa-siapa bisa punya kekasih sebaik ini, jika Mom tahu aku punya kekasih sebaik ini dia pasti bahagia.
"Franc, terima kasih." Dia memang kekasih terbaik.
"Kembali. Sekarang makan dan habiskan, jika tidak bagaimana kau bisa sembuh." Dia menyuapkan sup untukku. Aku menerimanya dengan perasaan campur aduk antara lucu merasa di suapi, senang punya kekasih begitu perhatian, dan sedih bahwa mungkin hubungan kami akan sulit.
"I love you..." Dia melihatku tersenyum padanya.
"Aku hanya ingin mengatakannya padamu." Aku tersenyum lebar padanya sekarang. Aku bahagia, sungguh bahagia bersama dengannya. Walau aku merasa ini akan hanya bertahan sesaat tak apa, aku akan mengingat ini sebagai kenangan manis di masa depan.
"Jika kau benar mencintaiku, kau harusnya mengerti kekhawatiranku."
"Aku mengerti, tapi tak ada hal mudah untuk hasil sepadan. Aku ingin merasa punya andil lebih besar daripada hanya seorang penari di depan keluargamu."
"Kau tak perlu jadi menteri seperti Ibuku. Yang kuinginkan hanyalah sebuah keluarga. Dulu Ibuku adalah seorang yang ambisius, mungkin dia melihat Ayahku yang santai seperti penghalang bagi ambisinya. Entah kenapa mereka jatuh cinta pada awalnya. Aku tak perlu hal seperti itu dalam rumahku, aku tak ingin anakku melihat orang tuanya bercerai, kau tak usah bekerja tak apa bagiku."
__ADS_1
Aku baru mengerti apa yang dikatakannya. Sangat mengerti. Tapi di mata Ibunya kurasa aku akan menjadi beban bagi anaknya. Aku punya Ibu yang harus kutopang.
"Aku punya Ibu yang harus kujaga Franc, kau tak bisa bicara begitu."
"Jelas aku tahu, aku tak keberatan menjaga Ibumu."
"Tapi Ibumu akan keberatan kurasa."
"Ibuku tidak akan ikut campur kehidupan kita." Aku diam, mungkin dia berkata begitu tapi entahlah apa yang terjadi di depan. Yang jelas aku tak akan berlaku seperti jalan*g yang memanfaatkan pacarnya yang kaya.
"Baiklah. Kita lihat saja nanti oke."
"Kau tak percaya padaku?"
"Aku percaya padamu."
Aku percaya padanya. Yang tak kupercaya adalah diriku sendiri.
__ADS_1