
"Tadi aku baru saja langsung di tam*par dan di marahi oleh Ibumu. Kau dengar sendiri. Dan Maureen Markson ikut dengan Ibumu. Gadis g*ila ini, entah apa urusannya di sini." Aku mengganti modenya ke loudspeaker.
"Kau mendengarkan ini..."
"Mom, kau... aku tak percaya kau melakukan ini. Apa sebegitu inginnya kau mengatur hidupku. Maureen kau orang gila! Kau lihat aku akan membuat perhitungan padamu karena mempengaruhi Ibuku, kau jangan menyangka kau akan lolos dari ini,..." Ny. Mary Aides yang terhormat ini nampaknya tak menyangka aku sedang mengaktifkan telepon. Aku masih mengelus pipiku yang panas.
"Aku sudah bilang aku tak akan membiarkan kau mengurus urusan pribadiku lagi Mom. Sudah cukup! Aku tak akan terlibat dalam apapun kegiatan politikmu lagi, sudah cukup aku menjadi umpanmu selama ini. Aku tak percaya kau melakukan ini padaku untuk kedua kalinya?! Kau benar-benar ingin mengatur hidupku sampai aku menikah dengan siapa?! Kenapa tidak kau saja yang menikah dengan Maureen!"
"Kau ...wanita licik." Mary Aides hampir mendesis karena kesal padaku.
"Dia memang ul*ar Bibi." Maureen menambahkan. Jika tidak ada Ibunya Francoise sudah kujamb*ak rambut indahnya itu.
__ADS_1
"Aku akan mengurusmu nanti, kau pikir kau bisa terlibat ini." Kutunjuk Maureen di mukanya, aku memang tidak akan membalas sang Nyonya tapi Maureen adalah hal lain.
"Maafkan aku Nyonya, Francoise sudah membuatku berjanji untuk tinggal di sampingnya. Aku tak akan kemana-mana." Tidak aku tidak akan membalas kata-kata sang Nyonya, hanya aku akan tetap ada di sini tanpa bergeming.
"Perempuan ja*lang penari stripte*ase kau pikir aku akan menyetujui kalian."
"Saya tidak bisa mengatakan apapun untuk itu. Untuk catatan Anda pekerjaan saya adalah seorang pole dancer bukan stripte*ase. Saya tidak menjual tub*uh saya, kami melakukan pertunjukan yang sebagian besar adalah akrobat. Ya tapi mungkìn itu sama saja untuk Anda. Tapi yang perlu Anda tahu adalah saya dan Francoise sudah berjanji akan bersama. Saya tak bisa menghancurkan harapannya."
"Itu terserah Anda. Kalau begitu saya akan masuk saja."
"Kau pikir aku sudah selesai bicara denganmu?!"
__ADS_1
"John tolong..." Ada seorang yang merangkap keamanan di bagian bawah area reception ini. Aku meminta bantuannya ketika Ibu Francoise ingin mengejarku ikut ke atas.
"Mam, ada tak bisa ke atas." Dia memasang badannya menghalangi.
"Kau menyingkir dari depanku."
"Maaf saya tidak bisa membiarkan Anda naik. Ini property pribadi, sihlakan Anda keluar. Jangan membuat keributan di sini." Aku mendengar dia masih bicara saat aku naik tangga ke bagian lebih atas. Sudah cukup aku menerima peekataannya.
Mungkin ada umpatan-umpatan kekesalan setelahnya aku tak mau memperdulikannya. Kurasa aku sudah cukup mengatakan apa yang harus kukatakan. Jika dia masih menentang aku sendiri tak tahu bagaimana membuatnya memberikan persetujuan.
Menghala napas panjang aku masuk ke dalam. Hatiku terasa tidak begitu sakit. Ya pasti tidak menyenangkan rasanya diperlakukan begitu, aku tak akan membalas mencaci Ibunya, tapi diantara kami berdua, sebenarnya Ibunya bisa dikatakan orang luar. Daripada ditampar lebih sakit menghancurkan harapan Francoise dan jelas aku tak akan membiarkan Maureen merasa senang.
__ADS_1