
"Itu tak akan terjadi lagi. Saat itu aku belum tahu cara menghadapi Ibuku. Entah apa yang dikatakannya pada kekasihku saat itu sehingga di minta kami berpisah."
Aku tak berkata apapun. Kenyataannya memang hubungan kami sulit kedepannya.
"Aku tak tahu apa yang harus kukatakan Franco." Aku sebenarnya tak punya keberanian untuk bertindak seperti ini. "Kau melawan harapan Ibumu...Kau ingin aku mengatakan apa?"
Dia mengambil tanganku. Menatapku ke mataku.
"Jangan pikirkan Ibuku, yang penting adalah kita, kau dan aku bisa bersama. Bukankah kau juga ingin bersamaku. Yang menjalani ini kita."
"Aku benar-benar tak bisa menjawabmu Franco."
"Kita sudah bersama-sama beberapa bulan ini, kau tak ingin kita bersama. Kita menikmati saat kita bersama bukan? Kenapa kau membohongi dirimu sendiri."
Membohongi diriku sendiri. Ya aku menyukainya, ya dia baik padaku, tapi mungkin hubungan kami penuh halangan. Bagaimana jika Ibunya menemuiku dan mencercaku habis-habisan seperti kekasihnya yang lalu. Dia sendiri yang bilang kekasihnya meminta putus karena dicerca oleh Ibunya.
__ADS_1
"Jangan jadi kekasih Matthew, kau menyukaiku. Kenapa kau menjadikan orang lain sebagai pelarian. Apa aku selama ini kurang baik padamu, aku melakukan semuanya untukmu." Dia membuatku tersenyum tapi juga sedih.
Bagaimana aku bisa mengatakan ini padanya.
"Franc, aku menyanyangi Ibuku, jika aku menjadi orang yang membuat kau dan Ibumu bertengkar aku merasa seperti mencerca Ibuku sendiri. Aku tak tahu bagaimana aku akan bersamamu tapi seperti menanggung kesalahan. Jika Ibumu tiba-tiba datang mencerca Ibuku apa yang akan kulakukan. Kau tahu ini akan sulit...."
"Kita akan mencari caranya, yang penting kau bersamaku dulu."
Jika aku bersamanya aku akan menyakiti Matthew. Seseorang yang sudah pasti ada untukku. Aku bingung tak bisa menjawab apapun sekarang.
Dia diam sesaat. Aku kasihan melihatnya, jika aku bisa menjawabnya dengan jelas. Tapi aku tak berani mengatakan apapun sekarang.
"Baiklah tak apa. Nanti kita bicara lagi, asal kau juga tak menerima Matthew." Rupanya dia takut didahului oleh Matthew.
"Kau sudah terlalu baik padaku. Aku tak tahu apa aku pantas menerima kebaikanmu, jika kau menuruti kata Ibumu pasti lebih baik, aku hanya akan menjadi bebanmu."
__ADS_1
"Aku memang baik padamu, jadi terimalah aku. Kita akan urus Ibuku, aku sudah bukan anak 17 yang bisa dia atur lagipula aku tak tertarik mengikutinya di politik." Sekarang dia merangkul pinggangku mengunciku dalam pelukannya, membuatku bersandar padanya.
"Kau ini memang keras kepala. Bagaimana kau bisa terbang ke sini?"
"Aku sudah mengusir Matthew, jelas saja aku harus ke sini mengejarmu dan membuatmu setuju aku adalah kekasihmu."
"Playboy, kau sudah selesai menebar pesona ke gadis-gadis? Bukankah masih banyak yang mengejarmu, yang mengejarmu bukan gadis miskin sepertiku, kau harusnya menerima mereka saja." Francoise melihatku sambil menghela napas.
"Apa kau menyangka aku merayumu untuk kujadikan teman baik?"
"Mungkin kau akan bosan padaku dan aku akan jadi gadis ke sekian yang patah hari padamu. Aku tak tahu." Mungkin begitu bukan, aku tak tahu apa hang terjadi di masa depan.
Jika itu terjadi, Matthew pergi, dan aku hanha busa menangis sendiri.
_____bersambung besok, dikit dulu ya besok banyakan
__ADS_1