
Itu mendorongku ke belakang, lututku lemas, tembakanku kena, orang itu seperti bergetar dan kemudian diam tak bergerak lagi. Aku beruntung mengenainya begitu telak.
Aku membunuh orang! Perasaan mual membuat lututku terjatuh lemas ke tanah. Aku tersengal seperti tak bisa bernapas, siapa yang kubunuh, anak siapa, Ayah siapa, suami siapa. Pikiranku sekarang menarik diriku sendiri.
"Pedro!" Sebuah teriakan mengejutkanku aku beringsut ke samping kananku bersembunyi, tembakan menyasar ke tumpukan kayu di mana aku bersembunyi. Pecahan-pecahan kayu seperti terbang ke belakang memperingatkanku bahwa nyawaku dalam bahaya sekarang.
Aku menyadarkan diriku sendiri. Tak seharusnya aku menyesal, ini perkara dia yang membunuh atau aku yang membunuh, dia diantara kami harus ada yang menjadi korban, harus ada yang selamat.
"Bangsat! Keluar kau!" Aku mendengar temannya mengumpat dalam bahasa Spanyol dan tembakan-tembakan lain dari senjata otomatis yang dibawanya membuatku tak yakin apa aku bisa keluar hidup-hidup dari sini.
Aku berlindung di tumpukan kayu, tapi aku sadar saat dia sampai ke sini itulah akhir ceritaku. Dimana Thomas?! Kuharap dia bisa menolongku tapi dimana dia aku pun tak tahu. Diantare rentetan tembakan intens itu aku tak tahu apa dia bisa ke sini dengan aman.
__ADS_1
Sementara kemampuan menembakku mengandalkan keberuntungan, aku tak yakin di kali kedua ini aku akan beruntung mengenainya lagi begitu telak.
Aku hanya bergantung ke diri ku sendiri sekarang, jika aku mati kedua gadis itupun akan mati.
Aku memutar posisiku karena dia sudah dekat akan memeriksa temannya yang kutembak.
Saat dia muncul di area pandanganku aku menembaknya tapi tak kena dan dia balik menembakku.
"Wanita bangsat! Keluar kau! M*ati kau!" Dia menembakkan senapan otomatis itu dengan membabi buta aku harus bergerak mencari perlindungan dari arah tembakan yang di lepaskannya.
Dua kali tembakan.
__ADS_1
Satu meleset, satu kena tapi cuma bahunya! Dia terdorong ke belakang, aku menembak lagi, meleset saat dia bergerak ke samping, dan dia sudah selesai memasukkan magazine senjatanya.
Aku mundur ke tumpukan kayu lagi. Bertahan dan memghindar dari tembakannya. Sudah kubilang aku sama sekali tak punya pengalaman mengarahkan senjata, jarak yang tak jauh saja aku meleset.
Rentetan tembakan memburuku lagi. Aku menyumpah dengan banyaknya serpihan kayu jatuh ke arahku. Entah apa tumpukan kayu ini bisa menahan semua peluru itu.
Sengatan panas dan sakit yang menyengat membuatku melihat ke kakiku, entah bagaimana peluru menemukan jalannya dari sela-sela dan pahaku kena tembakan.
Aku mengabaikan rasa sakit menyengatnya dan terus bergerak berputar di seputar tumpukan kayu itù.
"Sara!" Kate yang berteriak menyebabkan perhatian orang itu teralih. Moncong senjatanya segera memuntahkan peluru ke arah mereka. Teriakan gadis itu membuatku mendorong diriku ke atas, jika mereka mati, hidupku akan tambah sulit, aku menarik pelatuk, memuntahkan semua peluru terakhir yang ada di moncong senjataku ke arah penembak itu.
__ADS_1
Dia yang mati atau aku yang mati! Dia melihatku dan menembakku tapi kalah cepat dengan peluruku yang menemuinya.
Dia yang mati. Itulah jawaban yang kudapat ketika peluruku menemui sasarannya berkali-kali. Orang itu bergerak sedikit lalu tak bergerak lagi selamanya.