
"Kenapa memangnya?" Kenapa dia mau tahu apa aku menyukai Matthew atau tidak. Aku menatapnya terang-terangan. Apa dia menyukaiku sekarang, kemarin dia bersikap aneh saat aku menyebutkan Nicholai , sekarang dia agak terganggu aku akan pergi bersama Matthew bahkan kemarin nampaknya berusaha menghalangi kencan kami.
"Hanya ingin tahu kebenarannya." Dia menjawab mengantung. Dia malah bertanya kembali sekarang, sebenarnya apa yang dia inginkan. Dia mau tahu kebenaran, baiklah akan kukatakan kebenarannya.
"Aku dan Matthew sudah bersahabat selama bertahun-tahun, mulai dari kami masih di Corps de Ballet, mungkin sudah tujuh atau delapan tahun, masing-masing dari kami punya mimpi yang sama, posisi principal di NYC, itu titik aman yang memungkinkan kami menikmati ballet sebagai seni dan juga rekening kami aman. Kalau kau tanya apa aku menyukainya, kurasa kami banyak kesamaan, hubungan kami akan baik kedepannya, jika kami bersama pasti baik."
"Kau menyukainya..."
"Kurasa iya. Dulu kami terlibat cinta lokasi karena terlalu sering bersama, terjadi begitu saja. Tapi kemudian kami berteman karena aku sendiri tahu belum satupun dari kami tertarik dengan sebuah hubungan lebih jauh. Tapi sekarang dia sudah principal, mungkin dia merasa kami bisa memulai lagi dengan lebih baik, entahlah kurasa begitu, aku hanya menebak dia juga punya pikiran begitu."
Dia diam. Aku tertarik untuk bertanya lebih jauh.
__ADS_1
"Tak apa bukan? Tak merubah apapun diantara kita, kita tetap teman." Kami tetap teman. Aku baru mendengar tentang Ibunya sekarang, bertambah lagi alasan aku tak mungkin menjadi siapa-siapa dengan hubungan serius kedepannya.
Walaupun dia sangat menggoda, mungkin aku juga menyukainya, aku cukup tahu aku tak bisa masuk ke lingkungannya, yang ada hanya patah hati di depan. Apa gunanya terlibat hubungan jika kau tahu akan banyak masalah di depan.
Lagi-lagi dia tak menjawab. Apa akhirnyaa dia punya perasaan padaku. Status teman ini omong kosong? Dia menyukaiku, tapi dia tahu Ibunya yang hebat itu akan malu jika dia ditanya siapa kekasih anaknya.
Terlalu rumit bukan.
"Kurasa, jika aku dan Matthew di masa depan menjadi kekasih, aku tak bisa lagi terlalu sering bertemu Matthew akan bertanya banyak hal. Maafkan aku soal ini."
"Dia belum jadi kekasihmu."
__ADS_1
"Iya memang belum. Aku berkata jika nantinya kami jadi kekasih."
"Tidak ada yang bisa meramalkan masa depan. Mungkin di masa depan kau punya kekasih yang lain." Apa maksudnya kekasih lain. Dia misalnya? Apa dia mau melawan keinginan Ibunya yang ingin dia beristri putri senator.
"Hmm... ya siapa yang tahu masa depan. Tapi aku hanya bicara apa yang kupikirkan." Kuputuskan untuk tak membahasnya lagi, jika dia benar punya keberanian mengatakan ingin aku jadi kekasihnya aku akan menolaknya. Kurasa hubungan kami tidak mungkin. "Ayo makan... Oh ya, Nicholai sudah menghubungimu lagi?" Kuputuskan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, dia sudah membicarakan detail teknis. Tak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Itu bagus."
Suasana agak kaku malam itu, walaupun aku berusaha bersikap biasa saja tapi sudah ada yang berubah. Aku menyadari jika aku bisa berteman saja dengannya seperti waktu dulu akan lebih baik. Tak ada perasaan yang menggangu, tak ada hati yang terlibat.
__ADS_1
Sekarang semuanya tampak rumit.