
Dia membuatku terkejut. Darimana dia tahu Ibuku dirawat.
"Anda kenapa bisa tahu Ibu saya dirawat."
"Ohh aku tadi menelepon Philippe dan dia yang bilang kau cuti karena Ibumu masuk rumah sakit." Oh dia bertanya ke Philip tentangku? Kenapa? Aku tak berani bertanya.b
"Ohh begitu, sebenarnya tidak perlu merepotkan Anda."
"Tidak ada yang direpotkan. Dimana Ibumu dirawat." Dia langsung memotong keberatanku.
"Di Richmond..."
"Baik, aku akan menjengguk sore ini, apa ada yang kau butuhkan?"
"Tidak...tidak, terima kasih Anda sudah bersedia datang, saya merasa tidak pantas merepotkan Anda untuk menjenguk."
"Tidak apa, sampai nanti sore." Dia memutuskan telepon dan aku merasa ini akan merepotkan.
Aku tak bisa melarang kunjungannya tapi apa perlunya dia mengunjungiku. Membuatku merasa seperti aku punya hutang yang harus kubayar pada mereka sementara aku harus pergi dari sini.
Tapi karena dia berkeras tak ada yang bisa kulakukan.
__ADS_1
Nicholai ternyata datang membawa makanan untukku sore itu. Partnerku showku ini memang perhatian, dia bahkan membawakanku makanan, Nicole juga datang bersamanya.
"Bibi bagaimana keadaanmu?" Ibu langsung tersenyum melihat kedatangan mereka.
"Anak tampan kau kesini lagi, Bibi senang melihatmu. Bibi akan cepat sembuh jika dijenguk seperti ini setiap hari." Nicholai tertawa dengan kata-kata Ibu. "Nicole, Bibi sudah lama tak melihatmu kau tambah cantik."
"Bibi harus cepat sembuh, jika suatu saat kau bisa ke Moskow aku akan mengajakmu makan makanan enak di Moskow." Ibu tambah lebar senyumnya.
"Moskow, sepertinya itu jauh sekali."
"Sepuluh jam perjalanan Ibu, memang jauh sekali." Aku menerangkan padanya.
"Sepuluh jam, astaga, harus menyeberangi samudra, itu memang jauh."
Sementara mereka mengobrol ponselku juga berbunyi, sebuah pesan bahwa Donatur sudah datang. Aku harus menjemputnya ke lobby.
"Aku tinggalkan kau dulu, Tuan Francoise datang menjengguk aku harus menjemputnya ke lobby."
"Ohh dia menjengguk?" Wajah Nicholai sama binggungnya denganku saat dia menelepon akan datang.
"Kenapa dia bisa menjengukmu." Nicole lebih heran lagi.
__ADS_1
"Aku juga tak tahu jawaban pertanyaanmu, aku kebawah dulu, tak sopan membiarkannya menunggu." Aku menjawab Nicole dengan singkat dan segera turun ke bawah.
Aku melihatnya dengan kemeja kerja gelap kali ini, dia memang suka membuat dirinya seperti dikelilingi aura kegekapan nampaknya. Belum pernah kulihat dia memakai warna yang sedikit cerah.
"Tuan Francoise, terima kasih sudah kesini." Aku menyalaminya dan mengucapkan terima kasih dengan pantas.
"Bagaimana keadaan Ibumu."
"Dia baik, untungnya hanya stroke ringan, dia cepat dibawa ke sini, jadi cepat ditangani, pemulihannya pun akan cepat menurut dokter. Tapi faktor resiko tetap ada di masa depan."
"Itu bagus,...umur berapa Ibumu."
"66 tahun."
Aku memberitahu sedikit padanya kondisi Ibuku yang terkena diabetes. Dia nampak sedikit banyak tahu apa yang terjadi jika sudah di vonis diabetes.
"Nyonya, senang bertemu denganmu. Saya Francoise Civil, donatur NYC Ballet, putri Anda penari yang sangat berbakat. Anda pasti bangga padanya." Dia memperkenalkan dirinya sendiri pada Ibu.
"Tuan Francoise, Anda baik sekali mengunjungi saya. Putri saya yang beruntung di terima di NYC, NYC adalah perusahaan yang dia impikan."
"NYC memang hanya menerima mereka yang berdedikasi Nyonya...." Aku ingin menangis mendengar kata-katanya, karena dedikasi saja tak cukup untuk membuatmu naik ke atas. Dedikasiku sudah habis masanya sekarang.
__ADS_1