
Kenapa saat aku disini dia tidak mengambil kesempatan,
Mungkin aku yang menganggapnya terlalu buruk atau dia hanya tidak ingin mencari masalah dengan gadis yang rumit sepertiku.
Tapi sikap manisnya membuatku berpikir dia memperhatikanku. Menghela napas panjang, kusapu bersih pikiran romantisku hingga ke sudut. Aku sudah berjanji pada diri sendiri tidak mengizinkan diriku punya pikiran romantis terhadap Direktur yang tak bisa kujangkau itu.
Kami hanya 'teman baik' berpikir aku bisa melangkah lebih jauh dengannya adalah kesalahan.
Pagi itu pemberitahuan bahwa uang 30,000 sudah masuk ke rekeningku datang. Pekerjaan mata-mata legal ini memang menguntungkan, dalam sebulan ini aku mengumpulkan 45.000 dollar.
Aku dengan senang hati melihat angka di rekeningku. Keluar kamar dengan senyum lebar, aku harus mengucapkan terima kasih ke Francoise telah membiarkanku menginap di sini.
"Nampaknya ada yang senang hari ini." Aku tersenyum padanya. Aku tak mau menyebutkan penambahan kecil itu padanya, memalukan.
__ADS_1
"Tidak, hanya melihat sedikit pesan dari teman."
"Ayo sarapan. Kopi atau teh, aku buatkan sandwich untuk kita." Dia bersikap ramah dan membuatku memandangnya dengan senyum lebar dan wajah panas.
Pagi akhir pekan ini aku melihat Tuan Direktur ini duduk di pantry di rumahnya membuat kopi dan sarapan sendiri. Dia bahkan membuatkan sandwich untukku. Dia memakai kaus putih dengan celana panjang rumahan. Ini dia yang ada di rumah, sisi lain dirinya yang lebih santai.
Apa ini karena aku di sini, seharusnya dia menyuruh housekeepernya saja. Tapi dia bersikap manis sekarang. Aku tersanjung. Mungkin aku bukan siapa-siapa tapi mendapatkan perlakuan begitu manis siapa yang tak tersanjung. Tapi kenapa dia melakukan ini, apa alasannya menjadi begitu baik.
Bahkan dia menyiapkan buah‐buahan dan berries di sana. Dia mengeluarkan croisant dengan isian raisin dan almond. Makanan yang sangat sehat dan disiapkan dengan manis.
"Jangan cerewet, jika kau menyusahkan aku tak akan mengajakmu kesini, kau mau teh atau kopi?" Aku tertawa kecil dan masih terpesona dengan koki pribadi yang kudapatkan pagi ini.
__ADS_1
"Kopi saja." Dia menempatkan mug di depanku dan menuangkan kopiku. Mengambilkan gula, susu dan krimer ke depanku. "Terima kasih." Aku menghela napas, teman baik ini memang terlalu manis.
Tapi jelas teman baik adalah batasan. Seperti yang dia bilang mungkin dia tak terlalu buruk. Dan aku tak usah khawatir akan tersiksa berada di dekatnya dengan membayangkan dia akan malakukan sesuatu.
"Kau memang baik hati. Bagaimana aku membalas kebaikanmu aku tak punya apapun padaku."
"Aku tak minta kau membalasku."
"Itu tak adil. Katakan apa yang kau inginkan dariku."
"Baiklah. Bersikaplah jujur, bersikaplah sebagai teman, jangan membohongiku lagi." Aku terdiam dengan permintaannya.
"Cuma itu? Jujur dan menjadi teman?"
__ADS_1
"Cuma itu. Aku tidak ingin hubungan teman tidur, jadilah temanku. Teman yang bisa kupercaya,..." Dia tidak ingin hubungan romantis hanya platonis yang aneh. Baru kutahu dia bisa meminta hal seperti itu.