
"Anggap saja begitu." Dia menjawab ringan pertanyaanku, tanpa beban apapun. Teman baiknya sekarang tak punya arti lagi didepannya.
"Cepat sekali kau bosan, kau harusnya bertahan sedikit lebih lama." Aku meringis kecil. Lagi-lagi dia tidak menjawabku. Nampaknya dia sedang dalam suasana hati yang tidak baik sekarang.
"Ada apa? Kau irit sekali bicara hari ini, apa sesuatu terjadi padamu?" Apa dia marah padaku tapi tak bisa mengatakannya?
"Ya sesuatu terjadi. Bertengkar dengan Ibuku tapi aku tak mau membicarakannya sekarang. Kita makan saja oke."
"Kau bertengkar dengan Ibumu?"
"Apa Ibumu wanita karier, dia bekerja di mana. Kau bilang dia yang membentuk kariermu di Greylock Martin."
"Iya dia punya karier." Pasti Ibunya orang hebat. Punya anak yang direktur perusahaan militer begini pasti otaknya encer.
"Ahh begitu, apa dia semacam dosen?"
"Tadinya begitu, di masa mudanya. Tapi sekarang sudah berkembang jauh lebih jauh lagi.
__ADS_1
"Dosen di masa muda. Kalau begitu dia sudah rektor sekarang." Aku menebak karena dia bilang jauh lebih jauh.
"Ibuku Staff Khusus President di bidang Science and Technology Ms. Mary Aides. Itu salah satu jabatan resmi dalam kabinet." Sekarang aku mengangga saat dia menyebutkan jabatan Ibunya. Astaga Ibunya hampir setingkat menteri, pantas saja dia bisa mengenalkan anaknya ke putri senator.
"Staff khusus presiden? Wow...." Semangkin lama aku mengenalnya semangkin kagum aku pada latar belakangnya. Tak salah banyak yang ingin menjadi kekasihnya.Latar belakang keluarganya sangat mengagumkan.
"Ibumu hehat sekali." Aku melonggo menatapnya. Orang di depanku ini punya Ibu yang luar biasa hebat.
"Hmm yah, entahlah kau menganggapnya hebat?"
"Tentu saja..." Aku bertopang dagu melihatnya. "Kau punya latar belakang keluarga begitu hebat, apa kau tak dijodohkan dengan semacam putri Senator?"
"Benarkah?" Nampaknya dia tertekan dijodohkan dengan putri senator, apa menurutnya itu tidak bagus?
"Kau tak suka?" Aku menebak ketika dia berkata dia tak suka di atur oleh pengaturan Ibunya.
"Kurasa itu tergantung cocok atau tidak."
__ADS_1
"Iya benar, tapi maksud Ibumu baik, agar kau bisa punya banyak kesempatan di depan. Jika Ibumu Staff Khusus mungkin di masa depan kau bisa jadi menteri jika punya dukungan keluarga yang sesuai." Ibunya pasti berpikir untuk anaknya.
"Kau benar-benar berpikir luas heh." Dia melihatku dengan tawa di wajahnya.
"Bukankah yang kukatakan itu benar."
"Ya itu ada benarnya."
"Lalu kenapa kelihatannya kau tidak suka."
"Karena yang menjalankannya aku. Aku tak suka dijadikan alat penukar kesepakatan."
"Apa itu tujuan Ibumu mengenalkanmu?"
"Ya mungkin ya, mungkin juga seperti katamu dia hanya ingin aku memperoleh latar belakang keluarga yang kuat di politik. Hanya kupikir aku bukan orang yang menyukai politik. Dunia itu membuatku tak bisa tidur dengan tenang, memikirkan intrik-intrik seperti itu membuatku mengerutkan kening. Jika mungkin aku akan menyukai hidup seperti Ayahku. Dia hidup dengan baik, tak memikirkan dunia yang jungkir balik, hanya memikirkan bisnis dan keluarganya. Aku jadi berpikir aku mengerti kenapa dia dan Ibu tak sejalan lagi."
Kata-kata Direktur ini nampaknya berbanding terbalik dengan posisinya yang mengharuskan dia punya pemikiran yang luas.
__ADS_1
Ya tapi tiap orang memang punya pikirannya masing-masing. Tapi kenapa dia mengatakannya padaku.
"Kau menyukai Matthew?" Pertanyaannya berikutnya menbuatku mengerutkan kening.