BALLERINA SECRET LOVE

BALLERINA SECRET LOVE
Part 149. Intimidation 2


__ADS_3

"Sara, kumohon kau tak usah mendengarkannya."


"Aku akan mendengarnya."


"Kau hanya akan sakit hati mendengarnya. Biar aku yang ke sana menemuinya, aku hampir sampai."


"Aku tak akan sakit hati. Kalau begitu kau dengarkan saja apa yang dikatakan Ibumu, dia tak akan sesabar itu menunggumu sampai aku akan membiarkan dia mengeluarkan kemarahannya." Aku menyalakan ponsel dan membiarkam per*e*kam menyala, aku ingin tahu apa yang akan dikatakan Ibunya.


Saat aku turun aku melihat seorang wanita dengan wajah angkuh duduk bersilang tangan dan kaki di kursi tamu menungguku.


Ya sesuai gambaran yang ada di pikiranku. Dan di sebelahnya ada Maureen?! Dia tersenyum sinis saat melihatku turun, lihatlah gaya so*k cantiknya itu. Ternyata dia ingin menik*ma*ti pemandangan di sini. Dasar ja*lang. Rupanya dia sumber provokasi semua ini, tunggu sampai aku bisa membuat perhitungan sendiri dengannya.

__ADS_1


"Selamat siang Anda mencari saya Nyonya." Dia langsung berdiri dan mendatangiku. Aku bersiap men*ulikan telingaku menghadapi semb*uran kemarahannya


"Kau Sara Adams bukan?" Dia sekarang sudah berdiri di depanku.


"Iya, aku Sara. Dan Anda adalah Ibu..." Aku belum selesai bicara bahkan tak menyangka ketika sebuah tam*paran langsung menerpaku. Aku langsung ters*enta*k dan mundur ke belakang, pipiku panas. Itu belum cukup ketika dia melanjutkan mencerc*aku...


"Ohh s*akit. Rasakan kau." Maureen langsung berkomentar dan tersenyum lebar. U*lar!


Tiga orang di sana ikut terperangah melihat aku ditam*par dan di c*erca seperti itu. Aku tak bisa bicara, benar-benar tak menyangka bagian aku akan langsung ditamp*ar seperti itu.


"Dia memang tak tahu malu Bibi. H*aj*ar saja dia, perkataan tak akan mempan padanya, yang mempan hanya tindakan." Maureen ikut berpartisipasi mence*rcaku. Tapi aku tak perduli, apa yang dikatakannya sekarang.

__ADS_1


"Bit*ch." Aku mendes*is marah ke arahnya. Hanya ini yang bisa dia lihat, Maureen sial*an ini, lain kali akan kupamerkan foto pernikahan padanya kita lihat siapa yang tertawa paling akhir, sihlakan tertawa sepuasmu sekarang.


"Kau yang bitc*h! Kau dengar aku jalan*g, jangan berpikir aku akan menerimamu dalam keluargaku, anak dan Ibu sama-sama tak tahu malu. Kau pikir siapa dirimu." Sang Nyonya masih melanjutkan mencerc*aku. Tunggu dulu apa dia mence*rca Ibuku juga. Kenapa Ibu tak meneleponku.


"Kau bilang apa Nyonya? Anak dan Ibu? Apa kau mendatangi Ibuku?" Aku tak perduli apa cer*ca?annya padaku, lebih peduli apa Ibuku akan baik-baik saja. Jika iya dia mendatangi Ibuku, bagaimana keadaan Mom, apa yang dia katakan pada Mom, apa Mom baik-baik saja? Kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku.


"Anak dan Ibu sama-sama bermuka tebal, kalian benar-benar tak tahu malu, satu masih sempat menasehatiku, satu masih sempat memikirkan orang lain, benar-benar luar biasa!" Dia masih menun*jukku.


Aku melihat ponselku. Menjadikannya loudspeaker. Sudan cukup aku melihat seperti apa sang Nyonya. Sekarang aku tak akan diam lagi menerima ce*rca*annya.


Nampaknya Mom baik-baik saja karena dia bilang sia masih bisa menasehatinya. Baguslah karena kalau terjadi sesuatu dengan Mom, aku tak akan membuat ini begitu mudah untuknya.

__ADS_1


__ADS_2