
POV Sara
Siang itu aku sedang berlatih, seseorang dari reception bawah tiba-tiba memanggilku.
"Sara, ada seseorang ingin menemuimu."
"Siapa?" Tidak biasanya ada tamu.
"Aku tidak tahu, seorang wanita kukira." Seorang wanita, jangan-jangan itu adalah Ny. Mary Aides. Apa dia menyuruh orang mengikutiku sehingga tahu aku berada di mana.
Aku menelepon ke bagian bawah, ... Semoga tebakanku salah. Apa dia tak tak tahan lagi dan memutuskan untuk melabrakku sekarang.
"Apa itu seorang wanita berumur dengan penampilan mahal?"
__ADS_1
"Ah iya deskripsimu cukup mirip, dia memang terlihat seperti itu." Jadi benar Ibu Francoise yang datang ke sini.
Kurasa itu benar-benar Ibunya Francoise. Aku menelepon Franco untuk memberitahunya Ibunya ada di sini.
"Sayang Ibumu ada di sini."
"Aku sedang ke jalan mau ke sana, assistennya tiba-tiba mengirim pesan padaku Ibuku akan ke sana, dia dari kemarin memerintahkan orang mencari di mana kau bekerja." Oh astaga, jadi rupanya selama ini dia menyuruh orang mengikutiku. Aku sudah seperti target politik tingkat tinggi.
"Benarkah? Kenapa aku merasa tersanjung." Aku tertawa dan meringis sendiri, entah kenapa dia tak merasa gentar sekarang walaupun tahu Ibu Francoise mungkin akan mencaciku habis-habisan setelah ini.
"Sara kau tak usah menghadapinya aku akan ke sana dan bicara padanya."
"Kau yang tak usah datang ke sini, dia akan mencaci makiku. Kenapa kau harus menyusahkan dirimu sendiri datang ke sini hanya untuk mendengarkan itu. Begini saja aku akan membiarkan ponsel menyala sehingga kau bisa mendengarkan apa yang akan Ibumu katakannya."
__ADS_1
"Dia akan memarahimu, Ibuku bukan orang yang mudah. Kau akan sakit hari mendengar kata-katanya. Sekali dia ke sana dia akan memarahimu habis-habisan!" Aku akan dimarahi habis-habisan? Nampaknya aku harus mempersiapkan diri lebih jauh.
"Aku tahu, aku tak akan terpancing membalasnya. Itu cuma kata-kata, tidak akan bisa mempengaruhi apapun." Sekarang Francoise diam mungkin dia heran kenapa aku menganggap ini enteng.
"Kau tak usah menemuinya, akan kutelepon dia."
"Tidak apa, aku ingin tahu apa yang akan dikatakan Ibumu. Kau dengarkan saja di telepon." Aku terus melangkah maju ke bawah, sambil memakai headset yang kubawa dan ponsel yang masih menyala. Dia pasti mendengar apa yang terjadi.
"Tidak usah!" Sekarang dia berteriak dengan khawatir padaku. "Kau tunggu aku di sana!"
"Kau akan mendengarnya, daripada dia tidak melampiaskan kekesalannya akan kutemui dia. Jika dia tak ditemui dia akan penasaran, lagipula dia perlu tahu aku tak akan mundur karena intimidasi." Tapi aku tetap melangkahkah kakiku berjalan.
"Jangan Sara, kubilang aku yang akan bicara dengannya!" Dia hampir berteriak ketika aku mengabaikannya.
__ADS_1
"Kau takut sekali, memangnya apa yang akan dia katakan padaku, kau membuatku penasaran." Aku penasaran sebenarnya. Aku ingin tahu apa dia tipe yang meledak-ledak atau mengancamku dengan sopan. Walaupun sepertinya dia tipe yang meledak-ledak karena Francoise sampai ketakutan aku menghadapinya.