BALLERINA SECRET LOVE

BALLERINA SECRET LOVE
Part 6. Principal Roles 2


__ADS_3

Apa aku menyesal jadi balerina karena gajinya ternyata tidak sebanding dengan apa yang dikorbankan, baik biaya, waktu dan tenaga.


Tidak bukan menyesal, menjadi balerina adalah mimpi yang terwujud. Menari adalah passion, panggung besar adalah sebuah kebanggaan, hanya kenyataan tidak seindah yang kau bayangkan dan kau inginkan.


"Kau punya masalah bukan? Kau harus ingat Kitri tak perlu sesedih itu." Tiba-tiba dia bertanya sesaat aku terlihat melamun.


"Tidak, hanya hidup tak sempurna saja. Masalah pasti ada. Tapi karena aku dapat peran ini semoga bisa membantu banyak. Aku juga ingin sepertimu bisa berada di posisi principal."


"Kau pasti bisa. Bersemangatlah. Kita bekerja keras untuk produksi di depan oke."


"Aku pasti bisa. Tentu saja, kita akan bekerja sama dengan baik."


Di makan malam itu kami bicara panjang lebar untuk pertama kali. Don Quixote yang tampan ini akan jadi partner menariku dalam beberapa bulan ke depan.


...****************...

__ADS_1


Sebuah pesan muncul di ponselku pagi ini.


'Sara, bisa belikan Ibu stok insulin.' Aku langsung menghela napas. Akhir bulan uangku sudah sangat menipis.


"Nicole, boleh aku pinjam uangmu 500 untuk beli obat ibu." Seperti yang kukatakan setiap bukan aku kadang tak bisa menyisakan apapun jika tidak di posisi minus dan meminjam ke Nicole. Aku kadang berpikir untuk bekerja di tempat lain. Tapi mana mungkin jadwal kami sangat padat dari pagi sampai malam dan bahkan kadang kami tak punya waktu untuk diri kami sendiri.


"Ohh baiklah, kau perlu sekarang?" Nicole lah penyelamatku di saat-saat begini. Walau aku selalu mengembalikan padanya jika aku sudah menerima gaji. Itu harus jika tidak aku tak bisa meminjam lagi padanya.


"Iya, obat ibuku habis."


Satu-satunya ketakutanku sekarang adalah bagaimana jika ada sesuatu darurat terjadi, aku sama sekali tak punya cadangan uang. Dimana aku harus meminjam. Ini benar-benar menjadi pikiranku.


Aku mati-matian berusaha mendapatkan peran, berlatih keras, bersikap baik ke para penata tari untuk bisa muncul sebagai kandidat principal di benak para penari senior itu.


Selama ini ada hasilnya tentu saja. Tapi ada saingan besar, Katya Perova, sejak dia muncul dua tahun lalu, dia langsung ada di first soloist, si cantik lulusan Vaganova ini langsung menarik perhatian banyak orang, figurnya sempurna dan tekniknya juga sempurna. Jika dia mau dia bisa mendapatkan peran utama dengan mudah.

__ADS_1


Lalu ada Sonya Hardin, kemampuannya sebanding dengan mulut besarnya. Tapi aku tak terlalu mengkhawatirkan Sonya, jelas lawan terberatku adalah Katya untuk merebut satu-satunya posisi principal yang lowong.



"Bagaimana makan malammu dengan si tampan Nicholai?" Nicole bertanya padaku.


"Dia baik, dia bahkan mentraktirku makan malam. Padahal aku yang harus berterima kasih padanya."


"Dia baik sekali padamu, apa dia semacam jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu." Aku meringis.


"Kurasa tidak, sepertinya dia tidak bermaksud seperti itu, sepanjang makan malam semalam dia bersikap biasa saja. Mungkin ini hanya semacam keberuntungan dia menyukai tarianku."


"Benarkah, padahal aku mengharapkan ada cerita-cerita cinta dengan si tampan itu. Sayang sekali." Nicole dengan pikiran romantisnya kecewa. Aku hanya meringis menanggapinya.


"Aku akan mencari cinta di tribun kehormatan dan VIP saja, seseorang yang banyak uang untuk menjamin pensiunku." Kadang aku berpikir jika seperti itu akan lebih mudah dijalani. Sayangnya aku jauh dari standart kecantikan sempurna seperti itu. Tak ada yang bilang aku buruk rupa tapi untuk dikatakan mempesona juga tidak bisa.

__ADS_1


Tapi jika kau merujuk pada Katya Perova dia punya modal untuk di cap, "mempesona." Aku sering memandanginya dengan iri.


__ADS_2