BALLERINA SECRET LOVE

BALLERINA SECRET LOVE
Part 171. Traitor 5


__ADS_3

Tidak ada rasa kasihan dalam senyumnya, dia hanya ingin menghancurkan pengkhianat ini yang sudah sangat berani bermain dengan hati dan kepercayaannya.


Pria tampan, kaya dan arsitek ini akan menyesal pernah menjadikan Allison Austin targetnya.


"Ini bukan seperti yang kau pikirkan pesan ini hanya pesan singkat, kita tak perlu caranya begini Allison." Protes yang tak berarti itu tidak bisa menolong siapapun.


"Kau pikir aku anak TK Alton?"


"Allison, kita bisa bertukar informasi-...."Kata-kata itu dipotong oleh teriakan Allison yang tambah marah mendengar Alton menyebut namanya.


"David! John!" Tiga orang berpostur tegap masuk ke ruangan. "Geledah dia, ambil ponselnya lalu tendang dia keluar!" Tadinya dia berusaha agar dirinya tenang ternyata dia tidak bisa mengendalikan kemarahannya sama sekali. Dia main kasar sekarang.


Tiga orang langsung bergerak, ... dia menahannya di dinding sementara satu mengeledah.


"Allison, bang*sat kau anggap apa aku..." Mendengar itu Allison meledak, dia tidak puas sebelum menghajar bangsa*t pengkhianat ini dengan tangannya sendiri.


Dia berdiri dan melangkah maju.


"Tahan dia!" , satu pukulan semi satu pukulan melayang ke wajah Alton. Di pukulan ketiga Francoise dan Sara merasa perlu menghentikannya.


"Allison tenang dulu." Sara memeluknya menjauh, jika tidak dihentikan dia bisa menghajarnya sampai dia tidak bisa diajak negosiasi lagi. Yang tersisa bagi mereka adalah mencari masalah dengan orang-orang itu.


"Ingat 3% Allison, itu jauh lebih berharga dari membuatnya babak belur sesaat, kau bisa menghancurkan kariernya setelahnya. Itu lebih sepadan." Bisikan Sara membuat emosi sesaatnya mereda. Sara benar, menghancurkan karier cecunguk ini lebih menarik ketimbang hanya menanggalkan giginya, tapi setidaknya dia sudah menghajarnya.


"Baik-baik aku tenang." Sekarang bukan waktunya mengamuk, dia perlu uang itu.


Dia duduk lagi ke bawah.


"Nona ponselnyanya sudah ada di kami."


"Bagus tahan itu berikan pada Thomas."


"Jadi, kau mau telepon CEO-mu atau aku yang telepon." Alton tak bisa menjawabnya ini adalah kejutan yang tak diharapkannya.

__ADS_1


Sekarang Allison menjadi tidak sabar, karena orang bodoh ini menjadi linglung. Dia mengambil ponselnya dan langsung menelepon CEO Gensler.


"Tuan Charlie Hawking, selamat malam, saya Allison Austin. Di sini anak buah Anda sudah memulai kekacauan...." Allison membeberkan semua yang di dapatnya. "Anda tahu siapa saya bukan?"


"Tunggu dulu Nona Allison ini bukan perbuatan kami. Lagipula bukannya kau dan Alton adalah kekasih."


"Kami kekasih, sampai kudapati dia menjual informasi politik ke wilayah seberang. Pengkhianat ini di depanku sekarang, dia hanya memanfaatkanku sebagai syarat proyeknya berhasil dan kesempatan pamer."


"Tetap saja ini bukan perbuatan kami, itu tanggung jawab Alton Mason semuanya..." CEO Gensler ini dengan cepat mengelak.


"Ohh bukan perbuatan kalian? Itu sama saja aku akan tetap membawa nama Gensler jika masuk ke koran dan melihat nama yang kalian bawa di enam proyek ini, kalian akan membuat kekacauan politik besar yang meriah, kau perlu kubacakan siapa saja yang terlibat..." Allison mulai membacakan siapa-siapa saja yang di suap oleh Alton per proyeknya. "Bayangkan bagaimana jika aku menyerat nama-nama ini ke koran nasional, bagaimana nasib kalian di negeri ini karena dianggap tidak bisa meredam masalah."


"Baiklah-baiklah, kita bicara dulu Nona Allison, kita kesampingkan media dulu."


Akhirnya pemerasan Allison malam itu berakhir di kesepakatan 2.5%. Allison tetap tersenyum lebar di angka 2.5% dari nilai proyek itu tetap sangat besar.


"Tinggalkan ponselmu sayang. Aku hanya memberi kalian 7 hari untuk menyelesaikan pembayaran. Lebih dari 7 hari aku akan lepas tangan dan menyerahkannya nasib kalian semua ke tukang pukul. Kau mengerti."


"Ponsel hitamnya sudah sampai ke tangan Tuan Thomas Miss, dia bilang akan mengurusnya dengan baik. Dia menunggu perintah Anda." Pengawal Allison melapor ke Nonanya, ternyata Thomas ada di sekitar sana.


Allison tersenyum.


"Kita sudah bicarakan banyak hal sayang, aku tidak bisa turun lebih dari 0.5%. Jika kau minta turun satu kata lagi aku akan dengan senang hati mengirim orang lain untuk mengurusmu."


Sejak pembicaraan mereka sejam yang lalu Allison sudah menganggapnya musuh yang berdiri di pihak lawan. Dia sudah menetapkan tawaran terendah untuk negosiasi ini. Dan hubungan pribadi mereka dia sudah membuangnya ke tong sampah.


"Kau tega membuat aku menanggung jumlah ini, kau tahu itu juga untuk tujuan yang lebih besar. Jika kita bersama...." Allison mengangkat tangannya.


"Sayangku yang merupakan sumber uangku, jika memang cuma sampai di sini kemampuanmu, lebih baik kita tidak usah bicara lagi. Kau memang sampah."


Kata-kata itu diucapkan dengan tenang tapi di dalamnya ada stempel cap mati terhadap kemampuan orang di depannya.


"Pergilah, ini terakhir kalinya kita bertemu." Segurat wajah sedih muncul tapi tak lama. Dia menghapusnya seperti hanya uap yang menempel ringan pada kaca. Sara memperhatikan Allison dan mengaguminya. Dia memang pantas disebut putri Lyold Austin.

__ADS_1


Alton Mason yang tampan itu sudah pergi begitu pintu tertutup.


"Kita tidak akan membicarakan dia lagi oke. Jangan bicarakan ini ke Nora dan Kate, anggap saja dia sudah mati." Sara dan Francoise berpandangan.


"Iya, baiķlah " Sara dengan cepat mengiyakan.


"Ini hasil yang luar biasa." Francoise menunjuk jumlah di kertas itu.


"Tentu saja, ditambah kita bisa memeras orang yang di suapnya juga. Daripada memeras mereka uang lebih baik menggunakannya untuk hal lain. Ayah akan punya banyak peluru berhadapan dengan mereka." Allison setuju, mereka sekarang punya cara untuk meminta bantuan dengan paksa terhadap orang-orang ini.


"Kau benar, nama-nama ini akan bisa dicekik lehernya kapanpun kita mau." Francoise menimpali.


"Oh ya kalian, besok kalian dapat undangan pesta di St. Regis bulan depan?" Tiba-tiba Allison bertanya.


"Itu undangan untuk senior, kami orang muda. Mana mungkin bisa masuk ke sana.


"Aku akan masukkan nama kalian. Ayah pasti setuju."


"Akan ada Ibuku di sana."


"Bukankah itu bagus. Dia jadi tahu kalian juga bisa berjalan masuk dengan lingkaran utama dengan usaha kalian sendiri. Terutama untuk Sara."


"Apakah tidak apa?" Sara khawatir dengan tanggapan Ibu Francoise di sana tentu saja.


"Tidak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Ibu Francoise tidak akan datang dan menamparmu. Itu acara penting. Justru itu akan jadi ajang pamer buatmu, kau akan bisa bicara dengan Ayahku langsung. Aku akan mengatur kau bisa bicara dengan Ayah, dia mengenal kau dari beberapa kali kau menjalankan tugas. Jika bisa dibilang bahkan Ibu Francoise mungkin tidak sedekat itu sehingga bisa bicara dengan Ayahku. Bukankah akan jadi semacam upgrade?"


Allison ingin menolong dua sejoli ini, Sara adalah gadis yang baik, dan Francoise adalah pria yang tulus, Ibu Francoise mereka yang mempersulit mereka, sungguh tidak adil bagi mereka. Daripada Alton Mason yang merupakan pengkhianat itu dia ingin menolong Sara dan Francoise.


"Terima kasih Allison, kami sampai merepotkanmu begini."


"Tidak repot, justru kalian yang kurepotkan, jadi sebagai imbalannya biarkan aku membantu kalian."


"Baiklah terima kasih sekali lagi. Kami tak akan melupakan bantuan ini."

__ADS_1


"Kembali, pestanya tanggal 19, jangan lupa hadir. Kalahkan Maureen itu."


Allison berharap dengan membantu dua sejoli ini, seseorang yang tulus seperti Francoise dapat datang juga kepadanya. Harapan yang sederhana, seseorang yang mencintainya dan ingin melindunginya.


__ADS_2