Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 98


__ADS_3

Hampir sebulan Nayla dan Fahad melupakan semua yang terjadi di Kashmir, mereka berdua hidup dengan bahagia tanpa adanya pembicaraan tentang pernikahan kedua dari Fahad. Hanya mereka berdua yang tidak membahas. Namun, Ammi tetap membahasnya dengan Nayla. Mengingatkan bahwa Fahad tetap akan menikah dengan Benazir. Nayla ingat, Nayla tau, suaminya akan tetap menikah lagi. Nayla tetap tidak bisa membuat hatinya ikhlas, ia tidak mau dimadu. Tidak akan pernah siap dan mau.


Ammi sudah menelpon, memerintahkan agar Fahad segera ke Kashmir bersama Yasmin. Bukan Fahad tidak mau, ia merasa masih sebentar berada di New Delhi, pekerjaannya juga masih sangat banyak. Akan sangat tidak etis jika terlalu sering meninggalkan kantor.


Nayla membujuk Fahad, berulang kali ia memaksa suaminya untuk pergi ke Kashmir. “Pergilah, Fahad, kasihan Ammi.” Duduk berdua diatas ranjang, sejak tadi Nayla terus saja membahas tentang Kashmir. Membuat Fahad sedikit marah, namun semua itu ia tahan ... Fahad tau, Nayla pun terpaksa membujuknya pergi ke Kashmir. “Fahad, pergi, ya?”


Menatap kedua manik mata milik istrinya, sepersekian detik, Fahad melabuhkan ciumannya di bibir Nayla dengan lembut. Ia menarik tengkuk istrinya agar lebih mendekat lagi. Fahad hampir kehilangan kendali, jika saja istrinya itu tidak menggigit bibirnya ... mungkin ia sudah membenamkan diri di dalam tubuh Nayla. “Iya, aku ke Kashmir. Sudah, kan?” Fahad merapikan sebagian anak rambut Nayla yang menutupi keningnya. “Lusa aku pergi ke Kashmir, kamu—”


“Jangan lusa, besok saja!” tukas Nayla.


Fahad menaikkan satu alisnya, “kok, kamu yang heboh banget? Kenapa? Kamu di telpon Ammi?”


Nayla menggeleng. Ia berbohong. Ammi memang menelponnya, memintanya untuk membujuk Fahad agar segera pergi ke Kashmir. Bulir bening dari sudut mata Nayla selalu menetes setiap kali mengakhiri panggilan bersama Ammi. Menyuruh suaminya pergi ke Kashmir, sudah pasti membahas tentang pernikahan kedua Fahad. Istri mana yang tidak menangis jika dengan tangannya sendiri, ia harus memaksa sang suami untuk masuk ke gerbang pernikahan lain.


Fahad tetap pada pendiriannya, lusa ia pergi ke Kashmir, bersama Yasmin. “Kamu nggak apa, sendirian di sini?”


“Iya. Aku sudah hapal daerah sini, kok. Aku juga berani pergi ke mana-mana sendiri. Yang penting aku nggak keluar malam, kan?”


Fahad mengangguk, senyuman istrinya itu menular kepadanya. Kembali melanjutkan aktivitas ciumannya yang sempat terhenti tadi, Fahad membenamkan ciuman lebih dalam dan lebih menuntut lagi. Hingga beberapa saat kemudian, tubuh keduanya sudah penuh akan peluh keringat yang menandakan berakhirnya pergumulan malam itu. keduanya sudah berada di bawah selimut, Fahad menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Nayla. Mencium kening istrinya lama, lalu mendekapnya penuh cinta.


***


Dua hari sudah, sejak kepergian Fahad dan Yasmin ke Kashmir. Selama itu pula, Nayla tetap berada di rumah. Ia menikmati waktunya seorang diri, bertukar pesan dan suara, dengan Andi. Sanju dan Sahil mengajaknya keluar, namun Nayla menolak, ia ingin menenangkan diri. Melupakan semua yang terjadi.


Memakai pasmina berwarna maroon, Nayla sudah sia untuk keluar. Ia berencana untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan, seorang diri. Sebelumnya, ia sudah meminta ijin kepada Fahad. Suaminya itu mengijinkan dan memintanya untuk tidak pulang terlalu sore. Berdiri di lobby apartemen, Nayla menunggu taksi yang ia pesan. Fahad mengatakan, akan lebih aman jika menggunakan jasa taksi online.


“Ibu Nayla?” sapa Anand. Ia berdiri di samping istri dari atasannya itu sembari menepiskan senyumnya.

__ADS_1


“Anand, panggil Nayla saja. Jangan ibu.”


“Tapi kamu istrinya Pak Fahad, mana bisa aku memanggil namamu saja.”


Nayla tertawa kecil, “ini bukan di kantor, panggil nama saja.”


Anand mengangguk paham. Pria itu mengubur rasa ketertarikannya kepada sosok Nayla. Ingin mengenal lebih dekat, namun saat mengetahui bahwa wanita sederhana itu adalah istri dari atasannya, Anand segera mundur. Beruntung, masih sebatas ketertarikan ... belum rasa suka.


“Nggak kerja?” tanya Nayla.


“Ibuku datang, jadi aku ijin satu hari.” Anand menjawab.


Nayla pergi terlebih dahulu ketika taksi yang ia pesan sudah datang. Ia berpesan kepada sopir tersebut agar mengendarai dengan batas kecepatan normal. Mobil taksi memecah jalanan ibukota India yang sibuk. Seperti biasa, suara klakson menjadi musik pengiring sepanjang perjalannya. Nayla mulai memaklumi, percuma saja melayangkan protes, setiap orang punya gaya masing-masing dalam berkendara.


Memberi beberapa lembar uang sembari mengucapkan terima kasih. Nayla turun, dengan langkah pasti ia memasuki sebuah minimarket dan langsung menuju ke bagian rak sabun-sabun. Mencari merk sabun yang biasa digunakan suaminya, memasukkan satu botol shampoo ke dalam keranjang yang ia bawa. Terkadang, Fahad mengajaknya ke pasar di hari minggu. Namun, karena suaminya itu sedang berada di Kashmir, Nayla tidak berani pergi ke pasar seorang diri. Toh, suaminya itu juga tidak mengijinkan.


Minimarket tersebut tidak terlalu ramai, beberapa orang lebih suka berbelanja ke pasar atau toko di dekat rumah mereka. Nayla tidak. Ia tidak suka berbelanja ke pasar. Di Indonesia pun ia juga jarang ke pasar. Nayla lebih memilih membeli sayur dan kebutuhan lain di toko dekat rumah. Alasannya, sedikit banyak barang yang dibeli ... itu sudah cukup membantu pemilik toko—tetangganya—menyekolahkan anak-anaknya. Juga, Nayla tidak bisa mengontrol diri ketika di pasar. Di rumah, ia sudah berniat hanya membeli sesuatu yang dibutuhkan saja. Tapi begitu sampai di pasar, matanya tergoda ketika melihat banyaknya barang dapur yang unik-unik. Alhasil, ia pulang dengan barang yang sebenarnya tidak sedang ia butuhkan.


***


“Nyonya.” Suara seorang perempuan sayup-sayup terdengar di telinga Nayla. Perlahan ia membuka mata, menyesuaikan bias-bias cahaya yang menyambutnya. “Nyonya, apa masih pusing?”


Nayla dapat mengenali wanita dihadapannya ini dari jas putih yang melekat di tubuhnya. Seorang dokter. Nayla menjawab dengan gelengan kepala, ia mencoba untuk duduk dengan dibantu dokter tersebut. Menuntunnya untuk berjalan dan duduk di kursi pasien—meja kerja dokter. Ada seorang wanita cantik di sana yang tersenyum kepadanya. Wanita itulah yang menolongnya ketika ia tiba-tiba pingsan di minimarket, dokter yang mengatakan kepada Nayla.


“Maaf, boleh saya tau nama Anda?” tanya dokter tersebut.


“Saya Nayla.”

__ADS_1


Dokter tersebut mengangguk, ia tersenyum. “Kalau boleh saya tau, Anda sedang liburan atau memang tinggal di sini?”


Nayla mengatakan bahwa ia menikah dengan warga negara India. Ia tinggal di India belum ada dua tahun, oleh sebab itu Nayla belum memperoleh buku OCI (Overseas Citizenship of India). Sebuah buku mirip seperti pasport, di mana warga negara asing bisa mendaftarkan OCI setelah dua tahun pernikahan dengan warga negara India. Sebagian orang merasa kesulitan mengurus OCI, banyaknya syarat dan prosedur menjadi kendala disetiap pengurusan kartu tersebut.


Kartu tersebut bisa digunakan untuk kepentingan keluar masuk India dengan mudah dan tanpa memperpanjang ijin visa tinggal. Warga negara asing tetap tidak bisa memiliki kuasa untuk ikut andil dalam pemilu—membeli saham, membeli tanah, mendirikan perusahaan, atau lain sebagainya. Namun, dengan kartu tersebut, anak dari mix marriage bisa memperoleh hak waris dengan sah menurut undang-undang yang berlaku di India.


Pasport milik Nayla diminta oleh dokter, guna mengisi data-data yang dibutuhkan. Tak lupa, Nayla juga menyerahkan surat nikahnya, sebagai bukti bahwa ia sudah menikah secara sah dengan salah satu warga negara India.


“Fahad Malik Khan, dari Srinagar, Kashmir.” Dokter berucap, ia mengembalikan pasport dan buku nikah Nayla. Ia memberikan vitamin dan juga tanggal kontrol kandungan.


“Maksudnya, Dok?” bingung Nayla setelah mendengar dokter menyuruhnya memeriksakan kandungannya satu bulan lagi.


Dokter Shraddha tersenyum simpul. “Iya, Nyonya Khan, kandungan Anda sudah menginjak usia empat minggu.”


Bunga-bunga bermekaran di hati Nayla, seseorang yang ia tunggu akhirnya datang juga. Angin sejuk menyeruak memenuhi dadanya. Namun, tak lama, senyumnya mulai pudar tatkala ingatannya kembali memutar tentang pernikahan kedua suaminya.


Apa ini? Pertanda apa? Aku harus bagaimana?


Nayla dengan ditemani wanita yang menolong dan membawanya ke rumah sakit itu keluar ruang periksa bersama. Wanita itu menanyakan keadaan Nayla. “Maaf, apa kita bisa mengobrol sebentar?”


Nayla mengiyani, ia juga ingin berterima kasih kepada wanita itu yang sudah menolongnya. Jika tidak ada wanita tersebut, entah bagaimana nasibnya tadi. “Aku membawa mobil, kita ke cafe dekat sini saja, bagaimana?”


“Kalau aku nggak merepotkanmu lagi, oke-oke saja.” Nayla berujar.


“Enggak, Nayla. Ada sesuatu yang mau aku sampaikan.” Membuka pintu mobil, melaju meninggalkan area rumah sakit.


“Maaf, aku belum tau namamu.”

__ADS_1


Wanita dibalik kemudi itu tersenyum simpul, menoleh sebentar ke arah Nayla yang juga sedang tersenyum kepadanya. “Namaku Mahira.”


***


__ADS_2