Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 44


__ADS_3

“Duduk, Don, Yan.” Nita mempersilahkan.


Doni menyerobot untuk duduk di samping Sari—berada diantara Sari dan Nita. Masih ada satu kursi kosong, tepat di samping Nayla.


“Aku boleh duduk di sini?” tanya Ryan pada Nayla.


“Hah?” Nayla mengerjap, menatap kursi kosong lalu beralih kepada Ryan. “I-iya, duduk aja.” Ia sedikit menggeser kursinya. Mendekat kepada Nita.


Suasana berubah canggung, Nayla seakan tak bisa bergerak dengan leluasa. Mendadak gugup, tenggorokannya terasa tercekat. Berusaha bersikap biasa, ia menepiskan senyumannya ketika yang lain melempar pertanyaan.


“Kalian kenapa bisa tahu kita di sini?” seloroh Sari.


Doni menjawab, “aku dengar kalau kalian mau nongkrong. Ya, udah aku nyusul ke sini.”


Sari berdecak kesal, ia tidak menyangka Doni akan menyusul. “Kamu? Jelas-jelas kesini berdua sama Ryan, bisa-bisanya bilang sendiri.”


“Aku nggak tahu kalau ada kalian di sini. Tahu gitu aku juga nggak mau diajak Doni.” Ryan membela diri. Iya, jika saja ia tahu niat Doni ingin menyusul teman wanita mereka ... sudah pasti ia tidak akan mau. Lagi juga ada Nayla, ini semua diluar dugaannya.


Emang sialam si Doni. Tahu gini aku nggak mau ikut tadi. Gerutunya dengan kesal.


Ryan berpamitan, ia sangat tidak nyaman berada dalam satu meja bersama Nayla. Terlebih tempat duduk mereka sangat dekat. Ia tahu jika Nayla juga tidak nyaman.


Sementara Doni, ia tidak ikut bersama Ryan. Tetap asik mengobrol bersama Sari, Nayla dan juga Nita. Memang itu niatnya sejak awal, ikut bergabung.


Sari teringat akan ucapan Doni perihal Ryan yang menyukai Nayla. Ia pun bertanya, mencari tahu semuanya dari Doni.


“Ya, emang Ryan suka Nayla dari dulu. Masa kalian nggak ngeh, sih?”


Sari dan Nita saling pandang, mendengar ucapan Doni tentu saja membuat mereka berpikir keras. Dari dulu? Sejak kapan? Mereka merasa tidak ada yang aneh dari Ryan dan Nayla. Biasa saja.


Meletakkan garpu dessert, Doni melanjutkan ucapannya. “Kalian ingat-ingat lagi. Jam kerja Ryan pasti sama kan kayak Nayla? Kalau Nayla masuk pagi, dia juga masuk pagi. Dia udah minta jamnya kayak gitu sama Pak Manager. Untung dikabulin.”


Kembali berpikir keras, “iya!” seru Sari setelahnya. “Iya, benar. Dimana ada Nayla di jam itu, pasti ada Ryan juga. Kenapa kita nggak ngeh, ya, Nit?”


“Iya. Aku juga baru sadar.” Nita mengangguk paham.


“Nayla!” Sari menepuk bahu Nayla. “Kita lagi ngomongin kamu, pura-pura budek apa gimana, sih?” tanyanya dengan kesal.


“Aku dengar, kok. Aku dengar semuanya.”


“Kamu tahu? Kalau Ryan suka kamu?” Nita bertanya.


Nayla mengangguk. Saat itu, Ryan mengatakan bahwa ia mencintainya. Pria itu memang baik, selalu ada untuk dirinya. Tapi hati tak mungkin bisa berbohong. Tak ada rasa suka, rasa cinta di hati Nayla untuk Ryan. Ia lebih nyaman menjadi teman.


Lagi juga, saat itu ... Nayla tidak ingin memikirkan sebuah hubungan. Ia ingin fokus pada pekerjaan dan juga adiknya. Nayla meminta maaf, mengatakan lebih baik untuk berteman saja.


Sejak Ryan mengungkapkan rasa yang ada di dalam hatinya, Nayla berusaha untuk bersikap biasa saja—sama seperti Ryan. Tapi ia tidak bisa, rasanya sangat sulit berada dalam satu lingkungan pekerjaan dengan orang yang pernah mengungkapkan perasaan terhadapnya. Tiga hari setelah itu, Nayla menemui Pak Manager ... ia ingin mengundurkan diri. Tapi izin tidak ia dapat.


“Terus? Akhirnya gimana kamu bisa biasa aja setiap ketemu Ryan?” selidik Sari.

__ADS_1


“Ryan bilang sama aku, kalau aku nggak nyaman ... dia aja yang resign, cari pekerjaan lain,” ucap Nayla.


“Terus, terus?” penasaran Nita.


“Ya, aku bilang nggak perlu. Aku minta maaf karena buat dia jadi nggak nyaman. Sejak saat itu kita sepakat untuk jadi teman seperti sebelumnya, anggap aja nggak ada rasa suka ataupun apa. Memulai semuanya dari awal gitulah.”


Doni yang mendengar penuturan Nayla sama sekali tidak terkejut. Ia sudah mengetahui semuanya dari Ryan. Miris. Tapi cinta dan hati tak bisa dipaksa.


“Jadi bukan karena Fahad itu lebih kaya dari Ryan?”


“Sari!” Geram Doni. Ia menarik gemas rambut temannya tersebut. “Kamu kenal Nayla berapa hari, sih?! Bisa-bisanya nanya kayak gitu. Beg* dipelihara!”


Memberengut kesal, membetulkan rambutnya yang sedikit berantakan. “Aku cuma nanya doang, dimana salahnya?” seloroh Sari.


Nayla dan Nita tertawa melihat tingkah keduanya, “kayaknya nggak lama lagi kalian bakal nyebar undangan pernikahan,” kata Nayla.


“Ih, ogah! Masih banyak yang lebih cakep dari dia,” ketus Sari.


“Iya, masih banyak yang lebih cakep. Tapi yang lebih cinta sama kamu selain aku kan nggak ada.” Doni berucap dengan tangan yang kembali menarik rambut Sari.


“Jawab, Nay!” paksa Sari.


“Bukan karena harta, Sar, bahkan aku juga sempat nolak Fahad. Bukan sok jual mahal, bukan sok cantik. Aku minder sama dia, dia berpendidikan ... dari keluarga berada juga. Nah, aku ini siapa? Cuma pelayan restaurant. Tapi dia nggak nyerah gitu aja, dia bisa ngeyakinin aku kalau status sosial itu nggak penting buat dia. Yang penting hati. Dia nggak mau salah langkah lagi dalam berumah tangga,” tutur Nayla.


“Lagi?” Sari bertanya, “maksud kamu, dia duda?”


Nayla mengangguk. “Dan, ya ... mungkin ini jalan terbaik yang dikasih Allah. Nggak ada yang tahu, kan? Jodoh, maut, dan rejeki seseorang.”


***


Kembali ke rutinitas, kembali sibuk dengan segala pekerjaan. Hari ini agenda Fahad ialah; melihat kinerja para karyawan pabrik, menjelang siang ... ia baru akan kembali ke kantor.


Setelah kembali dari Indonesia, Fahad masih harus stay di New Delhi. Tak lupa ia mengabari Ammi, ia mengatakan akan terbang ke Kashmir dua, atau tiga hari lagi. Mengurus bisnis barunya, sungguh menyita waktu. Apalagi semuanya sempat tertunda sebab ia harus mengurus pernikahannya.


Suara dering ponselnya terdengar, dengan semangat ia merogoh saku celananya. “Ck! Aku kira Nayla yang telpon,” ketus Fahad. “Halo, ada apa?” sahutnya yang tak ramah sama sekali.


“Pengantin baru ini kenapa jadi marah-marah? Harusnya kamu bahagia, Fahad,” kata Sahil.


“Tadinya aku bahagia, begitu aku lihat nama kamu yang telpon jadi nggak bahagia.”


Terdengar decakan dari Sahil, “kamu udah di India?”


“Iya, kapan masuk kerja? Apa kamu minta dikirimi surat pemecatan?!” gertak Fahad.


Sahil tertawa, “besok aku mulai masuk kerja. Memangnya cuma kamu yang bisa honeymoon? Aku juga harus honeymoon, Fahad. Biarpun aku ini pengantin lama.”


Fahad tertawa mendengarnya.


“Di mana istrimu? Nggak mau ngenalin ke kita?” tanya Sahil.

__ADS_1


Fahad mengatakan bahwa istrinya berada di rumah, ia berjanji akan mengenalkan Nayla kepada Sahil dan juga istrinya, Sanjeeda.


Sahil dengan bersemangat mengatakan akan datang ke apartemen Fahad untuk bertemu sekaligus mengucapkan selamat atas pernikahan sahabatnya tersebut.


“Bawa Sanjeeda juga, jangan datang sendirian seperti pria bujang.” Fahad memperingatkan.


“Itu sudah pasti, karena percuma kalau aku bohong sama Sanjeeda. Kamu pasti ngadu sama dia.”


Mengakhiri panggilan, Fahad kembali berkeliling pabrik. Setelah itu ia kembali ke kantor. Kembali berkutat dengan dokumen-dokumen serta memeriksa pengajuan kontrak dengan beberapa investor.


***


Pukul sebelas malam, Nayla pulang dengan mengendarai motor. Ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan malam kota, masih banyak kendaraan berlalu lalang ... Nayla tidak merasa takut sama sekali.


Memasukkan motornya dengan perlahan agar tidak mengganggu Andi yang pasti sudah tertidur. Menutup pintu lalu menguncinya, Nayla dikejutkan dengan suara seseorang.


“Mbak.”


Nayla berjengkit kaget, tangannya berada di dada. Berharap jantungnya masih berada di tempat. “Ih, kamu! Ngagetin aja. Kirain udah tidur.”


Andi terkekeh, “maaf, aku juga kaget siapa yang buka pintu. Kirain maling.”


Berjalan masuk, Nayla menuang air putih ke dalam gelas lalu meminumnya. “Maling mana ada yang lewat pintu,” kata Nayla sembari menaruh gelas kembali ke atas meja. “Kok, belum tidur?” tanyanya.


“Lagi nungguin, Mbak, aku lapar.” Andi duduk di kursi meja makan, disusul Nayla yang duduk di depannya.


“Belum makan? Tumben. Kenapa?”


“Nggak ada duit buat beli.”


Jawaban Andi membuat Nayla tertawa, ia lupa tidak meninggalkan makanan di lemari pendingin sehingga Andi bisa memanasnya jika ia belum pulang. “Kan, ada mie instan sama sarden. Kenapa nggak masak itu aja?” tanya Nayla.


“Aku pengin makan sama, Mbak, bareng-bareng gitu.”


How sweet.


Nayla mengacak-acak rambut Andi yang semakin panjang itu dengan gemasnya. Ia melepas tas dan juga hijabnya, mencuci muka, tangan, serta mengganti bajunya terlebih dahulu. Baru setelah itu ia akan memasak sesuatu untuk Andi.


Nayla menyempatkan diri mengirim pesan kepada Fahad, namun sama sekali tak ada balasan dari suaminya tersebut. Ia membawa ponselnya ke dapur, meletakkannya di meja makan. “Goreng ikan sama sambal matah aja, ya? Biar cepet, udah tengah malam gini.”


Andi mengangguk, apapun yang kakaknya itu masak, ia pasti akan memakannya. Asal bukan kayu dan batu saja.


***


“Sialan kamu, Fahad! Katanya istrimu ada di rumah, tapi ini mana? Nggak ada di rumah.” Sahil dengan geramnya memaki Fahad. Ia dan Sanjeeda sudah datang dengan membawa hadiah serta bunga untuk Nayla, istri sahabat mereka. Tapi nyatanya tidak ada siapapun kecuali Fahad.


Fahad tertawa lepas, ia melihat wajah kesal kedua sahabatnya dengan puas. “Kamu tadi nggak dengar? Kan, aku bilang dia di rumah, bukan di apartemen. Ini apartemen, udah pasti dia ada di rumahnya.”


“Benar juga. Kamu aja yang nggak nyimak!” seru Sanjeeda kepada Sahil.

__ADS_1


***


__ADS_2