
Sepulang dari rumah Mas Reno dan Mbak Mita, Nayla menyiapkan makan malam. Dia menata makanan yang dibeli sepulang dari rumah Mas Reno tadi. Nayla memanggil Adik, suami serta putrinya untuk makan malam bersama.
“Sini, Jaanu, pangku mama.” Nayla menyuapi Shazia, selera makannya hilang begitu ia mendapat notifikasi dari salah satu akun media sosial miliknya.
“Kamu nggak makan, Sayang?” Fahad bertanya.
“Aku sudah makan,” jawab Nayla dengan nada datar tanpa melihat wajah sang suami.
Sontak kedua pria di depannya ini melihat dengan tatapan heran. Sikap hangat yang biasanya ia tunjukkan kini berubah. Andi dan Fahad saling pandang, Andi meminta jawaban dari sorot matanya Sementara Fahad, dia menaikkan kedua bahunya menandakan bahwa tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya.
Hening, selama makan malam tidak ada yang berbicara. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang saling bersentuhan serta ocehan dari Shazia. Seusai membersihkan meja makan dan mencuci piring, Nayla memilih masuk ke kamar. Shazia bermain di ruang tv bersama om dan juga papanya yang sibuk menatap layar komputer lipat milik mereka masing-masing.
“Mbak Nayla kenapa? Berantem lagi?” tanya Andi yang penasaran.
Fahad menggeleng, “enggak, kita nggak berantem. Aku juga nggak ngerti kenapa dia diem saja.”
Nayla di kamar tengah sibuk dengan benda pipih miliknya, dia melihat akun sosial media milik suaminya. Sangat banyak yang memberi like dan meninggalkan komentar di salah satu foto Fahad. Nayla tidak mengenal siapa yang berkomentar, dia hanya mengenal satu nama yang tertera di sana. Sahil. Sahil berkomentar, ia menulis super bruh.
Selebihnya, para wanita yang berkomentar. Ada sekitar dua puluh komentar. Dan mungkin saja akan bertambah lagi.
“Mama.” Shazia menyusul, balita cantik itu menghampiri mamanya dengan satu tangan mengucek mata.
“Anak mama udah ngantuk, ya?” Nayla mengangkat tubuh sang putri lalu membawanya keluar kamar menuju dapur untuk membuat susu.
“Sayang?” Fahad memanggil.
Nayla menyahut tanpa menoleh kepada Fahad. Dia berlaku dengan santainya.
“Ini kenapa, sih! Wanita suka banget ngode nggak jelas gitu. Nanti giliran didiamin bilangnya nggak peka, ditanya katanya suruh mikir sendiri. Ya Allah ... sungguh sangat special makhluk ciptaanMU itu.” Fahad bergumam. Dan gumaman tersebut terdengar seperti sebuah keluhan.
Andi tertawa mendengar gumaman kakak iparnya ini.
“Nggak usah ngeledek, nanti kamu juga bakal ngalamin hal yang seperti ini.” Fahad berucap.
“Dihh! Enggaklah. Aku orangnya baik dan peka sama cewek. Nggak usah dikode juga sudah tau apa maunya mereka.”
“Kalau ngerti kenapa bisa putus, hah?” Sindir Fahad.
“Yah, diungkit lagi. Kan, beda cerita, Fahad,” lesu Andi.
__ADS_1
Kini giliran Fahad yang menertawakan Andi yang masih dalam keadaan patah hati. “Senjata makan nyonya,” ucapnya.
“Tuan! Mana ada senjata makan nyonya!” seru Andi.
“Kalau mau bercanda, di luar aja. Zia mau tidur.” Nayla berjalan memasuki kamar seraya berucap dengan nada ketus.
“Warning!” celetuk Andi.
“Iya.” Fahad berucap lirih.
Pukul sepuluh malam, Fahad menyusul Nayla dan Shazia di kamar. Sementara Andi, dia sudah tertidur di sofa ruang tv. Fahad tak tega untuk membangunkannya.
Fahad mendapati Nayla yang sedang menyelimuti Shazia, membetulkan posisi guling kecil di samping sang putri agar dia merasa nyaman. Nayla dan Fahad memutuskan untuk mengajari Shazia tidur sendiri. Beberapa waktu yang lalu Fahad membelikan kasur tunggal balita dan menaruhnya di samping tempat tidur utama. Di New Delhi, Fahad dan Nayla sudah menyiapkan satu kamar untuk Shazia. Kamar tersebut belum terisi, sepulang dari Indonesia nanti mereka akan belanja kebutuhan kamar Shazia.
“Sayang, aku mau ngomong.” Fahad berucap lirih. Dia meraih pergelangan tangan Nayla dan menuntunnya untuk Dudu di tepi tempat tidur. “Lihat aku, Sayang.”
“Apa?” ketus Nayla.
“Kamu marah? Aku salah apa lagi?” Fahad bertanya.
Nayla mengambil ponselnya di meja nakas lalu menunjukkan sebuah foto kepada suaminya. “Nih, lihat!”
Nayla bukan hanya mendekatkan benda pipih itu pada wajah Fahad, dia bahkan menempelkan benda itu pada salah satu mata suaminya. “Memang sengaja!” Nayla memundurkan ponselnya.
Tuh, kan ... ngambek aja bikin gemes gini.
“Fotoku?”
“Bukan, foto tetangga.” Nayla masih dalam mode marah.
“Iya, aku tahu itu foto aku. Memang ada yang salah? Nggak ada, kan?”
Ck! Nayla berdecak kesal. Ia kembali menggeser layar benda pipih miliknya lalu menunjukkan deretan komentar dari entah siapa mereka. Mungkin para gadis, mama muda, kekasih orang, atau entahlah siapa saja mereka.
“Kamu cemburu?” Fahad menaikkan kedua alisnya.
“Bukan masalah cemburunya, Fahad!” Nayla menaruh benda pipih miliknya kembali ke meja nakas.
“Terus?”
__ADS_1
“Kamu kenapa upload foto telanjang dada seperti itu! Kamu suka kalau dilihat wanita lain dan dikomentari love love gitu? Terus banyak yang DM kamu. Kamu suka yang seperti itu?” keluar sudah keluh kesah yang sudah Nayla pendam sejak sore tadi.
Fahad mengulum bibirnya, ingin sekali dia tertawa melihat istrinya yang sedang cemburu. “Itu cuma sekedar rasa puas aku saja nunjukin hasil dari nge-gym. Berarti aku berhasil buat badan aku sixpack kayak artis-artis gitu.”
Nayla menghela napas lelah. “Kamu pikir, kamu itu Vijay Deverakonda? kamu itu Varun Dawan? Kartik Aryan? Shahid Kapoor?”
Artisnya mulai keluar semua. Fahad membatin.
“Kamu bukan mereka, Fahad!” geram Nayla. Kedua tangannya mengepal tepat di depan wajah suaminya.
Fahad tak dapat menahan tawanya, dia merengkuh tubuh Nayla ke dalam pelukannya. “Gemas banget sama istriku ini. Maaf, Sayang, aku sengaja posting foto itu. Biar kamu cemburu.”
Nayla yang tadinya berontak akan pelukan Fahad, kini terdiam menatap wajah sang suami.
“Iya, aku sengaja. Nih, lihat.” Fahad mengambil ponselnya, membuka sosial media miliknya lalu mengatur privasi postingannya menjadi private. “Dari pagi kamu bahas sosial media terus, jadi sekalian saja aku buat kamu cemburu.” Fahad mengurai pelukannya, menatap wajah sang istri yang masih terlibat kesal. “Aku minta maaf, aku nggak suka dan nggak akan upload foto telanjang dada lagi, Sayang.”
“Masa? Yakin, kamu nggak suka majang foto seperti itu?” Nayla memastikan.
“Aku suka, sih. Tapi istriku nggak suka. Jadi, aku nggak upload foto telanjang dada lagi. Aku lebih suka kamu yang lihat, bukan wanita di sosial media yang suka komentar nggak jelas.”
“Tapi mereka sudah lihat, mungkin mereka juga sudah screenshot foto kamu terus disimpan di galerinya, kan mereka bisa lihat setiap hari.” Bahu Nayla merosot lemah, dia tidak rela jika ada wanita lain yang melihat suaminya meskipun itu hanya sebuah foto.
“Mereka cuma punya foto. Kalau kamu sudah punya aku, kan?”
Nayla masih merengut kesal, dia sangat tidak suka jika Fahad menunjukkan otot tubuhnya pada orang lain. Wanita adalah makhluk yang tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya. Dia akan sangat cemburu pada prianya meskipun orang itu hanyalah seorang teman.
Fahad mengerti dan sangat mengenal istrinya. Dia tau jika istrinya itu sangat tidak menyukai pria yang suka mengambil gambar bertelanjang dada lalu mengunggahnya ke sosial media. Sama seperti istrinya, Fahad juga tidak akan rela jika ada pria yang melihat istrinya meskipun itu hanya sebuah foto. Fahad bersyukur, Nayla bisa memahaminya lebih dulu dan menghapus semua fotonya di sosial media. Dengan begitu, dia merasa sangat terbantu akan tanggungjawabnya sebagai seorang suami di akhirat nanti.
Seorang wanita bisa menarik empat pria kedalam neraka. Siapa saja mereka?
Mereka itu ialah; Ayah, suami, kakak laki-lakinya—walinya, dan anak laki-lakinya.
Oleh sebab itu, Nayla juga terus dan terus berusaha memperbaiki diri agar keempat prianya itu tidak masuk kedalam neraka yang disebabkan oleh dosanya. Tidak ada kata berhenti untuk belajar dan memperbaiki diri. Dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun, kita bisa belajar dari apa yang kita lihat, kita baca, kita dengar dan kita alami. Apapun yang kita lalui, selalu ada pembelajaran di dalamnya.
“Jangan marah lagi, aku sudah hapus fotonya. Sekarang mau tidur atau apa?” Fahad tersenyum penuh maksud.
Nayla mengedikkan bahunya. Sebuah ciuman mendarat di pipinya. “Aku tau kamu pasti capek. Tidur saja, tapi besok double, ya?” satu cubitan Fahad dapatkan tepat di perutnya.
***
__ADS_1