
Kritis. Itulah kondisi Nayla sekarang ini. Ia cukup banyak kehilangan darah. Dokter dibuat bingung, bagaimana bisa terjadi pendarahan saat tubuh Nayla sudah selesai dibersihkan, bekas robekan di jalan lahir juga sudah selesai dijahit.
“Boleh masuk, tapi mohon bergantian, Pak.” Dokter mengizinkan Fahad masuk setelah pria itu terus saja memaksa.
Duduk di kursi samping hospital bed, Fahad melihat dengan jelas wajah sang istri yang sangat pucat. Mencium kening Nayla, Fahad menangisi wanita yang sedang berjuang—tidak cukup berjuang saat melahirkan, kini istrinya harus berjuang melewati masa kritis. Dada Fahad terasa sangat sesak, seakan ada sesuatu yang menikam jantungnya. Ia raih tangan Nayla, menggenggamnya dengan lembut.
“Sayang, aku mohon jangan hukum aku seperti ini. Bangunlah, aku mohon bangun.” Ucapan Fahad terdengar pilu. Ada rasa penyesalan yang memenuhi seluruh ruang di hatinya. Istrinya selalu mengalah, semua Nayla lakukan agar ia tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang anak. Tidak. Sungguh Fahad tidak melupakan kewajibannya sebagai anak. Justru, Fahad merasa telah gagal menjadi suami—menjadi sandaran untuk sang istri. Hanya air mata yang ia berikan untuk Nayla. Hanya luka dan rasa pedih yang selalu menemani hari-hari Nayla semenjak menjadi istrinya.
“Kamu marah banget sama aku? Kamu nggak mau buka mata?” Air mata tak henti menetes. Fahad menunduk malu, bagaimana ia bisa sebegitu jahatnya sebagai seorang suami? “Maaf, maafkan aku. Aku janji nggak akan marah lagi kalau kamu nyuruh aku ke Kashmir, aku janji nggak akan bentak kamu lagi. Bantu aku, Sayang, bantu aku untuk tetap hidup. Kamu boleh hukum aku dengan cara apapun, tapi tolong jangan dengan cara seperti ini, Sayang, aku mohon ... jangan.”
Bangun, Mbak. Bangun! Jangan melakukan ini, aku mohon., Andi terduduk lemas. Menunduk, kedua tangannya menumpu kepalanya yang terasa sangat pusing. Melihat Fahad yang sangat frustasi, membuat Andi lebih menyadari lagi. Lelaki itu memang yang terbaik untuk kakaknya, tetapi kenapa rasa cinta itu harus dibayar Nayla dengan sangat-sangat mahal? Itu tidak adil. Kenapa harus kakaknya? Kenapa?
“Andi?” Mahira datang. Ia menepuk bahu adik dari temannya tersebut. “Kamu sedang apa di sini?” tanyanya.
Andi mendongak, wajah bingung Mahira menyambutnya. Menatap pintu ruang ICU, Andi tersenyum getir. “Mbak Nayla melahirkan, sekarang dia kritis.”
Mahira mengurungkan niatnya untuk menjenguk salah seorang teman. Ia mendaratkan tubuhnya di samping Andi. Kemarin, Mahira mengirim pesan kepada Nayla—menanyakan kabar seperti biasa. Namun, baru kali ini Nayla tidak membalas pesannya. Ada sedikit ketakutan di hatinya. Mahira tau, hari ini adalah hari pernikahan Fahad dan Benazir. Mendengar Fahad batal menikah, Mahira sangat bersyukur tentang hal itu. Tetapi, Nayla ... wanita itu tengah berjuang seorang diri di dalam sana.
Fahad keluar, ia meminta Andi untuk masuk. Adik iparnya itu pasti sangat mengkhawatirkan kakaknya. Fahad tersenyum melihat ada Mahira di sana—senyum yang disertai luka. Fahad mencoba menguatkan dirinya sendiri. Bahwa Nayla akan baik-baik saja. Semuanya akan kembali membaik.
“Nayla wanita hebat, Fahad, percayalah padanya.” Mahira mencoba memberi semangat. Fahad tidak akan bisa bertahan jika sesuatu yang buruk terjadi pada Nayla. Pria itu sangat mencintai Nayla. Selain kepergian Aadil, ini kali pertama Mahira melihat Fahad menangis. Semua itu sudah menjawab, Fahad sangat mencintai dan bertanggungjawab kepada Nayla.
__ADS_1
“Mbak, bangun.” Andi menyentuh jari jemari Nayla. “Kenapa tangan, Mbak, lemas? Biasanya tangan ini kuat banget mukul Andi.” Menghibur diri sendiri. “Mbak, nggak kasihan sama Fahad? Dia dari tadi nangis, Mbak. Bangun, jangan seperti ini.” Andi menyandarkan kepalanya di samping tangan Nayla, ia bermain dengan jari jemari kakaknya yang pucat itu. Andi takut sekali, takut jika mata Nayla tidak akan terbuka lagi. Bagaimana ia akan hidup tanpa Nayla?
“Mbak, maafin aku. Aku nggak bisa jaga, Mbak, nggak bisa menghapus air mata itu. Tapi, aku mohon ... jangan seperti ini. Bangun, Mbak.”
***
Fahad dan Andi tidak pulang. Mereka berdua bergantian menemani Nayla. Masih kritis, itulah Nayla. Fahad mengusap pipi Nayla, ia labuhkan ciuman singkat di kening istrinya tersebut. Sudah tengah malam, namun istrinya itu tak kunjung bangun, mata itu tetap tertutup rapat. Sebelumnya, Fahad sempat melihat bayi mungilnya—hatinya semakin takut melihat sang putri. Bayi itu bahkan belum sempat mendapat sentuhan dari ibunya. Saat bayi itu menangis, terpaksa susu formula menjadi satu-satunya cara agar putrinya berhenti menangis. Fahad tidak masalah untuk itu. Tapi, ia mengingat betul, istrinya selalu bercerita tentang dirinya yang akan menggendong sang putri, menyusuinya, mengasuhnya—tanpa bantuan siapapun.
“Aku bisa, kok, ngurus semuanya sendiri.”
Begitulah. Semangat dan ucapan Nayla. Sudah berulang kali Fahad menyuruh Andi untuk pulang terlebih dulu, namun adik iparnya itu menolak. Fahad tidak akan memaksa. Sangat wajar, jika Andi tidak ingin jauh dari Nayla. Selain dirinya yang hancur, Andi juga pasti hancur melihat kondisi Nayla yang kritis.
Fahad keluar, ia hendak meminta Andi untuk masuk—menggantikan dirinya untuk menjaga Nayla. Mata Fahad mendapati Andi yang tengah berbincang bersama dokter. Fahad menyela pembicaraan itu saat mendengar dokter mengatakan entah kapan Nayla akan membuka matanya.
“Maksud, Dokter?” tanya Fahad. Bayangan buruk berkeliaran di benaknya.
“Berdoa saja, Pak, semoga Ibu Nayla cepat sadar.” Dokter berlalu meninggalkan Andi dan Fahad yang termenung.
Dada Fahad terasa sakit, seolah tidak ada oksigen yang masuk ke paru-parunya. Sesak. Entah apa yang terjadi, Fahad tidak mengerti. Kenapa seperti ini? Apa Nayla benar-benar menghukumnya? Apa ini yang harus ia bayar akibat air mata yang selalu menetes dari mata sendu istrinya? Tidak. Fahad tidak akan membayar air mata itu dengan air mata. Fahad ingin membayarnya dengan kebahagiaan, dengan senyum dan tawa yang menghiasi bibir istrinya.
Andi menepuk bahu Fahad, mengatakan bahwa Nayla akan baik-baik saja. “Mbak Nayla itu kuat, Mbak Nayla pasti membuka matanya.” Andi juga sedang menguatkan hatinya. Ia tidak berhenti berharap, kakaknya pasti baik-baik saja. Pasti.
__ADS_1
Fahad mengangguk. “Kamu sudah makan?” tanyanya.
“Sudah. Sebelum Mahira pulang, dia ngajak aku makan.” Bohong Andi. Ya, Mahira memang mengajaknya makan sebelum wanita itu pulang. Tetapi Andi sungguh tidak bisa menelan apapun, lidahnya terasa kelu. Hanya air putih yang bisa masuk ke tenggorokannya.
Andi masuk ke ruangan Nayla. Ia duduk di sofa. Memperhatikan wajah pucat kakaknya. Hijab itu masih menutupi kepala Nayla, kakaknya itu pemalu. Sangat malu jika rambutnya terlihat oleh pria lain. Jauh-jauh hari sebelum melahirkan, Nayla sudah meminta kepada dokter agar hanya perawat perempuan yang ikut membantu persalinannya. Nayla juga berpesan kepada Fahad dan Andi. Bahkan, pesan itu terdengar mengerikan. Fahad dan Andi berulang kali mengatakan, bahwa mereka memahami apa yang diinginkan Nayla. Tetapi wanita itu masih saja mengatakan hal tentang kematian.
“Nanti jangan lupa ingatkan dokter, kalau cuma perawat dan dokter perempuan yang membantu aku melahirkan. Juga, kalau suatu saat aku dipanggil sama Allah, tolong jangan siarkan kematianku. Beritau keluarga dekat saja. Kalau aku sudah dikubur, baru siarkan. Hanya suami dan mahromku saja yang boleh memandikanku, jangan sampai ada orang lain. Lagi satu, kuburlah aku di malam hari. Akhlak dan ilmuku memang tidak seperti Fatimah Az-Zahra, tapi aku ingin menirunya untuk yang satu itu. Jadi, jangan lupa pesanku, ya.”
Pesan itulah yang selalu Nayla katakan kepada Fahad dan Andi. Mengingat kematian dari Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah, Nayla ingin dimandikan dan dikuburkan seperti beliau. Sehingga tidak ada yang bisa melihat tubuhnya. Akan sangat memalukan jika sudah meninggal, namun tubuh dengan mudahnya menjadi santapan mata siapa saja yang bukan suami dan juga mahromnya.
***
“Nayla. Kamu bangun?” Fahad tersenyum lega. Ia bisa melihat istrinya itu duduk sembari menepiskan senyuman kepadanya. “Kamu masih pucat, jangan duduk dulu.” Fahad menyentuh pergelangan tangan Nayla, ia hendak mengajak istrinya untuk kembali berbaring di tempat tidurnya. Tetapi ia berhenti, menyadari bahwa tempat dimana ia duduk adalah tempat yang asing.
“Kamu kembali, ya. Jaga anak kita, beri dia nama apapun yang kamu suka.” Nayla berucap.
Fahad mengerutkan keningnya. Heran. “Kita jaga anak kita sama-sama, Sayang. Sekarang ayo kita pulang.” Ajaknya.
Nayla menggeleng keras. Tempat itu sangat nyaman, Nayla mengatakan tidak ingin kembali. “Di sini memang tempatku, Fahad, aku nggak bisa ke mana-mana lagi.” Berdiri, Nayla menyentuh satu sisi wajah Fahad dengan lembut. Tangannya sangat dingin, Fahad bisa merasakan itu. “Jaga anak kita, rawat dia dengan baik. Selama sembilan bulan, Allah percayakan dia berada di rahimku. Sekarang, Allah percayakan dia bersamamu.” Nayla tersenyum simpul, ia melangkah pergi—semakin lama, semakin jauh.
Fahad berteriak, memanggil nama sang istri. Mencoba mengejarnya, namun kaki itu terasa berat, seakan ada yang mencegahnya untuk beranjak dari tempat ia berdiri sekarang ini. Nayla tidak mengindahkan panggilannya, wanita itu terus saja berjalan tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
__ADS_1
***