
Menghela napasnya dengan kasar, “iya, tunggu bentar. Andi pesan dulu.”
Nayla mengambil lebih dulu ponsel Andi yang tergeletak di meja lalu menyembunyikannya dibalik tubuh.
“Mbak!” sungut Andi. “Katanya mau seafood, sini hapenya, Andi pesenin.”
“Jangan pesan, Mbak mau kamu yang beli. Kalau pesan kan tambah lama.”
Oh, tidak! Kesabarannya mulai diuji lagi. Andi meraup kasar wajahnya, “ya, udah,” ucapnya dengan terpaksa. “Andi beli sendiri.” Ia beranjak berdiri, mengambil jaket di kamar lalu keluar rumah. Belum sampai ia menyalakan motor, Nayla kembali memanggilnya dan merengek ... meminta ikut.
“Makan di sana aja,” kata Nayla.
“Allahuakbar, Mbak Nayla!” geram Andi. Ia ingin marah, tapi saat sorot mata sendu kakaknya itu mulai memerah, kemarahannya pun ia redam. “Ya, udah, pakai jaket sana!” perintah Andi.
Dengan wajah sumringah, Nayla memakai jaketnya lalu naik ke atas motor.
Sesampainya di restaurant, Andi kembali dibuat kesal sebab Nayla meminta makanannya untuk dibungkus. Bukan satu atau dua makanan, kakaknya itu memesan makanan yang cukup banyak.
Memijat pelipisnya yang teras pusing, akhirnya Andi kembali bagus meredam emosinya—menuruti keinginan Nayla.
“Ada yang aku dibeli lagi nggak?” tanya Andi sebelum ia menyalakan motornya.
Nayla menggeleng, “nggak ada. Yuk, pulang.”
Melajukan motornya dengan kecepatan sedang, Andi tak henti menggerutu dalam hati. Kesal akan sikap kakaknya yang berubah-ubah. Untung saja Nayla tidak berubah menjadi pribadi yang suka nyinyir. Huh! Entah naik berapa level lagi sikap menjengkelkan kakaknya itu.
Nayla masuk, ia melangkah ke dapur untuk mengambil piring. Dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya, Nayla membuka satu persatu makannya yang berjumlah empat menu tersebut.
Namun tak lama senyumnya pudar tatkala melihat Andi yang berjalan masuk ke kamar. Panggilannya sama sekitar tak dihiraukan. Beranjak berdiri menyusul Andi, Nayla berkata selembut mungkin ... mengajak adiknya untuk makan malam bersama.
“Andi nggak lapar, Mbak, makan sendiri aja sana!” ketusnya.
“Andi ...,” suara manja Nayla. “Kalau kamu nggak makan, Mbak juga nggak mau makan.”
“Mbak—”
“Ya, udah. Aku buang aja makanannya.” Nayla melangkah keluar dari kamar Andi dengan kesal. Tangannya hendak membungkus kembali makanan tersebut, namun Andi sudah terlebih dahulu menghentikannya.
“Sini duduk,” perintah Andi. “Mbak, maaf kalau Andi udah bikin kesel, bikin jengkel, bikin—”
“Enek!” tukas Nayla yang sontak membuat Andi tertawa kecil mendengarnya.
“Maaf, sini coba buka mulutnya, Andi suapin.” Nayla pun membuka mulutnya, menerima suapan udang dari adiknya. “Jangan marah-marah terus. Andi bingung harus gimana. Mbak, nggak biasanya kayak gini.”
“Mbak juga nggak tahu, kenapa kayak gini. Mbak, suka nyuruh-nyuruh kamu.”
Andi berdecak kesal, “kalau itu udah dari dulu!” sungutnya. “Suka nyuruh, suka merintah seenak dengkul sendiri. Tapi ini beda, Mbak, kayaknya beneran hamil, deh.”
Nayla terbatuk-batuk. Tangannya menerima ukuran gelas air putih dari Andi. Meneguknya hingga separuh. “Pelan-pelan makannya, nggak ada yang ngerebut,” ujar Andi.
__ADS_1
Sampai lupa, aku tadi udah beli tespack. Besok pagi coba aku test**, batin Nayla.
Menghabiskan makan malam bersama dengan saling menyuapi, berharap tidak ada jarak yang memisahkan mereka. Ya, layaknya sepasang kekasih. Mereka selalu terlihat mesra. Tak jarang banyak orang yang mengira bahwa mereka bukanlah saudara. Saling memberi perhatian tak sungkan mereka tunjukkan di depan umum—sebab mereka sudah terbiasa dengan hal tersebut.
***
Pagi yang cerah, kabar bahagia ... sungguh, tiada agi seindah ini bagi Nayla. Dua garis terlihat jelas, senyumnya lebar sempurna. Bulir bening di mata sendunya menetes dengan sendiri. Hatinya bersorak bahagia.
Aku hamil. Aku hamil.
Kembali ke kamar, ia berniat mengabari suaminya. Ia yakin, Fahad pasti akan bahagia mendengarnya. Meraih benda pipih yang tergeletak di ranjang, mencari kontak nama suaminya.
“Enggak, aku nggak boleh telpon Fahad sekarang. Seminggu lagi dia ke sini, aku mau kasih tahu dia langsung.”
Kembali meletakkan ponsel, mengurungkan niatnya. Ya, Nayla memutuskan seperti itu. Ia ingin Fahad menjadi orang pertama yang tahu tentang kehamilannya.
“Habis dapat lotre, Mbak?” tanya Andi yang sedari tadi melihat kakaknya tersenyum ketika sarapan bersamanya.
Nayla mengangkat wajahnya, “lebiu dari sekedar lotre malah,” kata Nayla.
“Apa?” selidik Andi.
“Tunggu seminggu lagi, nanti kamu tahu sendiri.”
Andi mengernyit heran. Seperti mendung yang datang tiba-tiba, pun dengan suasana hati Nayla juga berubah-ubah. Biarlah, yang terpenting pagi ini ia tidak dibuat jengkel.
Bekerja seperti biasa, Nayla masuk sift pagi. Dan siangnya ia sudah berniat untuk pergi ke dokter kandungan.
Nayla berusaha tersenyum, Fahad tidak bersamanya tak masalah, sebab ia memang belum memberitahunya. Jika ia sudah memberitahu, tentu Fahad akan menemaninya.
“Ibu Nayla,” namanya dipanggil.
Nayla beranjak berdiri, “iya, saya.”
Setelah beberapa saat diperiksa, Nayla sudah kembali duduk di kursi—depan meja kerja dokter.
Menanyakan nama suami dan keberadaannya, dokter menyarankan agar Nayla tidak bepergian seorang diri. Sebab usia kehamilan di trimester pertama seperti ini sangatlah rawan. Janin masih terlalu lemah.
Nayla mengatakan bahwa seminggu lagi suaminya akan datang.
Dokter mengangguk perlahan, “baiklah, Bu, yang penting tetap berhati-hati. Kehamilan memasuki usia 25 hari, atau hampir memasuki usia satu bulan. Perkembangan janinnya bagus, sehat. Saya hanya akan memberi vitamin dan obat penguat kandungan, Bu. Jangan terlalu lelah dan jangan stres,” tutur dokter kandungan tersebut.
“Tapi, Dok, kenapa saya nggak ngerasa mual?”
“Kehamilan setiap orang berbeda-beda, Bu, memang kebanyakan wanita hamil akan mual-mual di trimester pertama. Tapi ada juga yang tidak, bahkan ada yang dari trimester pertama sampai akhir masih mual-mual.”
Nayla mengangguk, mengerti apa yang di jelaskan dokter tersebut.
Selesai, Nayla pulang dengan mengendarai motor seperti biasa. Hatinya sangat bahagia. Mengetahui janinnya dalam keadaan sehat, juga kabar bahwa suaminya akan datang seminggu lagi. Ia sungguh gak sabar menanti hari di mana ia menjemput suaminya di bandara. Memeluk pria yang sangat ia rindukan. Pria yang menjadi ayah dari anak-anaknya.
__ADS_1
Menghentikan motornya di area pemakaman, Nayla berziarah ke makam kedua orang tuanya.
Bapak, Ibu. Kali ini Nayla kesini sama cucu kalian yang masih ada di perut.
Iya, Pak, Bu ... Nayla hamil. Maaf Nayla kesini tanpa suami Nayla, menantu kalian yang paling tampan. Nayla tersenyum, dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.
Nayla janji, Nayla pasti kesini lagi sama suami Nayla.
Ia berlama-lama duduk di samping makam. Berbagi kebahagiaan bersama kedua orang tuanya. Hingga suara dering ponsel dari Andi membuat ia memutuskan untuk segera pulang. Terdengar dari suaranya, Andi begitu khawatir sebab kakaknya tak kunjung pulang.
***
Dua hari kemudian
Sinar matahari pagi yang hangat memeluk Nayla yang tengah duduk di kursi taman. Setelah membuatkan kopi panas untuk Andi, meletakkannya di meja makan, ia berangkat ke taman kota seorang diri. Menghabiskan hari liburnya.
“Mbak, dimana?!” seru Andi begitu Nayla menerima sambungan telepon dari adiknya tersebut.
“Di taman. Ada apa?” tanya Nayla.
Andi mengatakan bahwa ia akan menyusul, meminta Nayla untuk tetap di tempat. Agar ia lebih mudah untuk menemuinya.
Tak butuh waktu lama, Andi sudah sampai di taman. Berjalan mencari kakaknya. Melihat kakaknya yang duduk seorang diri, Andi mempercepat langkahnya menghampiri Nayla.
“Udah sampai?” tanya Nayla begitu Andi mendaratkan tubuh di sampingnya.
“Belum. Andi masih jalan kaki dari sana!” ketus Andi.
Nayla tertawa, memberikan sebotol minuman penambah ion tubuh kepada adiknya. “Kan, hari Sabtu, tumben udah bangun?”
“Ya, tadi niatnya mau tidur lagi. Tapi Andi nggak dengar suara ribut di dapur, makanya nyariin,” ucap Andi. “Lagian ini masih pagi banget, Mbak, kenapa nggak ngajak Andi, sih?” tanyanya.
“Ngapain ngajak-ngajak kamu? Biasanya Mbak juga pergi sendiri.”
“Ya, emang, tapi Andi pengen nemenin Mbak aja.”
Mengacak-ngacak rambut Andi, ia dibuat gemas dmakan ucapan adiknya. Sedikit heran, akhir-akhir ini Andi lebih perhatian kepadanya. Andi memang perhatian, tapi Nayla merasa ... perhatiaan Andi kali ini lebih banyak daripada sebelumnya.
Setelah puas menikmati udara taman di pagi hari, Andi dan Nayla pun memutuskan untuk pulang. Keduanya berjalan beriringan, menyeberang jalanan yang sudah mulai ramai.
Andi sibuk melihat ponsel, membuat gandengan tangannya terlepas dari Nayla.
Dan ...
Braakk!!
Suara hantaman mobil itu terdengar sangat keras. Para pengunjung taman berteriak meminta tolong.
“Darahnya banyak banget, cepat bawa ke rumah sakit!” teriak salah satu orang yang juga mengerubungi seseorang yang tergeletak lemah di pinggir jalan, sesaat setelah mobil itu menghantam dirinya.
__ADS_1
***