
Nayla sudah mempersiapkan hatinya untuk berpisah dari Fahad. Ia membangun keberanian itu sudah dari beberapa bulan yang lalu, sebelum ada kabar tentang kehamilannya. Kini, hanya tinggal satu bulan lagi perkiraan hari persalinan, ia justru dibuat lemah oleh rasa cinta itu. Hatinya tidak bisa berbohong. Ia butuh Fahad. Ia butuh pria itu untuk selalu bersamanya. Benazir. Gadis itu masih sangat muda. Mungkin usianya tidak terpaut jauh darinya. Melihat Fahad bersama Benazir sangat melukai hatinya. Perih sekali. Bahkan air mata itu sulit keluar karena sudah terlalu dalam sakit yang ia rasakan.
“Mbak, tolong jelasin, ada apa? Siapa Benazir itu? Kenapa Mahira marah banget sama dia?” cerca Andi. Ia meminta penjelasan akan kebingungan yang ia dapatkan.
Nayla menunduk, jari tangannya meremas tepian ranjang—sakit, sakit sekali. “Andi, mbak mau sendirian dulu. Bisa tolong kamu keluar sebentar?” pintanya dengan lirih. Matanya penuh harap agar Andi memberinya waktu. Seperti dugaannya, Andi tidak akan memberinya waktu. Adiknya itu terus saja melontarkan pertanyaan, meminta penjelasan.
“Sayang.” Fahad datang. Ia berjongkok di depan Nayla. Meraih jari jemari wanita itu. Kata maaf yang terucap dari bibirnya. “Aku bisa jelasin semuanya, Sayang, aku mohon. Aku nggak tau kenapa dia ada di New Delhi. Aku bisa pastikan, nggak ada pernikahan lagi. Percaya sama aku.”
Andi meradang. Kedua alisnya saling bertaut, air muka yang tadinya bingung itu kini dibuat marah. “Maksdunya apa ini?!” serunya.
“Andi, tolong kembali ke kamar kamu.” Nayla memerintah.
“Enggak. Maaf, Fahad, aku harus ikut campur. Maksudnya apa? Pernikahan apa? Ada apa ini?” Andi memaksa.
Fahad menunduk pasrah, ia mengatakan semuanya kepada Andi. Tentang dirinya yang harus menikah lagi, tentang dirinya yang sebulan lagi akan menikah, tentang Benazir ... gadis di mall tadi. Itulah calon istri keduanya. Nayla terdiam, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Fahad!” Andi mencengkeram kerah kemeja Fahad, membuat pria itu berdiri. Tanpa ampun, Andi melayangkan pukulan ke wajah kakak iparnya tersebut. “Aku percayakan Mbak Nayla, tapi kamu justru membuatnya menangis!” Memukul, mendorong Fahad hingga terjatuh. Membuatnya berdiri, lalu memukul lagi. Semua Andi lakukan tanpa ada perlawanan sedikitpun dari Fahad.
“Andi, jangan!” Nayla menangis. “Sudah, Andi, dia suami Mbak Nayla. Stop!”
“Suami? Mbak, bilang suami?!” Andi berhenti memukul, namun tangannya masih mencengkeram kerah kemeja Fahad. “Dia nggak pantas jadi suami, Mbak Nayla. Dasar pecundang!” lagi. Pukulan ia layangkan bertubi-tubi. Terlihat darah segar keluar dari ujung bibir dan hidung Fahad. Tidak! Andi tidak peduli. Jika saja membunuh orang tidak berdosa, sudah pasti ia akan melenyapkan Fahad dari muka bumi ini. “Dia nggak pantas buat, Mbak Nayla! Dia banci, banci!” Andi berteriak. Ia hempaskan tubuh Fahad ke lantai.
“Andi, jangan!” Nayla menahan tubuh Andi yang hendak memukul Fahad lagi. “Jangan. Mbak mohon jangan. Sudah, Andi, sudah.” Ia peluk tubuh yang bergetar penuh amarah itu.
“Mbak, tapi dia—”
“Jangan, Andi.” Nayla menggeleng, masih dengan air mata yang tak berhenti mengalir. “Dia masih suamiku, Andi. Mbak, mohon ... jangan.”
__ADS_1
Andi menghela napasnya dengan kasar. Ia melepas pelukan Nayla. Amarahnya tidak surut, namun sorot mata Nayla menghancurkan semua niatannya untuk memberi pelajaran kepada Fahad. Andi memilih memukul tembok, meninggalkan bekas darah di sana. Keluar, ia membanting pintu kamar Nayla dengan keras.
Nayla mendekati Fahad, ia membantu suaminya untuk berdiri dan duduk di sofa. Tangisannya semakin menjadi begitu ia melihat wajah suaminya yang babak belur. Darah masih saja mengalir dari sudut bibirnya. “Kenapa kamu diam, saja? Kenapa kamu nggak lawan Andi?” tanya Nayla yang dijawab gelengan kepala oleh Fahad. Beranjak berdiri, Nayla keluar kamar. Ia mengambil es batu dan handuk kecil, serta kotak P3K dari laci nakas ruang tengah.
Nayla membersihkan darah di sudut bibir Fahad dengan cairan pembersih luka. Fahad mendesis kesakitan ketika kapas itu menyentuh bibirnya. “Sakit?” tanya Nayla yang dijawab gelengan kepada oleh Fahad. “Jangan diam, Fahad, aku takut.” Nayla menangis lagi.
Fahad tersenyum, mengambil kapas dari tangan Nayla lalu membuangnya. Ia menghapus air mata Nayla, melepas hijab yang sejak tadi masih melekat sempurna di kepala istrinya itu. “Jangan menangis, aku baik-baik saja.”
“Kenapa kamu nggak ngelawan Andi? Kamu berdarah.”
Fahad mendekap tubuh Nayla. “Aku memang pantas, Sayang, aku dengan senang hati menerima apapun yang Andi lakukan. Aku juga berharap kamu melakukan hal yang sama seperti Andi tadi. Aku siap menerimanya.” Fahad meringis kesakitan saat ia mencium kening Nayla, bibirnya yang terluka sangat sakit ketika bersinggungan dengan kulit wajah sang istri. “Pergi ke Andi, dia butuh kamu.” Perintah Fahad.
“Kamu beneran nggak apa?” Nayla memastikan.
Fahad mengangguk. “Dia lebih terluka daripada aku, Sayang, dia butuh kamu.”
***
“Andi.” Nayla masuk dengan membawa kotak P3K. “Sini, mbak obati luka kamu.” Nayla meraih pergelangan tangan Andi. Namun, adiknya itu menghempaskan tangannya. Menyuruhnya untuk keluar. “Andi.” Panggil Nayla dengan lembut.
Andi duduk, ia tidak bisa menolak kakaknya—meskipun rasanya ia juga ingin sekali memarahi Nayla.
Nayla membersihkan darah di punggung tangan Andi. “Sayang tangan kamu, Andi, lain kali jangan, ya.” Nayla berucap.
“Mbak, kenapa diam saja? Ayo, sekarang pulang ke Indonesia.” Andi meminta. Andi tidak tahan melihat air mata kakaknya, ia merasa gagal melindungi Nayla. “Fahad itu brengsek, Mbak, dia nggak pantas dapat, Mbak Nayla. Aku yang tanggung jawab sama hidup, Mbak, dan anak ini nanti. Aku janji, Mbak, aku pasti bisa.
Nayla tersenyum, masih menunduk—mengobati luka Andi. “Fahad nggak salah. Ini juga buka kemauan dia. Tapi Ammi sama bibi.” Nayla memberi jeda ucapannya, ia menghela napas panjang. “Dulu, rencananya mbak mau pulang ke Indonesia dan ngurus surat cerai. Tapi, mbak hamil. Jadi mbak tunda dulu sampai anak ini lahir nanti. Sebulan lagi, Andi ... sebulan lagi semuanya sudah selesai.”
__ADS_1
“Dulu? Berarti semua ini sudah lama?” Andi marah. “Selama itu, Mbak, nggak bilang apa-apa sama Andi. Selama itu, Mbak, nangis dan sendirian di sini. Cukup, Mbak!” Andi hendak berdiri, namun Nayla sudah lebih dulu menahan tangannya.
“Andi, mbak tau kamu peduli dan sayang. Tapi, mbak nggak bisa pergi tanpa ada izin dari Fahad. Tunggu satu bulan lagi, Andi. Mbak pasti pulang dan pisah dari Fahad.”
Menatap lamat-lamat wajah Nayla, Andi tau ... kakaknya masih mencintai Fahad. Pria itu bisa meraih hati dan cinta dari Nayla. Dari situ ia percaya bahwa Fahad sudah pasti akan membahagiakan kakaknya. Namun, nyatanya Fahad tidak memberi kesempatan air mata Nayla kering. Hati Andi merasa perih. Kakaknya sangat baik, tidak pernah menyakiti siapapun, apalagi Ammi—Ibu mertuanya. “Kalau ini bukan kemauan Fahad, kenapa dia diam saja, Mbak? Pernikahannya juga satu bulan lagi, itu berarti dia juga menginginkan pernikahan ini. Mbak, mau dimadu?”
Nayla menggeleng. “Andi, Fahad nggak mungkin bisa nolak perintah Ammi. Fahad selalu bilang iya. Mbak juga nggak bisa berbagi suami. Maka dari itu, mbak milih mundur. Karena sampai kapanpun, Fahad pasti nggak bisa nolak perintah Ammi.”
“Pecundang! Egois!” Andi mengumpat. “Kalau dia nggak bisa ambil keputusan sendiri, kenapa dia berani nikah?! Alasan apa yang mengharuskan Fahad menikah lagi? Bukannya, semua keluarga dia sudah setuju dan suka sama, Mbak? tanyanya.
Nayla memilih tidak menjawab. Tidak akan baik jika mengatakan alasannya kepada Andi, adiknya itu bisa saja melakukan hal menakutkan yang lebih dan lebih lagi. “Sudah, luka kamu bisa tambah parah kalau marah-marah terus.” Selesai membalut luka Andi dengan perban. Nayla beranjak berdiri, ia hendak membuatkan minuman untuk suami dan juga adiknya.
Kembali ke kamar Andi dengan dua cangkir teh diatas nampan. Nayla duduk di samping Andi—di tepi tempat tidur. Menaruh satu cangkir di nakas, Nayla melihat luka di tangan Andi lagi. “Terima kasih, ya, kamu sudah hajar Fahad sampai dia berdarah.”
Andi melirik tajam, “Mbak, nyindir aku? Mbak, nggak terima aku mukulin dia?” sungutnya.
Nayla terkekeh, ia mengacak-acak rambut adiknya. “Enggak. Mbak senang kamu hajar dia. Tapi jangan lagi, ya, dia masih suami mbak.”
“Tadinya aku mau bunuh dia sekalian.”
“Jangan. Mbak nggak mau kehilangan dua pria sekaligus. Kamu dan Fahad itu berharga banget.” Menepuk bahu Andi, Nayla beranjak berdiri.
“Mbak?” Andi meraih pergelangan tangan Nayla. “Ayo pergi.” Pintanya.
Nayla tersenyum, ia menyentuh wajah Andi. “Sabar, ya. Mbak menikah baik-baik, berpisah pun juga harus baik-baik. Temani mbak di sini, selain anak ini ... kamu juga kekuatan mbak.”
Andi menatap kepergian kakaknya. Air mata itu menetes dari sudut matanya. Kakaknya itu masih bisa tersenyum setelah apa yang terjadi. Air mata Nayla yang ia lihat hanya hari ini. Tak terbayangkan, rasa cinta itu harus dibayar dengan air mata yang sejak berbulan-bulan lalu menemani Nayla.
__ADS_1
Mbak, Andi nggak yakin bisa nahan diri Sudah cukup. Aku bersumpah, aku bisa berbuat yang lebih lagi.
***