
Wanita itu tergeletak dengan darah yang mengucur dari kepala, hijabnya penuh akan noda darah. Pula dengan darah yang terlihat keluar dari pangkal pahanya. Wanita itu memakai celana training berwarna merah muda, sehingga terlihat jelas bahwa itu bukanlah air. Melainkan darah.
“Mbak ini pendarahan, berarti dia hamil. Tahan pengemudi mobil itu, biar dia nggak kabur,” kata seseorang. “Mbak ini harus segera dibawa ke rumah sakit.”
Tubuh Nayla sangat lemah, ia masih sadar. Matanya masih terbuka, pandangannya terlihat samar. Ia meringis kesakitan, nama Andi terus saja ia panggil dengan lirih.
“Mbak Nayla.” Andi berdiri, ia berjalan dengan sempoyongan mendekati Nayla. Dengan dibantu beberapa orang yang memapahnya, ia bisa sampai ditempat tubuh Nayla terjatuh. “Mbak,” tangannya meraih jari jemari Nayla, memangku kepala kakaknya. “Mbak, jangan tutup matanya. Buka terus. Mbak, kuat.”
Tak peduli darah yang keluar dari siku serta pelipisnya, Andi menahan rasa sakit demi Nayla. Ia terus saja berkata agar Nayla tetap terjaga.
“Cepat! Mbak ini lagi hamil,” lagi kata seseorang yang ikut membantu mengangkat tubuh Nayla masuk ke mobil si penabrak—yang akan membawanya ke rumah sakit.
Andi melihat pria yang berkata tadi lalu beralih menatap Nayla yang meringis menahan sakit di perutnya. Ya, Andi melihat tangan kakaknya tetap berada di perut. Hingga ia sadar, bahwa kakaknya memang sedang hamil karena terdengar samar-samar suara Nayla yang mengatakan anakku.
“Andi, sakit,” rintih Nayla.
“Mbak, buka terus matanya. Mbak, kuat. Tahan, Mbak, tahan terus.” Andi duduk di kursi belakang mobil dengan memangku kepala Nayla. Ia genggam satu tangan kakaknya yang semakin lemas.
“Andi, perut Mbak sakit. Anakku, dia anakku.”
Suara Nayla hampir tak terdengar, Andi terus saja membantu Nayla agar tetap terjaga. Ia peluk Nayla, ia sentuh perutnya, “Mbak, kuat. Dia nggak kenapa-kenapa. Mbak, buka mata, ya, jangan takut.”
Pria yang mengaku Nayla dan Andi terlihat sangat ketakutan, ia raup wajahnya berkali-kali. Ia meminta maaf kepada Andi, namun ucapannya sama sekali tak digubris.
Andi masih berusaha membuat Nayla terus terjaga, memeluinya seakan takut itu adalah hari terakhirnya bersama Nayla.
Sampai di rumah sakit, Nayla segera di bawa ke ruang UGD. Andi sangat khawatir melibat tubuh Nayla di atas
bed hospital yang menghilang di balik pintu. Seorang perawat menghampirinya untuk memberi pengobatan pada lukanya. Namun Andi terus saja menolak, ia tidak ingin meninggalkan Nayla seorang diri.
“Iya, kakak anda sedang diberi perawatan. Sekarang ikut saya sebentar untuk mengobati luka di pelipis dan siku, Bapak. Daritadi darahnya tidak berhenti keluar, kalau tidak dibersihkan bisa infeksi, Pak.”
“Enggak, Sus!” seru Andi. “Saya mau di sini nunggu kakak saya. Lebih baik, Suster, pergi!” usirnya dengan kesal.
Bukan Andi tak merasakan sakit, sekujur tubuhnya pun sudah mulai lemas. Pandangannya kabur, kepalanya terasa pusing. Luka di pelipisnya cukup dalam dan lebar, maka sudah pasti darah yang keluar tidaklah sedikit.
Butuh waktu yang cukup lama untuk membujuk Andi, ia menurut untuk ikut setelah mendengarkan ucapan suster yang mengatakan bahwa Nayla membutuhkan adiknya yang sehat. Yang sudah selesai diberi pengobatan dan bisa menjaganya nanti.
__ADS_1
Melihat luka yang cukup dalam, dokter memutuskan untuk tidak menjahit ataupun menutupnya dengan perban. Lukanya hanya dibersihkan. Melihat tubuhnya yang semakin lemas, serta keinginannya untuk tetap bersama Nayla, Andi diberi obat bius oleh dokter agar ia juga bisa beristirahat untuk sementara waktu.
Setelah Andi benar-benar dalam pengaruh obat bius, dokter memerintahkan suster untuk segera menghubungi keluarga pasien. Beruntung ponsel Andi masih berada disaku celananya—memudahkan suster untuk menghubungi keluarganya.
***
Mas Arif datang bersama Mas Irfan, mereka berjalan ke ruang rawat Nayla setelah bertanya ke bagian resepsionis. Tepat sekali dokter yang merawat Nayla baru saja keluar dari UGD, ia pun menjelaskan keadaan pasiennya.
“Begini, Pak, saudara Andi sekarang masih dalam perawatan kami, luka di kepalanya cukup dalam. Kami memutuskan untuk tidak menjahitnya.”
“Dan Nayla, Dok?” tanya Mas Arif.
“Maaf, Pak, kami sudah berusaha. Kami tidak bisa menyelamatkan janinnya—”
“Janin? Nayla hamil?” tukas Mas Irfan.
“Ya.” Dokter mengangguk. “Sepertinya tubuhnya terpental cukup keras, kondisi tubuhnya juga cukup bagus. Luka di kepalanya yang masih kami pantau . Nanti malam hasil r**ontgennya baru akan keluar.”
Ada penyesalan di hati kedua kakak Nayla, mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa adik mereka sedang hamil. Mengutuk tidak pekanya mereka terhadap adik, membuat keduanya menyesali atas apa yang terjadi kepada Nayla.
“Maaf, apa suami Ibu Nayla bisa segera datang? Kami membutuhkan tanda tangannya.” Dokter berujar.
“Baiklah, silakan ikut suster.”
Mas Arif juga meminta bantuan kepada suster untuk menghubungi Fahad, karena ia sama sekali tidak bisa bahasa Inggris. Dan sudah pasti Fahad belum mengerti sepenuhnya Bahasa Indonesia.
Nayla dioperasi, dan hanya Mas Arif yang menunggu di depan ruangan tersebut. Sementara Mas Irfan, ia duduk di samping Andi yang belum sadarkan diri.
Lima jam berlalu, Nayla sudah dibawa ke ruang perawatan. “Nayla.” Mbak Indah memandang adik iparnya tersebut dengan rasa iba serta rasa bersalah. Adik iparnya sedang hamil, dan dia juga sedang jauh dari suaminya. Entah bagaimana nanti jika Fahad mengetahui apa yang terjadi pada istri dan calon anaknya.
Telinga Andi samar-samar mendengar pembicaraan Mas Irfan dan Mas Arif. Perlahan ia membuka mata, nama Nayla yang pertama ia panggil.
“Andi,” kata Mas Arif.
“Mbak Nayla mana, Mas?” tanyanya dengan lirih.
“Nayla lagi istirahat di ruang rawatnya. Kamu jangan banyak gerak, Mas panggil suster dulu.” Mas Irfan keluar, memanggil perawat yang berjaga di jam tersebut.
__ADS_1
“Mas, maaf, lukanya belum cukup kering. Jadi jangan duduk untuk sementara waktu. Nggak apa, ya? Nggak pakai bantal. Biar darahnya nggak keluar,” pesan suster kepada Andi.
Setelah suster keluar, Andi melontarkan pertanyaan kepada Mas Arif dan Mas Irfan tentang keadaan Nayla. Ia ingin menemui Nayla, namun tubuhnya memang sangat lemah. Ia tidak punya cukup tenaga untuk bangun.
Mas Irfan mengatakan Nayla baik-baik saja, dan Fahad juga masih dalam perjalanan setelah suster berhasil menghubunginya beberapa saat yang lalu—ya,sangat sulit menghubungi Fahad. “Nggak usah khawatir, ada Mbak Indah yang jaga Nayla. Kamu istirahat aja.”
“Mas, Mbak Nayla hamil. Tadi—”
“Iya,” tukas Mas Arif. “Mas udah dikasih tahu sama dokter tadi.”
Andi menutup matanya, ia ingat betul bagaimana kecelakaan yang menimpa ia dan kakaknya. Teriakan orang, air mata Nayla, serta kesakitan yang dirasakan kakaknya dibagian perut.
Membuka matanya dengan cepat, ia menyorot Mas Arif yang duduk disampingnya. “Mas, perut Mbak Nayla tadi sakit. Apa ...,” tak sanggup rasanya melanjutkan kalimat. Ia pun sudah mendapat jawaban dari anggukan kepala dari Mas Arif.
Sudut hatinya sakit. Sangat sakit. Jika saja ia yang dihantam mobil, jika saja ia tidak sibuk dengan ponselnya ... maaf, Mbak, maafin Andi.
***
“Dingin ...,” suara lirih Nayla.
Mbak Indah menyelimuti tubuh Nayla, namun hawa dingin masih saja dirasakan adik iparnya tersebut. Ia mengambil jaketnya dan jaket suaminya yang tergeletak di sofa untuk menutup tubuh Nayla agar semakin hangat.
“Mbak.” Nayla membuka mata, dan hanya kakak iparnya yang ia dapati.
“Iya, kamu mau apa, Nay?” tanyanya yang tidak dijawab apapun oleh Nayla.
“Andi?” tanya Nayla setelah beberapa saat ia diam.
“Kata Mas Arif, Andi udah sadar. Tapi dia belum boleh bangun, badannya masih lemah. Nanti dia pasti ke sini.”
Satu tangan Nayla bergerak menyentuh perutnya, air matanya menetes. Perutnya masih terasa sakit, ia sudah menduga kalau ia pasti keguguran. Suami. Ia bahkan belum sempat mengatakan kehamilannya kepada Fahad.
Baru tiga hari yang lalu ia tahu tentang kehamilannya, namun sekarang semuanya sudah berakhir. Ia tidak bisa merasakan tumbuh kembangnya lebih lama. Air mata tak henti mengalir. Ia merasa kecewa pada dirrinya sendiri yang tak bisa menjaga apa yang sudah Allah percayakan.
“Nay.” Mas Arif datang setelah Mbak Indah mengirim pesan kepadanya. Menyentuh lembut ujung kepala adiknya, “sabar, Nayla, Allah tahu mana yang terbaik. Belum sekarang, mungkin nanti.”
Nayla tersenyum simpul—seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Padahal. Ia begitu sakit. Tanpa mengatakannya, tentu Mas Arif dan Mbak Indah tahu bagaimana perasaan Nayla. Sakit, kecewa, hancur. Tapi apa mau dikata? Semua sudah takdir. Hanya sang pencipta yang bisa membolak-balikkan nasib seseorang. Kita hanya berdoa dan berusaha, sisanya ... Allah-lah yang menentukan.
__ADS_1
***