Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 13 S2


__ADS_3

New Delhi, India.


Fahad dan Sahil berjalan beriringan masuk ke sebuah klub malam. Hingar bingar musik up beat dan binar cahaya yang tidak terlalu terang itu membuat keduanya kesulitan mencari letak ruang VIP. Beruntung, ada seorang staf yang menghampiri mereka.


“Mari, Tuan, saya antar ke ruang VIP. Tuan Ajay sudah menunggu,” ucapnya. Fahad dan Sahil mengikuti langkah staf tersebut.


Setelah pintu terbuka, keduanya disambut oleh si empunya acara. Keduanya duduk di sofa double yang terdapat di ruangan tersebut. Seorang wanita sexy menghampiri keduanya dan menyuguhkan sebotol anggur.


“Maaf, aku tidak minum alkohol. Bawakan aku jus atau minuman bersoda saja,” tolak Fahad dengan halus, Sahil pun sama. Mereka tidak ingin kehilangan kesadaran di tempat itu. Lagipula, minuman itu juga dilarang oleh agama. Sementara Sahil, ia mengikuti saja apa ucapan temannya itu. Jika tidak ada Fahad, mungkin dia akan meminumnya.


Pesta tersebut bertujuan untuk merayakan kerjasama antara perusahaan Fahad dan Tuan Ajay yang berkembang di dunia industri pangan. Mereka mencapai kesepakatan awal dengan cukup baik dengan melebarkan usaha mereka ke negara Asia lain seperti Filipina, Singapura, dan Malaysia. Ya, Tuan Ajay memang sudah lebih dulu menanam saham di perusahaan di tiga negara tersebut. Dan sahamnya juga lumayan besar.


“Maaf, Nona, bisakah anda pergi dari sini? Saya merasa tidak nyaman,” ujar Fahad. Ia sangat risih dilayani seorang wanita dengan pakaian kurang bahan tersebut. Dengan isyarat tangan dari Tuan Ajay, wanita tersebut pun pergi. Tuan Ajay mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal yang lebih dekat dengan Fahad.


“Kita tidak sedang berada di kantor sekarang, apa aku boleh memanggil kalian dengan nama saja?” tanya Tuan Ajay.


“Tentu, Ajay, lagipula kita sepertinya seumuran. Jadi panggil nama saja.” Sahil menambahkan.


“Apa kalian tidak menikmati pesta ini? Kenapa kalian justru meminta minuman soda kaleng daripada anggur ini.” Tuan Ajay menunjukkan segelas anggur yang berada di tangannya.


“Tidak, bukan seperti itu. Aku cuma—”


“Dia sudah berjanji pada istrinya untuk tidak minum,” tukas Sahil.


Sialan kamu, Sahil!


Tuan Ajay bertanya lebih lanjut. “Aku kira kamu belum menikah. Dan, kenapa aku tidak pernah melihat istrimu di acara kantor dan undangan pesta?” Melihat ekspresi wajah Fahad, Ajay mengerti ada yang salah dengan pertanyaannya. “Maksudku, bukan pesta seperti ini. Misalnya pesta di hotel atau di tempat tertentu,” sambungnya.


“Istriku tidak terlalu menyukai pesta, dia memilih mengurus putri kami.” Fahad menjawab, senyuman anak dan istrinya tiba-tiba saja melintas di pelupuk mata. Ah, rindu sekali rasanya.


Tak lama, teman Tian Ajay yang lain juga datang. Saling berkenalan, mereka duduk dengan obrolan yang menurut Fahad sangat tidak penting. Obrolan seputar wanita dan tempat hiburan.


“Maaf, apa kalian semua belum menikah?” cetus Fahad.


Tuan Ajay menjawab bahwa ia memang belum menikah, dan dua temannya yang lain sudah menikah namun belum memiliki anak.


“Dan, Sahil?” tanya Rishi.


“Aku ingin menjawab belum, tapi ada Fahad disini. Dia bisa mengadukannya pada istriku nanti.”


“Dasar bodoh!” umpat Fahad kepada Sahil, membuat semua orang tertawa.


“Aku dan istriku sedang menjalani program hamil, setelah melihat anak Fahad dan Nayla, istriku sangat ingin memiliki seorang anak.” Sahil menambahkan.


“Nayla?” tanya Ajay.


Fahad yang baru sadar nama istrinya disebut itupun seketika menginjak kaki Sahil. Membuat sahabatnya itu meringis kesakitan.


Sial! Kenapa dia menyebut nama istriku disini.

__ADS_1


Bukan Fahad ingin menyembunyikan identitas istrinya dari dunia luar, selain itu memang keinginan Nayla, Fahad tidak ingin istrinya menjadi konsumsi publik, tidak ingin istrinya dipandang oleh pria lain. Nayla hanya miliknya, cukup ia yang melihat pesona istrinya.


 ***


Pagi sebelum acara pembukaan butik.


“Halo?”


Nayla melihat kembali layar ponselnya, benar ia menghubungi nomor sang suami. Nama Fahad tertera jelas disana.


“Ini siapa?” tanya Nayla.


“Maaf, Tuan Fahad, masih tidur.”


Oh! Apa ini? Suara wanita lain. Siapa? Berbagai pertanyaan tiba-tiba muncul di benaknya. Nayla terduduk lemas di samping Shazia yang bermain di baru saja selesai ia pakaian baju. Tangannya bergetar, buliran bening jatuh dari ujung matanya.


“Halo?”


Tanpa menjawab, Nayla mematikan sambungan telponnya. Ia mencari kontak nama Yasmin lalu memanggilnya. Nayla mencoba menanyakan keberadaan suaminya, dan jawaban Yasmin semakin menambah rasa takutnya. Suaminya belum pulang. Semalam, jelas-jelas Fahad berpamitan akan datang ke undangan pesta yang diselenggarakan di sebuah klub.


Ada di mana Fahad?


Siapa wanita yang menerima panggilannya tadi?


Apa mungkin ...?


Tidak, Nayla tidak ingin berpikiran buruk. Lebih baik menunggu penjelasan suaminya saja. Itu lebih baik.


***


Nayla selesai mengemas bekal makan siang untuk Andi dan juga Reza. Hari ini, Andi akan sibuk di studio. Dan malamnya, adiknya itu ada jadwal pemotretan di tempat lain. “Mbak nggak bisa bawa mobil, Andi, nanti naik taksi saja. Lagian, mbak sudah kasih tau Tia kalau nanti sore baru ke butik. Mbak mau beres-beres rumah dulu,” alasan, yang sebenarnya adalah ... Nayla ingin menenangkan hatinya terlebih dulu. Sejak kemarin, sejak panggilannya kepada Fahad dijawab oleh seorang wanita, suaminya itu belum menghubungi lagi. Mengirim puluhan bunga mawar putih, Nayla tidak bisa disogok hanya dengan bunga-bunga itu. Nayla butuh penjelasan, bukan bunga atau apapun itu.


“Kalau gitu, nanti malam aku jemput di butik.” Nayla mengangguk, mengiyani ucapan adiknya. “Bye, gembul!” Andi mencium kedua pipi keponakannya dengan gemas. Lambaian tangan serta senyuman Shazia mengantar Andi untuk memulai aktifitasnya hari ini.


Menatap layar ponselnya yang damai sejak pagi. Tidak ada motivasi pesan atau dering panggilan dari sang suami. Senyuman palsu Nayla tepiskan untuk Shazia, putrinya itu sibuk bermain dan sesekali menatapnya dengan binar kebahagiaan. Apa benar, suami tidak bisa setia jika berada jauh dari istrinya? Bukan sekali-dua kali mereka berjauhan seperti ini. Tapi, kenapa baru sekarang ini ada sesuatu yang tidak beres. Nayla mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, ia menonaktifkannya, percuma saja menunggu telpon dari Fahad. Nayla ingin sendiri terlebih dahulu, tidak ada gunanya berharap mendapat penjelasan dari suaminya.


***


Duduk di balik meja kebanggaannya. Akhirnya Fahad bisa menyelesaikan pekerjaan yang menyita waktunya sejak kemarin. Satu dokumen yang baru saja diantar oleh Alina selesai ia periksa dan tanda tangani. Sekarang adalah waktunya untuk menghubungi sang istri.


“Kok, nggak nyambung?” gumamnya.


Dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali ... tidak ada tanda-tanda panggilannya tersambung. Andi pun sama, sudah tiga kali Fahad mencoba menghubungi adik iparnya tersebut, namun panggilannya tak kunjung diterima.


“Kakak?” Yasmin masuk ke ruang kerja, membawakan makan siang untuk Fahad. “Sesuai permintaan, aku juga bawa jus—”


“Apa kakak iparmu telpon?" tukas Fahad.


Yasmin menggeleng. “Ah, tunggu,” dia teringat sesuatu. “Kemarin pagi kakak ipar telpon, dia nanya suaminya ada di mana.”

__ADS_1


“Terus?" penasaran Fahad.


“Ya, pas aku ke kamar ternyata kakak belum pulang. Habis itu kakak ipar nggak telpon lagi.” Yasmin menata makan siang di meja sofa, satu persatu ia taruh di piring. “Mungkin kakak ipar lagi sibuk, kemarin kan butiknya baru resmi dibuka. Kakak ipar juga ngirim baju hasil desainnya buat aku dan Yumna. Cantik, deh. Warnanya, kainnya, model—”


“Yasmin! Berhentilah bicara,” keluh Fahad. “Kakak sedang pusing.”


Yasmin tersenyum kikuk, ia menghampiri kakaknya dan menaruh satu botol jus tepat dihadapan Fahad. “Kak, boleh tanya?” tanyanya yang hanya dibalas sorot mata dari pria yang sedang pusing memikirkan istrinya tersebut. “Apa, Kakak, nggak kasih hadiah buat kakak ipar? Hadiah untuk kerja keras dia buka butik itu.”


Fahad berdecak kesal. “Kakak nggak sebodoh itu, Yasmin. Kemarin kakak sudah kirim puluhan bunga mawar putih.”


Yasmin mengangguk paham. Ia tau apa alasan kakaknya memilih memberi mawar putih daripada perhiasan atau semacamnya. Kakak iparnya tidak menyukai perhiasan, bahkan ... di tubuhnya saja hanya ada satu cincin pernikahan dan kalung, serta anting-anting kecil. Sangat berbeda. Jangankan memakai perhiasan yang berlebihan, untuk menyimpan saja kakak iparnya itu tidak mau. Maka tak heran, di rumah tidak ada kotak perhiasan yang berjajar rapi di laci-laci lemari.


***


Waktu menunjukkan pukul empat waktu Indonesia barat. Nayla dan Shazia sudah berada di dalam taksi, mereka hendak menuju ke butik. Di perjalanan, Shazia sangat antusias melihat lalu lalang kendaraan dari balik jendela. Tangannya tak henti menepuk kaca, Masya Allah ... putrinya ini sangat menggemaskan.


“Kenapa, Pak?” mobil berhenti.


“Sebentar, Mbak, saya lihat dulu. Sepertinya, bannya bocor.”


Nayla ikut turun, benar saja. Ban mobil tersebut bocor. Terpaksa, ia harus mencari taksi lain. Akan memakan waktu lebih lama jika menunggu supir taksi itu mengganti ban. Shazia mulai rewel, putrinya merasa kepanasan. “Sebentar, Jaanu, mama ambil hp dulu.” Nayla kesulitan meraih ponselnya di dalam tas. Tidak ada pilihan lain, ia harus mengaktifkan ponselnya, walaupun sebenarnya ada rasa sakit saat melihat ponselnya dalam mode aktif. Suaminya masih belum menelponnya, sekedar menjelaskan siapa wanita yang menerima panggilan telponnya kemarin pagi.


“Nay?”


“Ya?” Nayla menoleh. Oh, ada Ryan. Tunggu, Ryan? Nayla mengedipkan matanya berkali-kali.


“Kamu mau ke mana?” Ryan bertanya.


Pertanyaan itu pun berlanjut dengan tawaran memberi tumpangan kepada Nayla. Sama seperti dulu, Nayla sangat susah mengatakan kata ‘iya’. Bukan karena mencari kesempatan, Ryan hanya tidak tega meninggalkan Nayla menunggu taksi lain di sore hari yang cukup panas ini. Terlebih, Shazia yang sudah berada digendongannya ini sedikit rewel karena kepanasan. Jika ini memang sebuah kesempatan untuk dirinya bisa menghabiskan waktu bersama Nayla, tentu dia tidak akan menyia-nyiakannya.


Ya. Tidak ada lagi yang bisa Nayla lakukan, putrinya ini tidak mau diambil dari gendongan Ryan. Shazia justru melingkarkan kedua tangannya di leher lelaki itu.


“Mata kamu kenapa, Nay?”


“Hah?” pertanyaan dari Ryan membuat Nayla sadar dari lamunannya. “Mata? Matanya siapa?”


Ryan tersenyum simpul. “Mata kamu, Sa— ... eemm, maksudku mata kamu, Nay.”


Oh, sial! Hampir saja aku memanggilnya sayang. Ayolah, Ryan, berhenti dan sadarlah. Ryan memaki dirinya sendiri. Entah apa yang ada di pikirannya, sehingga muncul sebuah panggilan sayang.


“Mataku nggak apa-apa, kok. Kenapa memangnya?” Nayla bertanya.


“Sedikit bengkak dan kemerahan. Nangis apa sakit?” selidik Ryan.


Nayla mencoba mengalihkan pembicaraan, tidak pantas jika ia mengatakan yang sebenarnya kepada orang lain. Bagaimanapun, Nayla akan menyembunyikan apa.yang memang seharusnya disembunyikan. Urusan rumah tangganya bukan untuk konsumsi orang lain, terlebih ... ada sedikit cerita diantara dirinya dan juga Ryan. Bukan dia yang menulis cerita itu, tetapi Ryan. Dan sampai sekarang, Nayla merasa cerita itu masih tersusun rapi, namun entah dimana.


“Bye, Om.," Shazia melambaikan tangannya kepada Ryan setelah lelaki itu memeluk dan menciumnya.


Suasana butik cukup ramai, semua karyawannya sibuk dengan para pelanggan. Nayla berjalan masuk menuju ruang pribadinya, ia akan menaruh Shazia agar bisa bermain bebas di dalam sana.

__ADS_1


***


__ADS_2